Februari 2000, pesawat Garuda mendarat di Bandar Udara Kingsford Smith, membawa saya dengan perasaan campur aduk seperti kebanyakan overseas students baru: senang, excited sekaligus sedih dan deg-degan. Penantian selama dua tahun untuk memulai hidup sendiri di kota Sydney pun berakhir—dari kelas 2 SMA saya sudah berangan-angan kepingin jadi mahasiswi University of New South Wales. Keyakinan yang tadinya melekat kuat di hati mulai goyah dengan pertanyaan-pertanyaan yang hinggap di benak,“Bisa gak ya hidup mandiri di negeri orang?” atau “Bisa gak ya biasakan diri dengan kehidupan orang sini?”

Saat itu saya datang bersama bapak, kami menginap di Parade Lodge yang tidak jauh dari kampus. Selama enam hari bapak menemani saya mengurus persiapan memasuki kuliah dan mencari akomodasi, atau istilah yang beliau suka gunakan, “pondokan.”  Ternyata, Denny, teman satu foundation studies di Jakarta, juga menginap di lodge yang sama dengan kami. Kami satu kampus, tetapi berbeda jurusan.

Suatu pagi, bapak tergopoh-gopoh masuk ke dalam kamar dan berkata, “Denny sudah dapat pondokan, tuh! Katanya masih ada kamar lagi di sana. Lihat, yuk!” Kami pun bergegas pergi ke homestay milik orang Indonesia itu. Melihat kamar yang besar dan nyaman serta suasana rumah yang bersih dan tenang, kami memutuskan untuk mengambil kamar tersebut. Rasanya lega sekali berhasil menemukan tempat tinggal yang cocok, setelah beberapa hari sibuk mencari ke sana ke mari.

Enam hari berlalu begitu cepat dan Minggu sore itu tiba menandai dimulainya kehidupan mandiri saya di Sydney. Di Central Station, saya menatap bapak melangkahkan kaki ke bus yang akan mengantarnya ke Melbourne untuk mengunjungi kakak sebelum bertolak kembali ke Jakarta. Dalam perjalanan pulang ke rumah yang baru, saya tidak bisa menepis rasa sedih yang menyerang. Hari yang mendung semakin membuat suasana hati menjadi sendu. Namun, untunglah saya dikelilingi oleh teman-teman yang menyenangkan.

Walaupun sempat mengikuti foundation studies di Jakarta, ternyata kuliah sangatlah berbeda. Sebelumnya di foundation studies saya dituntut untuk bergerak lebih cepat dibandingkan di SMA. Saat kuliah, saya dituntut untuk bergerak berpuluh-puluh kali lipat lebih cepat lagi. Kami pernah diharuskan mengambil mata kuliah yang menuntut begitu banyak waktu di laboratorium (kalau laboratoriumnya buka 24 jam, mungkin kami sudah camping di sana!) sementara mata kuliah lainnya berebutan mencari perhatian kami.

Wisuda tidak lengkap tanpa foto wajib di depan gedung jurusan.

Tak terasa, empat tahun berjalan begitu cepat. Akhirnya saya bisa mencicipi seperti apa rasanya mengenakan toga! Saya ingat bagaimana ketika kuliah lagi lucu-lucunya (baca: assignment menumpuk, ujian di depan mata, kantuk yang tidak kunjung pergi akibat berkurangnya jam tidur, dan lain-lain), saya dan teman-teman menatap iri para (mantan) mahasiswa yang bergembira ria dan sibuk berfoto pada hari wisuda mereka. Giliran kami pun tiba untuk puas-puasin foto di kampus dengan aksesori karangan bunga dan teddy bear yang tidak mau kalah ikutan pakai toga juga. Namun, lagi-lagi hati saya diliputi perasaan campur aduk di hari keberangkatan saya ke Jakarta—antara senang karena sudah lulus dan sedih harus meninggalkan Sydney. Begitu banyak suka dan duka yang saya alami di Sydney. Walaupun saya pertama kali mengalami kecopetan, rumah kebobolan, dan perlakuan yang tidak senonoh dari orang yang tak dikenal di kota itu (mudah-mudahan bisa saya ceritakan lebih lanjut di tulisan berikutnya), bagi saya Sydney sudah seperti rumah kedua. Tidak akan terlupakan betapa lezatnya es krim rasa wasabi di Passion Flower di Darling Harbour dan pancake di The Rocks (ketahuan tukang makan, ya?), betapa menyenangkannya berpiknik di Pyrmont, betapa serunya mempersiapkan sebuah acara bersama teman-teman PPIA, serta betapa indahnya Circular Quay, Centennial Park, Hyde Park, dan begitu banyak tempat lainnya.

Si ABG berlibur bersama keluarga.

Suatu hari saat sudah kembali ke Indonesia, saya menemukan tulisan di buku harian saat masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Saat itu saya sedang liburan di Sydney dan menulisnya di kamar hotel Holiday Inn Park di Oxford Street.

Gue pengen deh tinggal di sini. Enak juga sih! Cuman dinginnya itu loh. Bikin orang males mandi.

(Mohon maaf tata bahasa yang kacau balau. Maklum, ABG.)

Saat itu sama sekali saya tidak mengira jika tulisan saya akan menjadi kenyataan!

Kini, nyaris sepuluh tahun saya meninggalkan Sydney. Kalau ditanya kepingin tidak saya kembali ke sana, jawabannya sudah pasti ya! Apalagi masih banyak tempat yang belum sempat saya kunjungi. Namun, sampai saat ini kesempatan yang dinanti belum juga muncul. Mungkin saya harus menuliskan keinginan ini di buku harian lagi, ya?