Hi Neng Koala. Perkenalkan nama saya Lenny. Saya ingin berbagi cerita mengenai pengalaman saya tinggal di negeri kangguru melalui Australia Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP) atau yang dikenal juga dengan nama Program Pertukaran Pemuda Indonesia Australia. Program ini merupakan kerjasama Kementerian Pemuda dan Olahraga Indonesia serta Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia. Program diadakan selama 4 bulan (2 bulan di Australia dan 2 bulan di Indonesia) yang terdiri dari 18 pemuda pemudi Indonesia dan 18 pemuda pemudi Australia. AIYEP memberikan kesempatan bagi para pemuda Indonesia dan Australia untuk mendalami budaya serta cara hidup masing-masing negara. Tujuan dari program ini adalah terbentuknya mutual understanding yang lebih baik di antara kedua negara.

Awal perkenalan saya dengan AIYEP yaitu ketika tahun 2005. Saat itu saya berdomisili di Batam – Kepulauan Riau untuk menempuh kuliah di jurusan Sistem Informasi di Universitas Internasional Batam (UIB). Pada mulanya sahabat saya yang satu kos dengan saya berhasil menjadi peserta AIYEP di tahun 2008. Sejak saat itu perkenalanku dengan AIYEP makin intens. Saya selalu mendengar curhatan dan proses yang harus dilalui sahabat saya sebelum keberangkatan hingga pada akhirnya kembali ke tanah air lagi. Saya sangat terinspirasi olehnya. Begitu banyak perubahan positif yang terjadi pada sahabat saya sehingga mendorong saya untuk ikut merasakan pengalaman hebat itu. Paling tidak saya mencoba, itu pikir saya. Ketakutan saya yang terbesar bukanlah gagal tetapi penyesalan. Dan saya tidak mau itu terjadi di kala batasan umur yang diterapkan oleh program AIYEP yakni 21-25 tahun.

Sekitar akhir bulan Maret tahun 2009, saya putuskan untuk ikut seleksi yang diadakan oleh PCMI (Perkumpulan alumni program pertukaran pemuda) yang bekerjasama dengan Dinas Pemuda dan Olahraga provinsi. Di Kepulauan Riau, sebelum diadakan seleksi, PCMI akan melakukan roadshow ke kampus kampus serta menayangkan iklan di media cetak tentang seleksi. Yang berminat dapat mengambil form pendaftaran untuk diisi dan dikembalikan kembali. Selanjutnya anda diharapkan hadir di waktu yang telah ditentukan untuk seleksi berikutnya.

Program AIYEP dimulai ketika saya dan 17 pemuda pemudi bertemu di Jakarta untuk melakukan Pre Departure Training (PDT) selama 1 minggu. Kami diberikan materi materi terkait program yang bakal dijalani. Tidak lupa kami berlatih untuk persiapan pertunjukan seni yang nanti akan dibawakan. PDT diakhiri dengan audiensi ke kantor Menpora untuk bertemu Pak Andi Mallarangeng dan juga pertunjukan seni paling pertama di depan publik yakni di Kantor Kedutaan Australia di Jakarta.

Keesokan harinya kami telah tiba di Bribane Australia (Ps: setiap tahun daerah yang dikunjungi akan berubah ubah). Kami berada di Brisbane (fase kota) selama kurang lebih 3 minggu, 1 minggu di Noosa untuk Mid-visit Break dan 3 minggu di Roma (fase desa). Kegiatan yang kami lakukan antara lain:

  1. Host Family

Masing masing peserta tinggal bersama orang tua angkat. Ada kalanya satu orang tua angkat mendapatkan 2 peserta AIYEP. Ada juga yang hanya 1 seperti saya. Ini pertama kalinya saya punya orang tua angkat bule. Meraka pun tidak kalah excited dengan kita. Di hari pertama, saya masih merasa canggung mengikuti segala ”aturan” dalam keluarga. Misalnya saja kebiasaan mandi orang Australia yang hanya beberapa menit dan itupun harus meninggalkan toilet dalam keadaan kering dan rapi seperti semula. Tetapi itu mereka lakukan atas dasar rasa peduli terhadap penghematan air. Lama kelamaan saya pun menjadi terbiasa. Banyak hal positif yang dapat dipelajari dari mereka. Contohnya mereka sangat disiplin dan menghargai waktu. Makan malam menjadi momen yang paling saya tunggu karena kita saling menanyakan kegiatan di hari itu dan bercanda bersama. Dari kebersamaan ini, kita dapat mengetahui kebiasaan kebiasaan mereka dan begitu juga sebaliknya. Seperti orang Indonesia sangat suka sambal, orang Australia suka BBQan, alpukat di Indonesia adalah buah bukan sayur dan lain sebagainya.

