Tulisan ini dimuat di Harian Jogja 1 Februari 2012 (Bag II dari ‘Kisah Malang Penyelundup Manusia‘)

Kisah-kisah para tahanan people’s smuggling yang ada di tulisan saya sebelumnya yang berjudul ‘Kisah Malang Penyelundup Manusia’ inilah yang mendorong saya dan beberapa rekan di University of Wollongong untuk mengunjungi para tahanan tersebut beberapa bulan yang lalu di salah satu penjara (Corrective Service) di NSW. Kunjungan ini didasarkan pada niat silaturahmi untuk membantu korban jaringan penyelundupan manusia, atau minimal menjembatani komunikasi dengan keluarga mereka di Indonesia.

Kami sudah mengantongi informasi nama para inmates (baca: tahanan) dari seorang rekan yang telah lebih dulu berhasil mengunjungi mereka.Β  Cukup mengejutkan karena ternyata daerah asal para tahanan ini tidak saja dari pesisir Jawa bagian selatan seperti Pemalang, Tegal, Brebes, Banjarnegara, dan Kebumen. Namun, ada juga yang berasal dari Sulawesi Selatan dan Tenggara.

Prosedur kunjungan terbilang cukup ketat. Pengunjung harus menyebutkan dengan jelas nama inmate yang akan dikunjungi, ada hubungan apa dengan inmate tersebut, dan lain-lain. Mengunjungi inmates ini gampang-gampang susah. Kendala yang kami temui adalah banyak nama-nama tersebut sudah dipindahkan ke CS yang lain. Misalnya sudah mendapatkan jam berkunjungpun, terkadang tidak disangka, pada hari yang telah ditentukan untuk bertemu, inmate tersebut justru harus menghadiri sidang di pengadilan. Selain itu, karena orang yang dikunjungi bukan keluarga atau teman, pengunjung harus siap ditolak oleh para tahanan tersebut. Mereka belum tentu bersedia menerima kunjungan tersebut dengan alasan malu, tertekan dan tidak ingin informasi keberadaan mereka di penjara di Australia bocor sampai ke keluarga mereka.

Scan koran Harian Jogja yang memuat tulisan ini pada 1 Februari 2012

 

Dengan berbagai kendala tersebut, rombongan saya belum berhasil menemui mereka. Namun, informasi yang berhasil dihimpun dari beberapa media dan rekan yang sebelumnya berhasil masuk, mereka kebanyakan mengeluhkan penempatan di penjara dewasa bagi tahanan remaja, kebutuhan pelayanan spiritual yang berbeda dengan yang disediakan oleh penjara, menu makanan yang berbeda dari kebiasaan orang Indonesia dan ancaman hukuman yang dirasa tidak adil. Seperti yang dialami dua puluh tahanan Indonesia di penjara Hakea Western Australia serta Ose, Ako dan John yang dijatuhi hukuman lima tahun penjara hanya karena menjadi tukang masak di kapal (Workers Bush Telegraph, 2011). Dari kunjungan rekan yang berhasil masuk, respon inmates cukup hangat karena mereka bertahun-tahun tidak pernah dikunjungi saudara atau teman. Kamipun masih akan mencoba mengunjungi CS ini suatu hari nanti.

Jangan membayangkan bahwa mengunjungi para inmates ini seperti mengunjungi tahanan dalam penjara seperti yang sering kita tonton di film-film Hollywood (ngobrolnya di ruang tertutup dibatasi terali besi lagi).Jika punya anak-anak, bisa juga dijadikan sebagai wisata rohani alternatif bagi mereka karena di sana ada playground buat mereka juga sambil menunggui orantuanya ngobrol dengan inmate yang dikunjungi. Tapi kita tetap harus mengawasi anak-anak tersebut.

Sebenarnya prosedur kunjungannya tidak susah dan bisa ditemukan di website-website CS berikut (http://www.correctiveservices.nsw.gov.au/offender-management/correctional-centres/silverwater-correctional-centre), (http://www.correctiveservices.nsw.gov.au/__data/assets/pdf_file/0007/311389/What-can-be-taken-into-a-correctional-centre.pdf), (http://www.correctiveservices.nsw.gov.au/_media/dcs/information/information-for-visitors/Prohibited_items.pdf). Tetapi ternyata ada saja kendala di lapangan yang di luar kendali kita.

Kunjungan ini sebaiknya didasarkan pada niat silaturahmi dan mencari peluang untuk membantu, bukan untuk menginterogasi. Pengunjung sebaiknya berhati-hati ketika bertanya tentang kasus yang sedang mereka alami kecuali mereka sendiri yang berkenan bercerita. Kunjungan hanya sekali saja tentunya tidak akan cukup untuk mendapatkan informasi banyak tentang kisah kasus mereka ini.

Kisah Ose, Ako, John dan yang lainnya ini seharusnya menjadi cambuk bagi pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini. Paling tidak sosialisasi tentang seluk-beluk jaringan bisnis ini mutlak dilakukan pada masyarakat yang tinggal di wilayah-wilayah yang sering jadi titik keberangkatan kapal-kapal ilegal ini.

Selamat berkunjung ke ‘dunia lain’ selain kampus πŸ™‚