Semester pertama kuliah S2 di The University of Queensland (UQ), Brisbane, Australia, saya masih struggling dengan kehidupan kampus yang penuh dengan assignment dan segala macam buku bacaan. Saya masih berjuang mendengarkan kuliah dari Pak dan Bu Dosen, menjaga konsentrasi untuk menyimak kuliah selama dua sampai tiga jam tanpa tertidur, dan tentu saja mengerti apa yang dibicarakan dalam kuliah tersebut. Kadang, saya suka berpikir, “What the hell was I thinking, going to school again?!” Sekedar informasi, saya mengambil S2 setelah lulus S1 enam tahun sebelumnya.

Tapi kuliah S2 saya, harus saya akui, lebih menyenangkan dari kuliah S1 saya. Alasan utamanya, tidak ada ujian di semua mata kuliah yang saya ambil! Tiap mata kuliah hanya memberikan rata-rata tiga sampai empat assignment, terdiri dari presentasi dan essay sebanyak 1,500-3,000 kata. Awalnya sempat ragu, apakah saya bisa mengarang dalam bahasa Inggris yang baik dan benar? Apalagi, sebelum kuliah dimulai, semua calon mahasiswa diwanti-wanti untuk menggunakan sebanyak mungkin reference list dan berhati-hati dalam menulis ulang ide orang lain supaya tidak dicap plagiat. Dengan segala macam beban tersebut, saya sempat nggak pede. Tapi beruntung, dosen saya baik-baik. Mereka membuka kesempatan bagi para mahasiswanya untuk mengkonsultasikan assignment mereka, dan kesempatan itu saya pergunakan dengan baik. Selain itu, berdiskusi dengan teman-teman sekelas juga sangat membantu, lho.

Untuk menulis essay, saya punya tempat favorit di kampus, yaitu di Postgraduate Study Room yang ada di perpustakaan. Tempatnya cukup sepi tapi punya fasilitas yang cukup lengkap. Ada mesin fotokopi dan printer. Meja yang digunakan juga bisa dikunci sehingga barang-barang kita aman kalau harus ditinggal ke toilet atau makan siang. Dan yang penting lagi, kalau butuh reference tambahan, saya tinggal turun ke ruang perpustakaan dan meminjam buku yang saya butuhkan.

My favourite postgraduate study room

Soal buku, perpustakaan di kampus saya ini cukup lengkap. Berbagai buku dan jurnal (versi online dan offline) tersedia untuk para mahasiswa, walaupun dalam jumlah yang terbatas. Oleh sebab itu, biasanya pada awal semester, para mahasiswa berlomba untuk mendapatkan buku yang mereka inginkan. Banyak di antara mereka bahkan membawa trolley belanja untuk membawa pulang semua buku pinjaman mereka.

Saya sih tidak pernah membawa trolley ke kampus untuk membawa semua buku pinjaman saya. Tapi saya bisa dipastikan meminjam setumpuk buku tiap semesternya. Jika sedang berkutat dengan tugas, buku-buku tersebut saya bawa ke ruang belajar saya di perpustakaan. Biasanya saya menghabiskan waktu dari jam 10 pagi sampai 7 malam (bahkan kalau lagi mengejar due date, Sabtu dan Minggu pun saya habiskan di perpustakaan).

Saat kuliah S1 di Universitas Indonesia, kebanyakan mahasiswa hanya datang ke kelas dan meng-copy paste tulisan orang lain dalam tugas-tugasnya. Namun, saat kuliah S2 ini, kebiasaan-kebiasaan seperti itu tidak bisa lagi kita lakukan. Kelihatannya memang sulit, tapi bagi saya, inilah yang namanya belajar.