Niat Sekolah dan Mendapat Sponsor lagi

Karena ‘tuntutan’ profesi saya sebagai dosen, saya harus menempuh studi lanjut lagi, S3. Meski ada tuntutan itu, saya tidak buru-buru ingin melanjutkan studi lagi setelah lulus master. Merasa perlu memikirkan urusan keluarga dulu. Menikah dan beranak pinak dulu. Ketika saya mulai terlihat hamil anak kami yang ke dua, dosen yang dulu saya jadi asistennya menanyakan, ‘lah ko homal-hamil aja nii.. kapan mau sekolah lagi?’. Jawab saya: tenang, Pak.. ini nyeneng-nyenengi mbah-mbahnya dulu . Alhamdulillah, pada saat mulai hamil anak saya yang kedua itu, jalan untuk studi S3 serasa terbuka lebar, terang dan mudah. Pertama, fakultas tempat saya mengajar mendapat hibah dari Worldbank untuk riset, artinya biaya riset saya cukup ‘aman’ dengan hibah ini. Kedua, aplikasi beasiswa ADS (Australia Development Scholarship) dibuka kembali dan saya mendapat dukungan penuh dari supervisor saya ketika master dulu untuk studi lanjut kembali ke Canberra. Semua urusan serasa lancar saja. Menjelang melahirkan saya mendapatkan panggilan untuk tes lanjut ADS. Tes diadakan sebulan setelah saya melahirkan. Agak pesimis sebenarnya untuk lolos kali ini karena ada beberapa pertanyaan pengetahuan umum yang saya tidak mampu menjawab. Mungkin akibat terlalu fokus dengan usulan riset dan punya bayi dan batita bersamaan, banyak hal umum yang saya skip sehingga blank tidak bisa menjawab. Ditambah beberapa kisah sesama teman dosen yang menjajal ADS kandas setelah interview.

ASI eksklusif jalan terus

Alhamdulillah ternyata saya salah. Saya lolos. Harus bersiap untuk pre-departure training lagi selama 6 minggu di Jakarta. Dulu hal ini bukan masalah. Gampang saja. Datang dua hari sebelum training dimulai, cari kos dekat dengan gedung tempat training, selesai. Tapi saat ini saya masih punya bayi usia 4 bulan dan saya cukup idealis tentang ASI eksklusif (ASIX) 6 bulan pertama. Seminggu sebelum training di mulai saya dan suami ke Jakarta untuk mencari kos yang bisa menerima saya, bayi saya, dan pengasuhnya yang akan menjaga dia selama saya training. Imaginasi saya kejauhan, saya berharap menemukan tempat kos dengan tipe kamar ala studio satu kamar dengan kamar mandi dalam dan kitchenette kecil di depan kamar mandi. Tidak menemukannya 🙁 dan mencoba menurunkan standar, asal ada dapur yang dapat dipakai untuk memasak dan menjerang air untuk mandi si bayi. Ketemu! Tapi tidak mengijinkan saya membawa bayi karena akan mengganggu penghuni kos lain atau tidak mengizinkan saya berbagi kamar dengan pengasuh bayi saya, harus menyewa dua kamar. Wah pusing betul waktu itu dan capek muter-muter dari satu kos ke kos yang lain. Putus asa. Akhirnya meminta izin Oom (adik alm. Papa) untuk diijinkan tinggal di rumahnya selama training dan malah dimarahi karena tahu saya berusaha mencari kos. Sehari sebelum training terbang lah saya dengan bayi dan pengasuhnya dari Jogja ke Jakarta. Meninggalkan anak kami yang besar dengan Bapak dan Nenek serta Tante-Oomnya. Saya membawa ASIP beku sebanyak 30 botol kaca kecil @ 100 ml sebagai stok ASI selama training dengan hitungan masih sempat memeras ASI ketika break siang. Cukup lama diinterogasi oleh petugas security di boarding gate karena bawa liquid sebanyak itu. Saya jelaskan klo itu ASIP (ASI perah) beku dan akan saya jaga tetap beku sampai Jakarta di dalam cooler bag diantara ice pack. Sangat kecil kemungkinan leaking. Malah ibu-ibu securityyang nanya, untuk apa? Apa tidak rusak dll dst yang jawabannya kaya konseling ASI.. hihihi.

IAP ANU, June 2010
Photo by Meks Ndii

Selama training yang jadwalnya cukup padat, Alhamdulillah saya masih sempat memerah ASI. Hanya ada break makan siang selama 1 jam. Biasanya saya membawa bekal. Mbak pengasuh bisa memasak sore hari ketika saya sudah ada di rumah. Untuk belanja biasanya pagi hari setelah saya berangkat training sambil mengajak si bayi jalan-jalan dan jemur pagi. Ada pasar kecil di belakang rumah Oom. Ketika break makan siang saya langsung ke mushola yang ada di basement building tempat training. Makan bekal, sholat, kemudian masih mengenakan mukena saya akan mojok untuk memeras ASI. Kadang dapat 2 kadang cuman 1 botol @ 100 ml. saya hanya simpan di cooler bag. Ruang kelas kami cukup dingin sehingga cukup ‘aman’ bagi ASIP saya. Dan bisa langsung masuk kulkas ketika sampai rumah untuk diberikan ke bayi saya besok hari. Sabtu dan Minggu saya masih bisa ‘nabung’ ASI @ 1 botol.

Bayi Ikut Sekolah

Pernah suatu ketika, Mbak pengasuh sakit dan merasa tidak mampu menjaga bayi saya. Akhirnya saya memutuskan mengajaknya ke tempat training. Alhamdulillah hari itu jadwal cukup santai dan saya diperkenankan membawa si kecil dan saya tidak absen! 🙂 Alhamdulillah 6 minggu training lewat dengan lancar dan ASIX juga beres. Meski ASIX sudah ‘lulus’ si bayi masih minum ASI, harapan saya dapat memberikan ASI selama saya bisa. Dengan alasan itu saya mengurus semua persyaratan keberangkatan ke Australia bersama sekaligus kami berempat. Suami, 2 anak kami dan saya. Untuk itu saya harus menunjukkan sudah memiliki tempat tinggal dan meng-upgrade OSHC dari single policy ke family policy. Alhamdulillah keduanya lancar. Ada seorang teman yang akan field work kembali ke Indonesia bersama seluruh keluarganya dan kami bisa men-sublet flatnya. AusAID Liaison officer  di ANU bisa membantu mengubah OSHC policy saya. Berangkatlah kami ke Canberra. Begitu tiba di Canberra, winter, langsung mulai dengan training lagi. Introductory training. Karena dulu sudah pernah, saya mendapat keringanan untuk tidak mengikuti seluruh sesi training ini. Tetapi masih ada yang saya wajib hadir dan menitipkan anak-anak ke Bapaknya, karena meski sudah mendaftar sejak masih di Indonesia untuk mendapatkan spot di salah satu childcare tidak mudah. Looooong waiting list. Suatu ketika, hari Jumat, suami perlu pergi sholat jumat dan ada sesi ‘wajib’ yang saya harus hadir, akhirnya kami berbagi, si kecil bersama saya ikut trainingdan anak yang besar ikut bapaknya sholat jumat di masjid.

IAP @ ANU
Photo by Meks Ndii

Alhamdulillah saya tidak perlu ada kuliah dan bisa langsung mulai riset sehingga cukup fleksibel dalam menjaga anak sampai mereka mendapat tempat di childcare 🙂