Pertama kali sampai di Melbourne, Australia, hal pertama yang langsung menarik pandangan saya adalah banyaknya sepeda wara-wiri di jalan raya, dengan tenang meluncur di dalam jalur khusus sepeda. Tentunya, saat itu saya melihat dari dalam trem, dengan masih asyik ber­-norak ria celingukan kanan-kiri. Yang ada di pikiran saya saat itu justru teman kuliah saya yang aktif di komunitas Bike2Work Jakarta. Pikir saya, “Wah, kalau Antha ada di sini, pasti dia senang sekali.”

Sebetulnya saya sudah mendengar tentang nyamannya bersepeda di Melbourne dan terlintas pikiran untuk mencoba bersepeda. Lalu niat itu sempat kandas begitu menyadari bahwa waktu tempuh dari rumah ke kampus adalah sekitar 20 menit dengan trem. Wah, rasanya saya tidak sanggup bersepeda sejauh itu, karena saya bukan orang yang senang berolahraga. Tetapi setelah saya melihat beberapa teman yang aktif bersepeda dengan rute serupa, saya mulai berpikir sepertinya patut dicoba. Apalagi tarif trem mahal sekali teman, karena pelajar internasional di negara bagian Victoria tidak mendapatkan potongan tarif pelajar. Sakit hati juga rasanya menghabiskan lebih dari AUD 100 sebulan hanya untuk transportasi.

Setelah tanya sana-sini, melihat-lihat situs gumtree, akhirnya saya menginspeksi beberapa pilihan sepeda yang sesuai dengan (ahem) tinggi badan saya, ditemani teman yang cukup mengerti tentang seluk beluk sepeda. Akhirnya dengan harga kurang dari AUD 200, saya dapatkan juga sepeda cantik berwarna merah bergigi 5 dengan keranjang di depan.

Hari-hari pertama mencoba bersepeda, saya belum berani mengayuh sampai ke kampus. Saya menggowes hanya untuk berbelanja keperluan rumah tangga yang lokasinya hanya setengah dari jarak ke kampus. Setelah beberapa lama, saya coba mengayuh sampai ke kampus. Hasilnya, alamak, walaupun dingin dan banyak angin, ternyata berkeringat sekali. Belum lagi melihat betapa cepatnya orang-orang di sini mengayuh sepeda mereka. Saya disalip ibu-ibu tua! Padahal rasanya saya sudah mengayuh sekuat tenaga. Wah malunyaaa…

Kata orang, semua itu bisa karena biasa. Untunglah, lama-lama jarak mulai tidak terasa berat, nafas mulai lebih mantap, dan yang paling penting, saya tidak lagi disalip banyak orang. Hanya kadang-kadang saja saya istirahatkan sepeda saya di rumah, kalau sedang membawa banyak barang atau sedang hujan deras. Nah, perasaan terbiasa ini ternyata membuat saya teledor. Kebetulan saya memiliki tekanan darah rendah, yang tidak pernah saya perhatikan kalau sedang kecapekan. Di satu waktu, saya berangkat ke kampus, tak lupa setelah sarapan terlebih dahulu untuk mengisi tenaga. Kira-kira dua per tiga perjalanan, tiba-tiba saya mulai merasa pusing berputar-putar dan pandangan berkunang-kunang. Waduh, gawat ini, pikir saya. Tetapi tanggung sekali, sedikit lagi sampai ke kampus. Jadilah saya paksakan, dengan harapan segera setelah sampai di kampus saya akan segera berbaring untuk memulihkan badan.

Apa daya, hanya tinggal sekitar 100 meter lagi, saya sudah tidak kuat lagi. Saya berhentikan sepeda saya dan menepi di pinggir jalan. Lemas sekali badan, untuk menyandarkan sepeda saja tidak sanggup. Jadilah saya berbaring di rerumputan pinggir jalan sambil memeluk sepeda saya. Pemandangan yang aneh sekali tentunya di antara lalu lalang kendaraan dan orang yang berjalan. Untunglah datang dua orang lokal, menanyakan keadaan saya. Dengan baik hati mereka menyandarkan sepeda saya dan memberikan minum. Mereka memaksa saya menelepon teman untuk menjemput. Setelah yakin bahwa teman saya akan datang, barulah mereka melanjutkan perjalanan bersepeda mereka sendiri, dengan sebelumnya memberikan segunung wejangan-wejangan tentang pentingnya menjaga kesehatan. Tak lama beberapa teman saya datang, ada yang membelikan obat, ada yang membawa sepeda saya pulang, ada pula yang menemani saya pulang naik tram. Ah, memang teman bagaikan keluarga jika sedang sendiri di negeri orang.

Moral of the story, teman, bersepeda itu memang sehat. Tetapi perhatikan juga kondisi badan. Saya waktu itu merasa jumawa, merasa sudah (sedikit) lebih atletis, merasa sudah seperti warga Melbourne yang asyik bersepeda ke mana-mana, merasa gembira melihat badan (sedikit) lebih kurus, merasa mampu menghemat banyak, lupa sudah dengan batas-batas kondisi fisik. Apalagi hampir semua dari kita-kita ini pasti datang dari kota yang tidak familiar dengan sepeda sebagai moda transportasi utama.

Jadi, mari bersepeda, kita manfaatkan fasilitas nyaman yang ada di negeri ini, tetapi jangan lupa untuk mencari tahu batas ketahanan fisik kita. Saya sendiri, dengan sangat menyesal, sedang mengistirahatkan sepeda menyambut datangnya musim dingin ini. Belum kuat rasanya menahan angin dingin bercampur keringat di punggung. Yang ada masuk angin terus, jenderal!

Walaupun begitu, semoga tulisan ini justru tidak mengurungkan niat bersepeda ya. Niatnya bukan untuk menakut-nakuti, justru dengan sharing kita semua diharapkan untuk tetap siaga setiap saat. Bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga dalam berlalu lintas. Bukan apa-apa, walaupun pejalan kaki dan pengendara sepeda diutamakan di sini, tetapi kadang-kadang ada saja pengemudi mobil yang suka lupa diri. Beberapa kali saya harus rem mendadak di bundaran, karena mobil di jalur kiri yang seharusnya memberi jalan, tetap saja nyelonong. Hati-hati juga kalau bersepeda melewati deretan mobil yang diparkir. Sudah banyak sekali kejadian, termasuk dialami teman saya, di mana sepeda terjungkal karena menabrak pintu mobil yang tiba-tiba dibuka.

Sebagai mahasiswi dengan anggaran terbatas di negeri seberang, kendaraan ini banyak sekali manfaat positifnya, jadi patut sekali untuk dicoba. Pastikan sepeda sudah dilengkapi dengan lampu depan, lampu belakang, dan helm. Jangan lupa periksa rantai sepeda, rem, dan ban setiap hari sebelum berangkat. Tetap semangat, tetap siaga, selamat bersepeda.