Sudah sangat lumrah, jika orang Indonesia yang baru datang ke negara maju seperti Australia, mengalami culture shock. Saya juga sempat mengalami hal yang mungkin bisa dibilang culture shock dalam kontek ber-banking ria di Melbourne, atau mungkin lebih cocok disebut banking shock? hehe… Tulisan saya kali ini, akan bercerita tentang pengalaman ber-banking di awal-awal saya tiba di Melbourne. Sebelumnya saya tegaskan juga, bahwa tulisan saya ini tidak mengandung unsur promosi.. 🙂

Mengurus Establishment Allowance

Hal yang paling penting diurus secepatnya bagi penerima beasiswa Australian Development Scholarship (ADS) adalah meyakinkan bahwa Establishment Allowance sebesar AUD$5000 sudah bisa dicairkan. Kenapa penting..? karena kita harus bayar bond (uang jaminan sewa rumah/kamar) sebesar 1 bulan sewa dan uang sewa untuk 1 bulan ke depan, atau untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran lain yang membutuhkan uang yang cukup besar, misalnya membeli laptop, perlengkapan rumah tangga dan lain-lain. Walaupun kita bawa bekal uang dari tanah air, tapi tidak ada salahnya kan, kalo establishment allowance ini cepat diurus? Masalah ini sepertinya sangat dipahami oleh scholarship officer (Ms.Sabina) di RMIT, karena, waktu hari pertama saya datang ke kampus, Sabina sudah memberikan nomor rekening atas nama saya yang ternyata rekening itu sudah dibuat sebelum saya tiba di Melbourne (waaww… sangat responsif kan?). Sabina menyarankan saya untuk langsung datang ke bank dan menemui salah satu pejabat bank yang mengurus rekening saya di bank ini.

Akhirnya, sesuai saran Sabina, saya langsung ke Commonwealth Bank cabang RMIT Swanston Campus yang berlokasi di Building 8, namun sayang, hari itu, jam operasional bank sudah tutup, Customer Service (CS) nya dengan tegas cuma bilang: “please come back tomorrow morning..”.

Keesokan harinya, untuk mengantisipasi antrian nasabah yang panjang, jam 9 pagi saya sudah datang ke bank, dan di terima oleh Customer Service (CS) yang kemarin “ngusir” saya, namanya Adrian.

Adrian : hi.. can I help you..? You come early today (sambil senyum sumringah nan ramah, membuat saya tambah lapar, karena belum sarapan)

Saya : hi.. I would like to see …… (saya sebut nama orang yang harus saya temui)

Adrian : she’s not here right now… she’s on leave… (wakssss,  lemes deh saya.. saya pikir, kalo gak ketemu ini orang, uangnya gak akan cair, atau diminta mengurus rekening baru, pokoknya sudah terbayang, urusan akan jadi ‘ribet’, tapi tiba-tiba….)

Adrian : what can I do for you…? (hah… gak salah denger nih… kalo di bank Indonesia.. kita harus ambil nomor dan antri dulu, kalo beruntung bisa dapat kursi, bisa duduk manis sebelum dilayani sama CS).

Wah, dengan tidak mau menyia-nyia kan kesempatan emas ini, langsung saja saya bilang, mau cek rekening tabungan saya. Dengan santainya mas Adrian bilang: “do you have your account number?” ya.. langsung saya kasih nomor rekening dan dia minta lihat passport saya, dengan senang hati saya kasih juga (saat itu, apa saja yang diminta pasti saya kasih, kalo dia minta KTP, kartu NPWP juga pasti saya kasih, sayangnya KTP dan NPWP saya tidak ‘laku’ di sini), setelah itu, dia tanya alamat tempat tinggal saya, dengan lancar saya sebutkan alamat saya, selanjutnya mas Adrian bilang…”your balance is AUD$ 5001…” sambil kasih lihat layar monitor yang berisi data-data saya.

Berikutnya, saya tanya tentang kartu ATM, dia bilang kartu ATM akan dikirim dalam minggu ini, dan dia menawarkan apakah saya mau tarik uang tunai? Saya cuma bilang (setengah bingung..): “emang bisa..?” Si mas Adrian cuma cengar-cengir aja (mungkin lihat ke-lugu-an saya). Gimana saya gak bingung, saat itu saya tidak punya buku tabungan, kartu ATM juga baru mau akan diterbitkan, gimana caranya tarik uang tunai?. Mau tidak mau saya membandingkan proses pelayanan di bank ini dengan bank di Indonesia, yang kalo mau tarik uang di teller harus bawa buku tabungan, bahkan ada satu bank besar, kalo mau ambil cash harus bawa buku tabungan dan kartu ATM nya, sungguh gak praktis. Akhirnya, si mas Adrian menyiapkan form penarikan uang buat saya, dan saya diantar ke teller untuk bertransaksi, yang pada saat itu sama sekali tidak ada antrian seperti yang saya khawatirkan dan kurang dari lima menit transaksi selesai, beres. Total waktu yang terpakai tidak lebih dari 15 menit.

Ternyata berurusan dengan bank di Melbourne jauh lebih simple. Saya jadi teringat pengalaman saya dengan salah satu bank swasta besar di Indonesia. Di bank ini, saya sampai dibuat frustasi waktu mengurus buku bank yang hilang, harus bolak-balik dan gak beres-beres, akhirnya, saya biarkan saja buku banknya tidak diurus, toh saya masih punya kartu ATM nya. Gimana gak frustasi, saat saya mau melaporkan kehilangan buku tabungan ke bank untuk dibuatkan buku baru, saya sudah siap dengan surat kehilangan dari kepolisian, eh si mbak CS nya bilang, saya diminta datang besok lagi, karena dokumen pembukaan rekening saya tidak tersimpan di cabang itu (waduh,  jelas-jelas saya buka rekening disitu, dan hare gene, masih mengandalkan dokumentasi fisik, saya pikir, plisss d…). Padahal, untuk bisa dilayani oleh CS yg kerjanya “lemah gemulai” itu, saya harus antri 45 menit, yang artinya harus melarikan diri dari kantor saya selama kurang lebih 1 jam :(. Apakah pihak bank tidak tahu, kalo nasabahnya mayoritas para pekerja yang sangat sibuk?