Sekolah di luar negeri merupakan impianku sejak kecil, aku bahkan tidak bisa mengingat dengan tepat, sejak kapan? Mungkin sejak masih SD, saat ibu giat-giatnya menghujaniku dengan karya-karya Enid Blyton. Membayangkan menjadi salah satu murid di sekolah berasrama dengan bangunan sekolah berupa kastil tua yang berada di punggung salah satu bukit dan bersinggungan dengan pantai yang indah seperti gambaran Enid Blyton dalam serial Malory Towers  merupakan impian yang sangat indah, besar tapi absurd pastinya. Intinya, aku ingin ke luar negeri, sekolah di luar negeri, suatu saat nanti, entah kapan.

Waktu berjalan, dan impian Malory Towers-ku pun menghilang tertelan bumi. Memang suatu impian yang tidak mungkin akan tergapai. Tapi setidaknya aku memang sekolah di sekolah berasrama saat SMA, meski tidak ada bangunan tua yang megah, tidak ada kolam renang di pinggir pantai, sama sekali tidak Malory Towers, setidaknya aku sekolah di sekolah berasrama! Di sekolah ini aku menemukan teman-teman sejati serta banyak nilai-nilai yang tidak akan aku temukan di sekolah biasa. Aku, yang kelewat lemah dan manja, terbentuk menjadi pribadi yang lebih tegar di sana, untuk pertama kalinya..

me and my beloved father

Berharap bisa kuliah ke luar negeri seperti beberapa teman SMA-ku? Nasibku tidak semujur itu secara aku berasal dari keluarga yang sangat sederhana, yang untuk menguliahkan kedua abangku saja orang tuaku harus pontang panting mencari tambahan penghasilan. Aku bahkan harus berpindah kampus dari Universitas Padjajaran ke kampus sebelah : Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN), yang notabene tidak akan menuntut biaya sesen pun dari orang tua alias gratis. Jika tidak, salah satu abangku mungkin harus mengalah demi aku. ”Sally mau bapak nyolong? Sally kan tau bapak dan mamak cuma pegawai negeri biasa. Cuma sally saja harapan bapak  (untuk mengikhlaskan impian, maksud beliau). Abang-abangmu ndak mungkin berhenti (kuliah)”. Kata-kata beliau masih sangat jelas terngiang di telingaku. Aku juga ingat betapa hancurnya harapanku saat itu. Kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi sudah menjadi rencanaku sejak SMA: bukannya sibuk mengutak-atik soal-soal persiapan Ebtanas, aku malah membongkar habis buku kumpulan soal persiapan UMPTN demi berhasil  melewati passing grade yang ditetapkan Fikom Unpad saat itu. Aku ingin kuliah di sana. Aku tidak ingin jadi perempuan yang bekerja di kantoran, apalagi jadi pegawai negeri  seperti ibuku. Aku ingin jadi ibu rumah tangga yang bekerja: menjual ide-ideku, cukup berbekal kertas dan pena di rumah. Aku ingin belajar menulis kreatif. Aku ingin, teramat ingin, menjadi  penulis seperti Enid Blyton, Jane Austen, Charlotte Bronte,  Agatha Christie atau bahkan JK Rowling, penulis-penulis wanita luar biasa yang karya-karyanya menjadi kesukaanku. Tapi kenyataannya, di sanalah akhirnya aku terdampar : STPDN. Dan untuk kedua kalinya dalam hidupku, aku masuk ke sekolah berasrama. Dan sekali lagi, sekolah berasrama ini sangat jauh dari gambaran Malory Towers-nya Enid Blyton apalagi Hogwarts School-nya JK Rowling hahahahahaha..

Sejak kuliah, aku mulai menyadari keberadaan berbagai program beasiswa luar negeri, termasuk ADS. Ternyata peluang itu (kuliah ke luar negeri GRATIS) ada! Terlebih setelah beberapa orang terdekat juga menjadi alumninya, rasanya semakin menggebu-gebu untuk mencoba meski ada rasa ketidakyakinan bisa lulus tentunya  (aku tipikal orang yang tidak percaya diri dan introvert sebenarnya, hanya saja aku berusaha menutupinya dengan sikap riang gembira sebagai kamuflase, tameng, what everlah). Sekali lagi, impian yang ternyata masih tersimpan sangat rapi dalam kotak pandoraku itu menggelitik, berusaha keluar dari peraduannya setelah tertidur begitu lama..

Pandora, wanita pertama dalam mitologi Yunani. Akibat rasa ingin tahunya, ia melepaskan berbagai macam keburukan yang tersimpan dalam kotak yang diberikan Dewa kepadanya ke dunia. Harapan merupakan satu-satunya kebaikan yang tersisa dan masih tersimpan dalam kotak tersebut..

Namun, untuk kesekian kalinya aku menyimpan rapat-rapat impian itu. Aku memutuskan untuk menikah muda, genap setahun setelah kelulusanku. Sekali lagi bapakku berkata (sebelum mengiyakan keinginanku), “Kuliah dulu sal, nanti kalau udah nikah ndak bisa kuliah! Ndak pingin nyoba (ADS) ke Australi? ” Beliau lumayan familiar dengan ADS, kebetulan beberapa stafnya alumni ADS. Beliau ingin sekali anaknya bisa mencoba program beasiswa ini. Beliau itu bangganya kalau anaknya kuliah gratisan: dapat beasiswa. Mungkin karena memang cuma itu yang kami bisa. Tapi keputusanku sudah bulat, aku ingin menikah. Aku masih yakin kog: aku akan kuliah (ke luar negeri) suatu saat nanti..

Memasuki usia ke-6 pernikahan, ternyata kami (aku dan suami) sama-sama tenggelam dengan urusan rumah tangga, anak-anak dan pekerjaan. Melanjutkan kuliah seakan sudah tidak ada dalam kamus kehidupan kami, setidaknya saat itu. Hingga akhirnya salah seorang rekan kantorku kembali dari Australia, alumni ADS. Sekali lagi, kotak pandoraku mulai mengusik. Semakin menjadi, setelah beberapa tahun kemudian, rekan kantorku ini kembali ke negeri kangguru untuk melanjutkan studinya, hal yang sangat langka bagi pegawai negeri daerah seperti  kami untuk bisa berkesempatan mengambil PhD. Bagiku, temanku ini sangat luar biasa dan aku sangat salut dengan semangatnya. Sebelum berangkat, dia menyarankan agar aku dan beberapa rekan kantorku mendaftar ADS. Sayang, hanya aku yang mengikuti advisenya. Dia selalu membimbing dan memonitor pergerakanku hingga akhirnya aku berhasil sampai di sini, di Australia..

Aku membayangkan kotak pandoraku tertawa bahagia saat akhirnya aku membukanya dan mengeluarkan satu dari sekian impian yang kusimpan apik dalam dirinya..

Untuk orang-orang yang punya mimpi: yakinlah harapan itu ada dan tidak ada yang tidak mungkin!