Kuliah di luar negeri dan itu di Australia, merupakan impian saya sejak kecil. Bermula dari seorang tante yang kuliah di salah satu universitas di Sydney dan dia menghadiahi saya sebuah boneka koala mungil dengan gaun berwarna pink saat saya berusia 10 tahun. Dari boneka tersebutlah, impian demi impian telah terajut. Boneka koala yang selalu memberikan saya inspirasi bahwa “suatu saat saya harus ke Australia”. Dan alhamdulilah, my dream comes true.. sekarang saya berada di Australia untuk menyelesaikan program Master jurusan Gerontology and Rehabilitation Studies di University of Wollongong, New South Wales dengan beasiswa Dikti.

Sumber dari www.teddytreasures.com.au

Setelah menyelesaikan SMA, saya merantau dari tempat kelahiran saya di Pontianak ke Surakarta pada tahun 2005. Saya mengambil jurusan Fisioterapi di Fakultas Ilmu Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta. Pengalaman merantau yang saya rasakan begitu challenging karena saya tidak memiliki keluarga di Surakarta. Namun pengalaman ini juga saya rasakan begitu indah dan valuable karena sebelumnya saya yang manja dan ‘ringkih” (gampang sakit) akhirnya bisa belajar untuk mandiri dan lebih kuat. Di akhir masa studi selama hampir 1 tahun saya harus berpindah ke sekitar 14 rumah sakit untuk praktek klinis/coas dan mungkin itulah masa-masa saya mendapat banyak sekali pelajaran dan pengalaman mulai dari bertemu pasien di berbagai daerah hingga dituntut harus bisa menjadi sosok yang cepat beradaptasi di lingkungan baru.

Setelah menyelesaikan studi S1, mungkin kerabat dan keluarga akan mengira saya kembali ke tanah kelahiran, mengabdikan diri di sana dan berkumpul kembali bersama orang tua dan keluarga. Namun mimpi dan harapan yang sangat kuat, saya ingin melanjutkan S2 di Australia, itu yang saya katakan ke orang tua saya. Dengan restu dari orang tua, setelah lulus kuliah, saya menyusun strategi awal yaitu mendalami bahasa inggris, satu hal yang sangat penting sebagai bekal untuk bisa diterima dan survive mengenyam pendidikan di luar negeri. Akhirnya saya memutuskan untuk belajar bahasa Inggris di “Kampung Bahasa Inggris Pare” Kediri selama sekitar 3 bulan. Mengenai kampung bahasa ini, saya rasa sangat recomended bagi yang memiliki waktu luang karena selain biayanya lebih murah, kampung ini juga menyediakan asrama yang menuntut para siswa untuk full speaking english dalam keseharian dan didukung pula oleh suasana belajar yang nyaman. Ketika saya disana (tahun 2010), tempat ini terdapat sekitar 60 kursusan dengan berbagai macam spesifikasi.

Sambil saya mempelajari bahasa inggris, saya mencoba apply ke University of Wollongong. Entah mengapa, sejak pertama saya sangat tertarik dan yakin dengan universitas dan jurusan ini, saya tertarik dengan  gerontology (ilmu penuaan) dan active aging life untuk peningkatan kualitas hidup para lansia dari segi policy dan penanganan penyakit-penyakit yang disebabkan faktor usia. Setelah selesai dari mendalami bahasa inggris, Alhamdulillah saya diterima bekerja menjadi seorang dosen junior di jurusan dan universitas tempat saya menuntut ilmu sebelumnya. Dan harapan saya semakin kuat karena pemerintah Indonesia melalui Dikti menyediakan beasiswa untuk para dosen untuk studi S2 dan S3 ke luar negeri. Sedikit informasi untuk beasiswa Dikti, tidak seperti beasiswa ADS yang diperuntukkan untuk masyarakat luas dan diberikan training bahasa Inggris sebelumnya, beasiswa ini berasal dari pemerintah Indonesia yang diperuntukkan untuk para dosen dan calon dosen dimana persyaratannya yaitu sudah mendapatkan Unconditional Offer dari universitas yang dituju sehingga persyaratan bahasa inggris dan sebagainya sudah harus terpenuhi saat aplikasi.

Proses saya untuk mendapatkan beasiswa mungkin tidak terlalu panjang seperti cerita beberapa rekan yang telah mencoba mendapatkan beasiswa dikti maupun beasiswa dari pemerintah Australia seperti ADS, ALA, dsb. Itulah yang membuat saya pada awalnya merasa kurang yakin dan sebagainya karena saya merasa terlalu dini dan belum memiliki pengalaman berburu beasiswa, ditambah lagi alokasi beasiswa dikti untuk para dosen pada tahun 2011 lebih diprioritaskan untuk S3 sedangkan saya mendaftar untuk program S2. Namun saya lalu berfikir, apabila saya tidak mencoba, bagaimana saya akan tahu dan belajar akan sebuah pengalaman. Akhirnya saya memasukkan berkas aplikasi pendaftaran beasiswa saat saya telah 1,5 tahun mengajar, dan singkat cerita alhamdulillah saya dipanggil wawancara. Yang paling saya ingat pada saat wawancara adalah salah satu pertanyaan interviewer mengenai usia saya “How old are you?”.. “I’m twenty three years old” jawab saya.. “Really?? You’re too young.. if we give you this scholarship, are you sure that you can deal with everything over there? Sepertinya sang interviewer meragukan usia saya.. “Yes, I will.. For sure..I’m strong enough and very adaptable..” jawab saya dengan yakin.

With my lecturer

Ternyata atas berkah dan ijin dari Yang Mahakuasa, saya mendapatkan kepercayaan untuk menerima amanah berbentuk beasiswa ini. Berawal dari mimpi seorang bocah kecil yang ingin membeli sendiri boneka koala kesayangannya di Australia dan berkembang menjadi semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik, Alhamdulillah semua mimpi itu terwujud. Namun ini bukanlah akhir dari segala mimpi saya, saya akan terus menjadi seorang pemimpi, memimpikan hal-hal yang mendorong saya menjadi pribadi yang lebih baik tentunya. Semoga bermanfaat..