Well..

Hampir 5 bulan saya tinggal di Australia untuk menempuh Master of Sustainable Development di Macquarie University dan hampir berakhir pula lah semester pertama saya. Susah senang yang saya hadapi selama masa perkuliahan ini (sebisa mungkin) dengan tenang, sampai akhirnya pada bulan Mei ini saya benar-benar merasa kewalahan dan hampir putus asa. Tapi hikmahnya adalah, saya jadi dapat inspirasi untuk menulis tentang masalah-masalah yang biasa dihadapi mahasiswa di luar negeri. Poin-poin di bawah ini adalah hasil penelitian saya dengan subjek diri sendiri dan teman-teman dekat. Hehehe.. Berikut hasilnya:

1. Culture Shock dan Culture Bump

Tentunya kebiasaan-kebiasaan disini berbeda dengan di Indonesia. Contohnya adalah waktu pertama kali ketemu convenor (dosen koordinator jurusan) saya, dia bilang “Bintan, you don’t have to be too polite”. Lol! Waktu itu saya bicara pelan-pelan dan manggut-manggut penuh hormat, padahal saya hanya berusaha untuk sopan mengingat beliau mungkin sekitar 60-something. Masalah culture shock dan culture bump ini biasanya akan selesai sendiri seiring berjalannya waktu, karena lama-lama kita akan mulai bisa ‘mengikuti irama’ kehidupan di Australia.

2. Kuliah, Tugas, dan Bahasa

Untuk mahasiswa lokal, kuliah ya kuliah. Denger dosen, catet, beres. Tapi untuk mahasiswa international, kita harus berjuang juga untuk memahami materi yang diberikan mengingat bahasa Inggris bukanlah bahasa pertama kita. Hal ini juga kadang berlaku saat baca buku atau jurnal, perlu waktu lama untuk bisa memahami maksud yang tersirat. Dalam hal menulis, tantangan yang saya hadapi adalah bagaimana menghentikan kebiasaan saya untuk berfikir dalam bahasa Indonesia dan menterjemahkannya ke bahasa Inggris (berpengaruh pada sentence structure). Untungnya, saya tinggal di shared house dengan teman dari berbagai negara, jadi setiap saat in English. Hasilnya, sekarang relatif lebih mudah untuk memahami kuliah maupun bacaan.

Selain itu, susahnya ‘menggerakkan diri’ untuk mengerjakan tugas alias menunda-nunda atau proskratinasi kadang jadi salah satu hambatan. Terutama mungkin untuk teman-teman yang sudah berkeluarga atau kuliah sambil kerja part time. Cara mengatasinya adalah dengan memahami pola belajar. Misalnya untuk saya pribadi, saya selalu menerapkan prinsip ‘Never Zero Progress’, jadi setiap hari saya selalu menyempatkan diri untuk ‘menyentuh’ tugas walaupun hanya menulis satu kalimat atau membaca satu paragraf. Selain itu, saya juga lebih konsentrasi belajar di perpustakaan daripada di rumah (kalau di rumah selalu tergoda untuk nonton serial TV. hoho), jadi saya mengatur jadwal harian saya dengan perpustakaan di salah satu agendanya.

3. Pertemanan Multi-Cultural

Tinggal bersama orang dari beda-beda negara bikin saya shock pada awalnya, dan salah satu teman saya pun pernah ‘ngewarning’ saya soal tinggal dengan orang non-Indonesia. Mulai dari soal kebersihan lah, masakan nyengat lah, mereka gak suka kamar mandi basah lah. Tapi akhirnya, saya belajar satu hal: Jangan menjudge! Kebersihan, sifat, dan kepribadian seseorang gak tergantung sama nationality nya, dan semuanya tergantung dari bagaimana kita membawa diri. Saya mungkin perlu mengubah beberapa kebiasaan, seperti misalnya berusaha menjaga kamar mandi tetap kering, dengan cara wudhu di wastafel atau bath-tub. Selain itu, ‘minta maaf duluan’ kalau mau masak yang nyengat-nyengat dan tentunya memperbolehkan teman-teman saya untuk nyicip makanan. Selain itu, hal-hal sepele seperti misalnya menjaga ketenangan (tidak berisik) setelah jam 10 malam juga penting. Untuk hal ini, saya belajar beradaptasi sedikit demi sedikit. Alhasil, sekarang saya happy-happy saja tuh. 🙂

Bersama Teman-Teman di Acara Ulang Tahun

4. Makanan

Di Marsfield (daerah tempat saya tinggal), enggak ada sama sekali restoran Indonesia, dan saya gak punya banyak waktu untuk berjalan-jalan ke daerah Kensington atau Maroubra yang relatif banyak terdapat restoran Indonesia. Alhasil, craving for Indonesian food jadi salah satu masalah buat saya.  Alternatifnya: masak sendiri atau temuin makanan kesukaan lain. Saat ini saya lagi suka banget Zucchini dan Oyster. Gampang, sehat, dan enak! Hehe

5. Homesick

Untuk yang tidak membawa keluarga seperti saya, pasti berat banget rasanya menjalani semuanya sendirian. Ada kalanya saya kangen berat sama keluarga dan pengen pulang saja rasanya. Cara saya menghadapi masalah ini adalah dengan selalu fokus pada tujuan dan bersyukur. Ingat-ingat tentang cita-cita yang ingin saya capai nantinya, dan bersyukur bahwa akhirnya saya bisa bersekolah di sini. Selain itu, walaupun rasanya belum cukup, tapi saya berusaha sesering mungkin berkomunikasi via telepon dengan orang-orang terdekat.

Oke, berikut ‘curhat’ saya tentang tantangan berkuliah di Australia. Mungkin terdengar berat, tapi percayalah kalau saat kita menjalani suatu hal, pasti akan diuji. Sisanya tinggal bagaimana kita mengatur diri untuk tetap maju, fokus, dan optimis. Sampai jumpa di post selanjutnya. 🙂 #B