  1. Work Placement

Untuk menentukan tempat magang, kita akan diberikan kuesioner mengenai tempat kerja yang diinginkan maupun hal apa saja yang ingin kita pelajari. Kita dapat memilih sesuai latar belakang pendidikan maupun minat kita. Tidak semua tempat magang akan menerima kita sehingga kita harus bisa benar benar berbesar hati. Magang kerja dilaksanakan setiap hari selasa – jumat sesuai jam kerja yang berlaku (biasanya jam 8-5 sore). Karena ini magang, kita tidak mendapatkan gaji /upah.

  1. Pertunjukan seni

Pertunjukan seni dilakukan pada hari senin sesuai jadwal yang telah diberikan. Tetapi bisa juga dalam satu minggu ada 2 kali melakukan pertunjukan. Misalnya ada acara khusus maupun permintaan dari orang lain. Kebanyakan pertunjukan seni diadakan di sekolah – sekolah. Adapun materi yang ditampilkan tergantung dari masing – masing angkatan. Yang jelas selalu ada tari saman di tiap penampilan πŸ˜€

  1. Courtesy Call

Courtesy Call adalah kunjungan resmi ke pemerintahan maupun pemangku kepentingan yang terkait dalam program AIYEP seperti ke kantor Menpora, Kantor gubernur, konsulat jendral RI dan sebagainya. Yang menarik jika kita melakukan Courtesy Call di Australia, suasananya terasa tidak begitu formal. Acara pun berlangsung singkat dan padat. Setelah itu, diadakan coffee break dimana kita langsung dapat berbaur dengan orang – orang penting tersebut.

Setelah fase Australia selama kurang lebih 2 bulan berakhir, saatnya kami dipertemukan dengan 18 pemuda pemudi Australia. Dengan ini lengkaplah sudah 1 angkatan utuh AIYEP 2010-2011. Sayangnya ada 1 orang yang tidak dapat mengikuti program dikarenakan sakit sehingga kami hanya ber-35 orang menuju Indonesia.

Fase Indonesia tidak jauh beda dengan yang saya paparkan di atas. Fase kota ada di Kendari – Sulawesi Tenggara dan fase desa di Wakatobi. Bedanya fase desa yang pertama kali diadakan. Di fase desa tersebut tidak ada work placement namun diganti dengan community development (pemberdayaan masyarakat). Ibaratnya KKN jika kita kuliah. Kita pun terbagi bagi dalam beberapa divisi sesuai minat masing masing agar dapat fokus dalam satu bidang.

Di fase indonesia kita dipasangkan dengan 1 orang peserta dari Australia (sesama jenis) atau yang kita sebut counterpart. Layaknya pasangan sungguhan, kemana mana kita nyaris selalu bersama. Di fase kota di Indonesia, ketika magang pun kita berada dalam satu kantor. Ini cara yang sangat efektif untuk saling mengenal cara hidup orang Australia. Kita punya banyak waktu untuk berdiskusi dan bercerita mengenai pribadi masing masing dan juga tentu membantu mereka jika kesulitan dalam berbicara bahasa indonesia maupun memahami tentang budaya Indonesia.

Tak terasa program pun berakhir di minggu ketiga Februari tahun 2011. Sungguh waktu yang singkat untuk belajar dari program ini. Saya benar –Β  benar menikmati segala proses dan kegiatan yang dialami. Sebelum keberangkatan, saya pikir saya akan mengalami homesick. Ternyata saya salah. Suka duka yang kami lalui bersama teman teman, keluarga angkat, rekan kerja dan lain lain telah membawaku pada sebuah keluarga baru AIYEP 2010/2011. Dan ketika satu persatu peserta telah pulang ke asalnya, saya baru merasakan kerinduan. Kami menamakannya AIYEP sick.
Ayo bagi teman teman sekalian yang ingin menjadi bagian dari pengalaman sekali seumur hidup ini, silahkan cek website AIYEP disini

Pemilihan untuk mengikuti program ini biasanya berlangsung di bulan Maret. Jadi jangan lupa untuk sering update atau menanyakan info ini ke kantor Dispora terdekat.
Juga jangan sungkan sungkan bertanya pada saya yah.

Terima kasih.

Cheers,

Lenny

Email : lenny.kepri@yahoo.co.id