Setelah menyimak keberhasilan beberapa program Better Beginning di kisah sebelumnya, teman-teman pasti tidak sabar lagi mau tahu seperti apa sih Better Beginnings Carnivale.

Better Beginnings Carnivale

Kupu-kupu menjadi ikon program Better Beginnings. Kupu-kupu merupakan simbolisasi kemampuan terbang menjelajahi dunia melalui membaca (sumber:www.better-beginnings.com.au)

Untuk lebih menarik animo masyarakat lebih banyak lagi, BB pun meluncurkan websitenya. Peluncuran website (www.better-beginnings.com.au) ini cukup wah dan meriah melalui penyelenggaraan Better Beginnings Carnivale yang bertempat di WA State Library pada tanggal 15 April 2012. Banyak sekali aktivitas menarik yang sayang untuk dilewatkan  antara lain face painting, story telling yang dikemas apik dengan puppet show, pertunjukan musik oleh band lokal Boys Boys Boys yang mendendangkan lagu anak-anak yang popular. Pertunjukan musik adalah aktivitas favorit buah hatiku Bagas karena banyak sekali lagu-lagu yang dinyanyikan merupakan lagu yang tidak asing di telinganya. Tanpa rasa risih atau pun malu, Bagas ikut berteriak dan bernyanyi sambil bertepuk tangan riang. Selain itu juga ada pertunjukan sulap yang membuat anak-anak berdecak kagum dan Hairy Tales of hero Boy Photo  Booth dimana si kecil maupun orang tua bisa berpose gratis dan siapa tahu bisa terkenal mendadak karena semua foto yang diambil di booth ini akan diunggah semuanya di website.

Oh ya ada satu aktivitas yang palik menarik perhatianku, yaitu book cubby. Book cubby ini merupakan program BB untuk mengajak anak-anak untuk membuat buku sederhana dan mempublikasikan buku tersebut. Anak-anak pun didorong untuk menuangkan kisah-kisah apa saja yang berkesan didalam buku tersebut, misalnya mengenai keluarga, teman, sekolah maupun hewan kesayangan. Kisah tersebut bisa dalam bentuk tulisan maupun gambar. Mereka bebas mengeskpresikan imajinasinya dalam kertas ukuran A4 yang dilipat menjadi 8 bagian sehingga menyerupai buku. Buku-buku ini pun dikumpulkan dan dicetak menjadi buku-buku besar berisi kisah imajinasi anak-anak di Australia Barat. Sungguh ide sederhana yang dampaknya luar biasa untuk membangun kepercayaan diri anak dan menstimulasi imajinasi mereka.

imajinasi anak dituangkan dalam bentuk buku sederhana di Book Cubby (sumber:www.better-beginnings.com.au)

Satu pelajaran berharga yang kupetik selama carnivale ini adalah betapa pemerintah dan masyarakat berkontribusi secara nyata dan konsisten untuk mengkampanyekan program membaca sedari dini. Perpustakaan menjadi tempat favorit keluarga dan masyarakat untuk berakhir pekan. Sungguh…bukan maksud hati untuk mendiskreditkan negeri sendiri. Kenyataan yang terjadi pemerintah dan segenap masyarakat Indonesia tercinta seakan tutup mata ataupun tidak menyadari bahwa kegiatan positif membaca sejak kecil bisa merangsang imajinasi anak, membuka cakrawala dan menumbuhkan kebiasaan yang terus dibawa ketika besar. Mungkin juga sebagian masyarakat tahu pentingnya membaca dan mungkin mereka tidak tahu memulai dari mana. Terkadang aku bertanya sendiri apakah suatu utopia jika di tiap kota di Indonesia ada perpustakaan yang dilengkapi program yang menarik dan buku-buku yang bisa mengakomodir semua kelompok umur. Program BB ini mungkin bisa menjadi bahan kontemplasi dan bench mark bagi kita semua untuk merancang program yang bisa membangkitkan minat masyarakat untuk membaca dan datang ke perpustakaan.  Tidak perlu dimulai dengan program besar yang boros pendanaan. Kita bisa memulai dengan mengoptimalkan program dan fasilitas yang ada. Ambil contoh program perpustakaan keliling. Mobil perpustakaan keliling bisa digunakan untuk menyapa para ibu-ibu yang membawa balitanya ke posyandu. Sambil menunggu antrian, para ibu pun bisa menghabiskan waktu sejenak untuk membacakan buku untuk anak-anaknya. Budaya gemar membaca juga bisa dimulai dari lingkup yang paling kecil yaitu keluarga. Sebagai orang tua, alangkah baiknya jika kita menyisihkan waktu sekitar 30 menit saja untuk membaca bersama anak-anak. Selain itu, perpustakaan yang adapun digiatkan untuk lebih unjuk gigi dan memperkenalkan diri beserta program yang bisa mengundang masyarakat untuk datang.  Memang bukan pekerjaan mudah, tapi kalau kita semua bekerja sama dan pemerintah juga mempunyai komitmen yang kuat, budaya gemar membaca pun akan menjadi milik bangsa Indonesia.