Sebagai mahasiswa S3 sekaligus ibu dari anak berusia 2 tahun plus istri dari seorang mahasiswa S3 juga, saya selalu bertanya kepada diri sendiri ketika melihat deadline penyerahan tesis, anak sakit, dan rumah yang berantakan: Apakah saya bisa meraih gelar doktor, tanpa mengurangi curahan perhatian kepada anak dan juga menyelesaikan urusan domestik plus mendukung suami yang juga tengah menyelesaikan studi S3-nya? Buat saya, menghadapi keempat hal tersebut terasa berat. Tak jarang saya menangis karena merasa sangat lelah.

Namun, saya tak sendiri. Banyak sekali perempuan di luar sana yang berjibaku dengan berbagai peran dan mereka menginspirasi saya untuk tetap berjalan tegak menjemput mimpi merampungkan sekolah. Dua orang diantaranya adalah perempuan bernama Liz dan Titik. Berikut adalah kisah mereka.

Kisah Liz

Liz adalah mahasiswa PhD asal Australia, yang juga kawan satu ruangan saya di program Demography ANU. Selain sebagai mahasiswa PhD, ia juga seorang ibu dari tiga anak perempuan berumur 15, 10, dan 5 tahun. Karena beasiswa S3 tidak cukup untuk hidup sehari-hari, Liz harus bekerja sebagai casual research assistant (RA) untuk seorang professor di program saya. Pasangan hidup Liz adalah seorang pekerja IT dan juga mahasiswa program S2 di kampus yang berbeda.

Saya tak bisa membayangkan bagaimana Liz bisa mengatur waktunya setiap hari. Bangun pagi, ia harus menyiapkan sarapan juga bekal lunch box untuk anak-anaknya. Lalu bersama partnernya, ia mengantar anak-anaknya sekolah sebelum berangkat kerja. Belum lagi pekerjaan domestik lainnya yang harus ia kerjakan seperti mencuci baju, membersihkan rumah, dan juga memasak makan malam. Di kantor, saya melihat Liz lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja sebagai RA daripada menulis tesis. Saya maklum karena Liz dan partnernya tak akan punya penghasilan yang cukup bila salah satu tak mencari nafkah.

Untuk urusan tesis, Liz mengaku kesulitan untuk menemukan waktu untuk menulis tesis. Ia harus menunggu anak-anaknya selesai makan malam agar ia bisa membuka laptop dan menulis, dengan asumsi anak-anaknya tidak sedang sakit. Ketika di kantor, tak jarang saya mendengar Liz mengeluh kurang tidur karena salah satu anaknya, atau salah dua atau bahkan ketiganya sakit. Macam-macam juga sakit mereka, dari mulai radang tenggorokan, sampai meningitis (radang otak) yang sangat berbahaya. Anak keduanya yang juga atlet anggar pernah patah tangan cukup parah akibat menubruk tembok saat turnamen. Akibatnya, Liz harus lebih banyak tinggal di rumah untuk merawat anaknya selama beberapa minggu. Karena absen cukup lama, ia pun harus lembur untuk pekerjaan RA-nya ketika ia sempat ke kantor.

Meski punya banyak tantangan dan terkadang kehilangan semangat, tapi saya tak pernah melihat surutnya niat Liz menyelesaikan PhD. Di tengah riuh rendah kehidupannya, Liz menjadi sangat realistis dalam menulis tesis. Awalnya ia ingin berkutat dengan modelling yang kompleks, tapi setelah menimbang berbagai kondisi, ia pun memilih pendekatan yang lebih sederhana namun tetap meaningful. Meski realistis, ia tetap idealis, terutama soal kualitas tesisnya. Ia sangat hati-hati dengan teknik analisis serta tulisan di setiap bab. Di tengah kesibukannya, Liz masih suka membantu. Liz sangat sering membantu saya, terutama soal berbagi pengalamanya mengurus anak serta memperbaiki tulisan serta teknik presentasi saya. Juga, Liz masih sempat menjadi pendengar yang baik. Tak heran jika ia sangat populer. Setiap hari, ada saja orang mencarinya baik untuk ngobrol urusan pekerjaan atau hanya curhat semata.

Dari kacamata orang Australia, Liz termasuk perempuan yang melawan arus. Tak seperti di Indonesia di mana keinginan untuk punya anak hampir universal, perempuan di Australia tak banyak yang ingin dan (sudah) punya anak, apalagi sampai tiga orang. Juga, di Australia tak banyak perempuan dengan anak yang studi S3 full-time seperti Liz karena mereka tak mau kehilangan pendapatan selama 3 tahun karena harus PhD. Karena hal tersebut, Liz termasuk perempuan yang berani. Ia bekerja keras meraih gelar PhD tanpa mengurangi tanggung jawab kepada keluarganya.

(bersambung ke Bagian 2: Kisah Titik)