Meneruskan posting pertama tentang “Gagal bukan berarti Kiamat”, setelah tahu bahwa saya gagal dalam mata kuliah Microeconomis, ada dua pilihan yang ditawarkan oleh Department. Pertama, mengambil lagi mata kuliah itu pada tahun berikutnya dengan resiko kalau tidak lulus lagi berarti harus meninggalkan program PhD. Opsi kedua, pindah ke jurusan lagi dan tidak perlu mengambil mata kuliah itu. Dari sekitar 20 orang yang gagal hanya sekitar 6 orang yang mengambil opsi pertama, sisanya ada yang pindah ke jurusan lain bahkan ada yang pindah ke universitas lain.

Sebelum semester baru dimulai pada tahun berikutnya, saya bertemu dengan Academic Advisor dan memberitahu rencana saya untuk mengambil lagi mata kuliah Microeconomics. Beliau mendukung keputusan saya dan satu pernyataan beliau yang benar-benar menohok adalah… “What have you learned from your failure last year?” dan saya hanya bisa nyengir kuda saja… hmmmmm apa ya…..

Beliau menanyakan selama ini metode belajar saya bagaimana, berapa sering ketemu sama dosen pas office hour mereka. Saya mengaku kalau saya jarang datang ke office hours karena malu ketahuan ga ngerti sama dosennya. Sang Academic Advisor malah ketawa.. “We are here to help you, that’s the reason we have office/consultation hours. If you never show up to the office hours, how can the lecturer know that you pay attention to his/her class. If you go to the office hours quite frequent, and then at the end of the semester when your grade is at the border between Fail and Pass, the lecturer knows that you’ve worked hard during the semester and he/she might give further consideration. But if he does not know you at all, he will let you fail for sure”.

Memang saya akui, saya tidak pernah datang ke office hours karena saya takut pertanyaan yang diajukan terlalu “bodoh”, jadi lebih baik diam saja. Dan ternyata taktik itu salah…. Karena kalau dipikir-pikir memang benar, bagaimana dosen itu tahu kalau kita perhatian dengan mata kuliah dia kalau kita tidak pernah menunjukkan bahwa kita punya perhatian.

Pada semester itu saya mengubah cara belajar. Sejak kuliah S1 saya sudah punya kebiasaan untuk mencatat kuliah yang diberikan dosen di kelas di kertas buram. Sampai di rumah baru saya salin kembali di buku catatan. Dengan metode ini paling tidak  sudah mengulang pelajaran itu satu kali. Belum lagi kalau sedang rajin, dengan membaca semua bahan sebelum masuk kelas. Kalau sudah melakukan itu semua, paling tidak kita sudah mendengar/membaca bahan yang sama tiga kali, yaitu sebelum masuk kelas, kedua pada saat dosen menerangkan dan ketiga pada saat saya mencatat kembali dari kertas coretan ke buku catatan. Jadi pas mau ujian tinggal baca sekali lagi.

Selain itu, saya juga mengikuti saran Academic Advisor saya untuk sering-sering ketemu dosen pas office hours dan bertanya segala sesuatu yang saya belum mengerti. Dan ternyata, sang dosen killer itu tidak se-killer yang saya kira dan bahkan dia sangat helpful.

Satu tip lagi adalah belajar berkelompok. Saya dapat pengalaman berharga dengan belajar kelompok ini. Sehari sebelum ujian kami belajar berkelompok dan salah satu teman menanyakan sesuatu yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Karena pertanyaan teman  itu, malamnya saya buka lagi catatan dan textbook untuk mencari jawabannya karena penasaran. Dan di luar dugaan, pertanyaan itu muncul di soal ujian keesokan harinya dan Alhamdulillah saya bisa menjawab pertanyaan itu. Salah satu “kesalahan” yang dilakukan teman-teman Indonesia adalah kita lebih senang belajar kelompok dengan sesama orang Indonesia dengan dalih lebih mudah berkomunikasi. Padahal sebenarnya belajar berkelompok dengan teman dari negara lain memberi manfaat tambahan yaitu kita bisa makin memperlancar bahasa Inggris kita dan juga latihan menjawab pertanyaan pada saat ujian karena kita harus menjawab dalam bahasa Inggris bukan.

Akhirnya, dengan mengubah cara belajar saya selama satu semester itu, saya berhasil lulus mata kuliah Microeconomics , bukan cuma sekedar PASS tapi saya dapat nilai CREDIT karena nilai akhir saya 60. Saya tidak tahu apakah benar karena saya sudah menguasai bahannya atau sang dosen “killer” itu hanya kasihan sama saya… 🙂