Banyak sekali perempuan di luar sana yang ber-jibaku dengan berbagai peran dan mereka menginspirasi saya untuk tetap berjalan tegak menjemput mimpi merampungkan sekolah. Berikut adalah kisah seorang perempuan Indonesia, ibu tiga anak merampungkan studi S3 di Australia.

Kisah Titik

Titik adalah perempuan Indonesia yang baru saja selesai menempuh studi S3 di bidang ekonomi di ANU. Titik adalah dosen saya ketika masih S1 di UI. Kami menjadi kawan baik ketika bertemu lagi di Canberra. Titik juga seorang ibu tiga anak yang berusia 9, 7, dan 4 tahun ketika mereka tiba di Canberra. Awalnya sang suami ikut serta, namun karena mendapat tawaran karir di Indonesia, akhirnya Titik harus sendirian mengurus ketiga buah hatinya di Canberra sambil menulis tesis.

Saya juga tak bisa membayangkan bagaimana Titik mengatur waktu. Pagi hari ia mengantar anak-anaknya ke sekolah sebelum ia ke kantor untuk menulis tesis. Ketika jarum jam menunjuk pukul tiga sore, ia harus menjemput mereka dan pulang untuk memasak makan malam, menemani anak-anaknya belajar, dan masih banyak lagi tugas domestik lainnya. Ia akan membuka laptop dan meneruskan mengerjakan analisis data ketika malam hari dan pastinya ia sudah lelah.

Meski sibuk mengurus tiga anak, Titik adalah mahasiswa PhD yang ideal dalam pandangan saya. Ia hadir di berbagai konferensi dan seminar untuk presentasi hasil studinya. Ia menjadi pembahas di sebuah seminar bergengsi β€˜Indonesia Update’ di ANU tahun 2011 untuk membawakan pemikirannya yang kritis. Titik juga menyelesaikan tesis sebelum masa beasiswanya berakhir. Sebuah kondisi ideal yang menjadi impian semua PhD candidate.

Di luar urusan tesis dan anak, Titik adalah kawan yang ideal. Ia tipe pendengar yang baik. Semua orang bisa curhat dengannya tanpa ragu. Ia juga sangat easy going. Hal tersebut terlihat dari caranya menyikapi kesibukan menulis tesis sambil mengurus anak dengan tenang. Saya hampir tak pernah mendengar ia mengeluh repot atau sulit. Biasanya ia tertawa saja ketika menceritakan bagaimana hebohnya ia mengatur waktu.

Tiga bulan sebelum masa studinya berakhir, Titik harus berpisah dengan ketiga buah hatinya. Anak-anaknya harus pulang agar bisa masuk sekolah di Indonesia sebelum tahun ajaran baru dimulai. Ia pun bekerja keras dengan konsentrasi penuh untuk menyelesaikan tesisnya tepat sebelum beasiswanya berakhir. Titik pun masih menjalankan perannya sebagai ibu walaupun jarak jauh. Lewat skype, ia masih membantu anak-anaknya mengerjakan PR dan menyiapkan ujian. Meski banyak rintangan, antara lain masalah dengan document formatting yang njelimet, akhirnya ia berhasil menyerahkan tesisnya tepat waktu. Hal tersebut membuat saya berkesimpulan bahwa Titik adalah perempuan super. Ia berhasil meraih mimpinya menyelesaikan PhD tanpa mengurangi kasih sayang kepada ketiga anaknya.

Ketika saya memberi tahu Titik bahwa saya menulis tentang dirinya, dengan rendah hati ia berkata, ”Β My sucess was because of the combination of three factors: my determination, the support of my family (my hubby and my kids) and the support of my friends in Canberra. Kalau gak ada teman2 yang super di Canberra belum tentu aku selesai pada waktunya.”

Bercermin dari kisah Liz, Titik dan ribuan perempuan lainnya

Liz dan Titik adalah 2 contoh dari fenomena perempuan menyeimbangkan karir dan keluarga. Banyak sekali hal yang mereka korbankan, terutama waktu dan tenaga. Prioritas utama mereka adalah keluarga, namun mereka tetap konsisten dan persisten untuk menyelesaikan sekolah. Mereka adalah perempuan yang berani mengambil risiko untuk sekolah lagi namun tetap konsisten melakukan tanggung jawabnya sebagai ibu.

Sehingga, ketika saya melihat Liz dan Titik, saya selalu berpikir: Kalau mereka bisa, kenapa saya tidak?