Dulu, saya tidak pernah bermimpi bisa kuliah sampai jenjang S2. Selepas SMA, saya bahkan tidak mau kuliah S1 dan lebih memilih program D3 Sastra Inggris. Alasannya? Supaya cepat dapat kerja. Akhirnya beberapa bulan setelah lulus D3, saya mendapatkan pekerjaan pertama saya. Tapi lama-kelamaan, sepertinya ilmu yang saya peroleh di D3 belum cukup. Saya masih ingin belajar lagi mengenai ilmu yang lain. Karena saat itu saya tertarik oleh ilmu Komunikasi, saya pun mendaftar untuk program Extention, jurusan Komunikasi Massa, di salah satu universitas di Depok, Jawa Barat.

Selesai S1, saya merasa tugas saya sebagai pelajar selesai sudah. Tidak ada keinginan untuk melanjutkan kuliah. Terus terang, di dalam keluarga saya, pendidikan paling tinggi adalah jenjang S1. Jadi memang tidak ada dorongan sama sekali dari lingkungan saya untuk kuliah S2.

Namun, keinginan itu mulai ada saat saya melihat rekan kerja saya di sebuah Non-Government Organisation (NGO) yang usianya lebih muda dan sudah mendapatkan gelar Master. Saya lupa apa jurusan yang ia ambil. Tapi saya ingat, ia mempelajari sesuatu yang sangat spesifik. Sebelumnya, saya hanya mengenal jurusan umum seperti ‘Ekonomi’, ‘Manajemen’, ‘Komunikasi’, ‘Sastra’, dan lainnya. Oleh sebab itu, saya sangat tertarik saat tahu saya bisa mempelajari sesuatu yang lebih spesifik dan lebih mendetail.

Sayangnya, keterbatasan dana dan kemalasan saya mencari beasiswa menguburkan mimpi saya untuk kuliah lagi. Untungnya, di tahun 2009, saat pendaftaran beasiswa Australian Development Scholarship (ADS) dibuka, ada beberapa kawan di kantor yang berminat mendaftar. Saya pun senang karena ada teman-teman yang bisa saling membantu dan memberi dukungan untuk kepentingan pendaftaran itu. Awalnya, ada 7 orang dari kami yang sudah siap dengan segala dokumen yang diperlukan. Namun akhirnya, hanya 4 orang yang berhasil mendapatkan beasiswa ADS tersebut.

Kami berempat memilih jurusan, universitas, dan kota yang berbeda. Awalnya saya sempat bingung memilih jurusan dan universitas. Latar belakang pendidikan saya Komunikasi, namun saya tidak pernah bekerja di bidang tersebut. Pekerjaan saya selama ini lebih banyak sebagai administration staff di NGO. Jadi, walaupun saya berminat dengan ilmu sosial, kalau mau mendaftar untuk jurusan seperti Development Practice, saya juga tidak punya pengetahuan dasarnya.

Akhirnya setelah berminggu-minggu browsing tiap universitas di Australia dan jurusannya, saya menemukan Communication for Social Change di The University of Queensland (UQ). Menurut saya, jurusan ini pas sekali karena berhubungan dengan latar belakang pendidikan, serta pekerjaan dan minat saya. Dan karena jurusan itu memang hanya ada di UQ, urusan memilih universitas pun jadi lebih mudah.  

Pengalaman kuliah S2 saya sangat menyenangkan. Tentu saja ada saat-saat frustasi ketika tugas menumpuk. Tapi kepuasan mendapatkan ilmu baru, belajar menulis essay yang baik, dan ‘tenggelam’ di antara tumpukan buku di perpustakaan, merupakan pengalaman yang tidak bisa terlupakan. It’s one of the best things that ever happened to me!

Setelah meraih gelar Master, banyak yang berkomentar, “Ayo, lanjut S3!” Saya sempat menjawab tegas, “Tidak mau!” Sudah hampir 8 tahun saya kuliah. Saya rasa kemampuan otak saya sudah semakin berkurang. Namun semakin hari, saya semakin ragu. Mungkin suatu hari nanti, entah kapan, saya bisa memiliki keinginan untuk mencari beasiswa S3. Siapa tahu? Sejarah membuktikan, saya selalu kurang puas dengan ilmu yang saya miliki. Mungkin benar bahwa ilmu pengetahuan itu candu. Tidak pernah ada kata puas ataupun berhenti untuk mendapatkannya.