Sebelum sampai di Canberra, membeli barang second-hand tidak pernah terlintas di pikiran saya, apalagi sampai menjadi pengunjung reguler toko-toko tersebut seperti sekarang. Mendengar kata second-hand atau barang bekas langsung mengingatkan saya pada tumpukan barang “romel” yang lebih pantas masuk ke tong sampah. Mungkin pengalaman berburu barang bekas di Jakarta yang mengantar saya pada gudang berdebu dengan berbagai furnitur tua yang tak layak pakai menyebabkan saya selalu under-estimate terhadap barang bekas. Apalagi kalau membayangkan kometar orang tua saya kalau mendengar anaknya berbelanja barang bekas di Australia. Mereka mungkin berpikir kasihan sekali anakku… jauh-jauh sekolah di negeri orang, terpaksa beli baju bekas karena beasiswa yang tidak mencukupi.

Well… terlepas dari jumlah beasiswa yang memang mepet, yang awalnya mengantarkan saya ke pintu kedua toko barang bekas itu, pada akhirnya harus saya akui bahwa “kedekatan” saya dengan Salvos dan Vinnies yang awalnya purely business akhirnya bersemi menjadi semacam love story. Betapa tidak, di saat saya membutuhkan overcoat atau jaket tebal untuk melawan musim dingin di Canberra, saya berhasil menemukannya dengan harga sangat murah di Salvos atau Vinnies. Di kala anak perempuan saya merengek ingin jaket Kathmandu, merek Australia yang terkenal dengan produk outdoor dan pakaian/jaket berkualitas yang memberikan kehangatan ekstra, saya bisa menemukannya dengan harga kurang dari A$10, sementara di toko harganya lebih dari A$100. Dengan uang sepuluh dollar atau sekitar 95 ribuan Rupiah, kalau sedang beruntung, saya bisa mendapatkan empat potong kemeja atau blus dengan merek-merek terkenal seperti Witchery, Valleygirl, Crossroads, Zara dan sebagainya. Sementara kalau kita membeli satu kemeja di BigW paling tidak saya harus mengeluarkan uang sebesar A$20.

Dari "basic necessity" sampai "party necessity"

Bukan cuma urusan pakaian dan sepatu, Salvos dan Vinnies juga menjual barang-barang pecah belah keperluan rumah tangga seperti piring, gelas dan mangkok, hingga buku, mainan anak, barang elektronik bahkan furnitur seperti sofa, meja makan dan lemari. Di samping itu, karena Canberra merupakan pusat pemerintahan Australia yang menjadi lokasi berbagai kedutaan dari berbagai negara, sering saya temukan barang-barang unik dan langka dari berbagai negara yang akan ikut saya bawa pulang ke tanah air. Memang tidak semua barang dalam kondisi prima, sehingga saat membeli kita harus ekstra teliti. Namun, kalau kita cukup sabar, teliti dan rajin berkunjung ke toko-toko ini, saya yakin barang yang dicari akan bisa dibeli dengan harga terjangkau untuk kocek mahasiswa.

Boleh dikatakan, hampir seluruh isi rumah kami di Canberra berasal dari barang-barang bekas yang saya dan keluarga peroleh di Salvos, Vinnies, Sunday market atau garage sale. Sangat jarang kami membeli barang baru. Selain untuk memenuhi kebutuhan utama rumah tangga, sekarang berkunjung di Salvos dan Vinnies sudah menjadi agenda rutin yang cukup efektif untuk menyalurkan stress dari rutinitas menulis disertasi, yang pastinya financially less-harmful untuk seorang shopaholic seperti saya. Dengan Salvos dan Vinnies, kami sekeluarga juga bisa mendisain isi rumah menjadi nyaman sesuai cita rasa kami tanpa harus merogoh kantong terlalu dalam. Kami menyebutnya: to live life the fullest our Canberra’s way. Karena itu pula setiap kali bertemu dengan mahasiswa baru yang sedang bersiap-siap settling in di Canberra, pesan pertama saya jangan terburu-buru membeli barang baru, kunjungi toko barang bekas ini dulu.

Beberapa barang unik hasil berburu di Salvos dan Vinnies

Toko barang bekas seperti Salvos dan Vinnies kerennya dikenal juga sebagai op-shop berasal dari kata opportunity shop karena menawarkan cara belanja yang lain dengan mendaur ulang barang bekas dengan harga terjangkau. Nilai tambah lainnya adalah bahwa keuntungan hasil penjualan dipergunakan untuk berbagai kegiatan amal di bawah kedua organisasi induk yang memayungi Salvos store dan Vinnies centre yaitu Salvation Army dan St Vincent de Paul Society. Kedua oganisasi berbasis agama ini sudah berkiprah lebih dari satu abad di Australia dan sekarang memiliki ratusan jaringan op-shops di seluruh wilayah Australia. Di Canberra sendiri terdaftar 8 Salvos store dan 7 Vinnies centre. Informasi lebih lanjut mengenai kedua toko barang bekas tersebut bisa dilihat di website berikut salvosstores.salvos.org.au dan http://www.vinnies.org.au/vinnies-stores-centres-act

Membeli barang yang kita perlukan dengan harga jauh lebih murah dari harga pasar tentunya sudah memberi kesenangan sendiri, terlebih kalau membayangkan dana hasil pembelian tersebut akan dipergunakan untuk kegiatan amal. Kepuasannya akan menjadi berlipat ganda. Kalaupun ternyata barang yang dibeli tidak cocok, kita tidak akan merasa terlalu rugi karena dana yang dikeluarkan tidak besar, bahkan kita selalu bisa menyumbangkan barang tersebut dan barang lain yang tidak terpakai (dengan catatan masih layak untuk dipakai tentunya) ke Salvos atau Vinnies. Jadi, tidak hanya menjadi penikmat pasif dengan membeli barang murah di op-shop, tetapi juga berpartisipasi aktif dalam menyumbangkan barang berkualitas yang sudah tidak digunakan lagi. Pendek kata, kita tak akan pernah rugi berbelanja di op-shop.

Saya jadi teringat beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan seorang perempuan menawan dan fashionable dengan gaya smart-chicnya di Vinnies. Ia memegang poster Elvis Presley ukuran besar yang mengingatkan saya pada foto Marylin Monroe karya Andy Warhol. Dengan mata yang berbinar-binar dan tersenyum lebar ia memandang poster tersebut. Seolah “curhat” ia memamerkan hasil huntingnya hari itu kepada saya ”Don’t you just love op-shops?” Saya melirik poster berbingkai yang dipegangnya, walau bukan penggemar Elvis Presley, poster itu memang sangat menarik. Hmmm…Kalau saja datang lebih awal, poster itu mungkin ada ditangan saya… Tetapi ketidakpastian itulah yang membuat berbelanja di toko barang bekas menjadi semakin menarik buat saya, seperti sedang bermain berburu harta karun. You’ll never know what you’re gonna get. Saya mengerti sepenuhnya kebahagiaannya dan mengangguk… “It’s great!!!” dan lanjut saya dalam hati thank God for Salvos and Vinnies….