Kuliah dan tinggal di Sydney adalah salah satu mimpi saya sejak lama yang akhirnya terwujud di tahun 2001-2005. Melihat nyamannya sarana transportasi publik dan indahnya taman-taman kota yang mungkin tidak dapat ditemukan di Jakarta, membuat saya semakin jatuh cinta pada Sydney. Kegiatan menjajal rute bis baru, wisata kuliner atau sekedar menyusuri daerah baru yang belum pernah saya lewati sebelumnya, hampir setiap hari saya lakukan sebelum atau sepulang kuliah dan juga di kala weekend.Kalau tidak bersama teman, sendiri pun ayo.

Selama ini hidup di luar negeri saya kira seperti di film-film yang saya lihat. Mobil-mobil diparkir tapi tidak dikunci dan orang-orang yang selalu siap membantu. Namun, pengalaman saya berikut ini membuat saya jadi sedikit merubah persepsi tersebut dan lebih waspada saat melakukan hobi mengeksplor sudut-sudut kota. Ternyata tinggal di Sydney pun, tidak luput dari drama kecopetan. Saya kecopetan hampir dua kali!

Yang pertama, saya akui saya memang ceroboh. Saya sedang window shopping ke toko-toko yang ada di Pitt Street Mall. Kemudian saya masuk ke salah satu toko yang cukup besar. Saat berada di dalam toko tersebut, saya sempat menerima telepon. Setelah berbicara beberapa saat, saya meletakkan telepon genggam tersebut di saku depan tas saya dan menutup ritsletingnya. Waktu itu saya mengenakan tas yang jenisnya seperti postman bag berwarna merah.

5 menit kemudian, saya kembali meraih telepon genggam tersebut untuk mengirimkan sms. Astaga! Ritsleting tas terbuka, telepon genggam saya sudah raib. Saya langsung terduduk lemas. Kemudian saya melapor ke pegawai toko untuk bisa mencoba melihat rekaman cctv yang terpasang. Sayangnya, mereka tidak bisa membantu dengan alasan atasannya yang biasa mengatasi hal tersebut sedang tidak ada di tempat. Percuma kalau menunggu, malingnya mungkin sudah jauh. Sehingga saya harus merelakan telepon genggam itu 🙁

Yang kedua kejadiaannya sangat dramatis, seperti di sinetron. Kali ini saya sedang berjalan-jalan sendiri di Capitol Square di area George Street. Iseng-iseng bikin foto stiker buat dikirim ke keluarga. Banyak anak-anak muda yang bergerombol di arena permainan yang ada di gedung itu.

Lokasi saya kecopetan

Sekitar jam 5.30 sore, saya berjalan ke arah Belmore Park menuju ke Central Station lewat Pitt Street. Saya baru saja mengirimkan sms dan menggenggam telepon di tangan kanan. Tiba-tiba, ada yang menarik telepon saya dari belakang. Saya sempat mengira salah satu teman saya yang bercanda menarik telepon itu. Begitu saya menoleh, lho kok saya tidak kenal. Seorang anak muda, sekitar 14-15 tahun, berusaha untuk mencopet telepon saya. Saya langsung berteriak, “Help!!!!!!! He’s trying to steal my phone!” Langit belum terlalu gelap dan ada beberapa orang yang berdiri tak jauh dari tempat saya. Namun, tidak ada satupun yang berusaha membantu.

Tarik-tarikan HP itu terus berlangsung, saya berusaha mempertahankan HP saya, copet itu juga berusaha menarik lebih kuat. Sampai akhirnya tenaga saya habis. Si copet berhasil mendapatkan telepon dan lari ke arah Central Station. Saya mencoba mengejar dan sempat minta tolong petugas sekuriti sebuah gedung. Tapi dia hanya berkata “You should say Thank God. It’s only your phone, it’s not your life”.

Tiba-tiba, ada seorang lelaki berusia sekitar 25 tahunan muncul di samping saya dan bertanya “What happened?”

Sambil menunjuk copet itu di kejauhan saya bilang, “That boy stole my mobile”. Dia berkata, “let’s catch him”, dengan bingung saya jawab “How? He’s too far”. Jawaban dia bikin saya makin bengong, “Don’t worry, I’m a marathon runner. I can catch him. Follow me”. Lalu dia lari secepat kilat.

Saya ketinggalan jauh. Pas celingak-celinguk di Central Station, tiba-tiba marathon runner itu muncul dan berkata “I caught the thief, he’s in the police station. Now go get your phone”. Antara tidak percaya dan bersyukur saya mengucapkan terimakasih.

Saat membuat berita acara dan menceritakan kronologi kejadian tadi pada polisi, si polisi bercerita cara si marathon runner menangkap copet. “Freeze! Put your hands where I can see them!” sambil pura-pura menodongkan senjata saat melihat copet itu. Si copet langsung melemparkan HP dan mengangkat tangan. Mau tidak mau cerita itu bikin saya dan polisi ketawa ngakak.

Akhir cerita HP saya kembali, tapi saya sedikit menyesal tidak sempat minta nomor telepon atau alamat marathon runner itu untuk sekedar mengirimkan tanda terimakasih. Sejak itu, saya lebih berhati-hati saat meletakkan barang berharga di saku dalam tas, tidak melewati daerah sepi atau taman saat akan gelap atau malam tiba, dan cari daerah ramai apabila berjalan sendiri.  Kalau kata bang Napi, waspadalah! 🙂