Saya tidak pernah menduga bahwa keisengan melamar pekerjaan sebagai penyiar radio di Makassar adalah awal dari perubahan karir yang akhirnya membawa saya ke Australia. Saya sangat senang menjalani peran sebagai seorang penyiar meskipun saya menyadari bahwa tugas utama saya waktu itu adalah belajar untuk menjadi seorang dokter gigi demi membahagiakan orang tua.

Saya sering tertawa sendiri saat mengingat pengalaman berburu berita di Makassar, sekitar akhir tahun โ€˜90an. Pasalnya, saat itu, sebagai mahasiswi tingkat akhir Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin, saya berkewajiban untuk mencapai target jumlah pasien yang harus saya tangani di klinik kampus. Terkadang, saya tiba-tiba ditugaskan untuk meliput demonstrasi pada saat saya sedang dalam perjalanan ke klinik. Alhasil, saya berburu berita dengan mengenakan rok panjang, sepatu berhak dan sedikit dandan (biar kelihatan presentable di depan pasien ๐Ÿ˜Š). Saya juga harus menenteng alat perekam suara manual yang lumayan besar di bahu kiri sementara bahu kanan saya diberati dengan tas berisi perlengkapan diagnostic gigi. Awalnya rekan sesama jurnalis ataupun narasumber sempat bingung dengan penampilan saya yang โ€˜lain sendiriโ€™, tapi, lama kelamaan mereka memaklumi profesi ganda saya ๐Ÿ˜Š

Saya sempat menjalani dua profesi itu selama tiga tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk pindah ke Jakarta setelah diterima menjadi calon jurnalis harian Kompas. Bangga juga sih menjadi satu-satunya jurnalis asal Makassar yang lolos berbagai seleksi ketat di daerah dan kemudian lulus tes wawancara akhir dengan 11 editor handal Kompas di Jakarta. ๐Ÿ˜Š

Sayangnya saya harus mengundurkan diri dari Harian Kompas pada saat ayah saya jatuh sakit dan memerlukan perawatan intensif. Saya bahkan bersedia untuk dinikahkan dengan calon pilihan orang tua demi membahagiakan ayah. Tapi, Tuhan sungguh maha pengasih. Ayah saya diberikan kesembuhan dan dibukakan mata hatinya untuk membatalkan perjodohan saya dengan pria yang saya tidak kenal.

Setelah ayah saya pulih dari sakitnya. Saya kembali mencari pekerjaan dan mendengar tentang lowongan di Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Sempat keder juga waktu mengikuti tes wawancara dengan Atase Pers saat itu. Soalnya, saya merasa kesulitan mengerti aksen Australia yang begitu kental. Apalagi, kandidat lain terlihat begitu professional dengan setelan jas mereka sementara saya hanya bermodalkan celana panjang hitam dan kemeja lengan pendek. Surprise banget waktu saya menerima tawaran kerja keesokan harinya. Alhamdulillah, rejeki anak sholehah ๐Ÿ˜‰

Setahun setelah saya bekerja di Kedutaan, saya bertemu dengan Tony, pria asal Brisbane yang sedang posting di Indonesia. Di akhir tahun 2004, Tony melamar saya dan kami menikah di awal 2005. Tepat tanggal 17 Agustus 2005, kami tiba di Canberra.

Meskipun sudah mengantongi surat rekomendasi dari Kedutaan Besar Australia di Jakarta, saya masih kesulitan mencari pekerjaan di Canberra. Feedback yang saya dengar adalah karena gelar kesarjanaan saya bukan dari lembaga pendidikan Australia dan tidak sesuai dengan pekerjaan yang saya lamar. Akhirnya dengan berbekal surat remondasi itu saya diterima di University of Canberra untuk program Master of Marketing Comunications.

Biaya kuliah sebagai mahasiswi internasional tidaklah murah. Meskipun suami membantu saya membayar uang kuliah, saya harus mencari pekerjaan sambilan untuk membeli buku dan membayar pengeluaran lainnya. Maklumlah, namanya juga masih pengantin baru, masih malu minta uang ke suami ๐Ÿ˜‰

Untungnya, lamaran saya diterima oleh the National Library of Australia untuk posisi librarian di bagian Asian collection. Ternyata bos saya waktu itu orang Indonesia dan saya juga bisa berkenalan dengan beberapa orang Indonesia yang sudah tinggal puluhan tahun di Canberra. Bekerja di NLA sangat menyenangkan. Selain mendapat ilmu baru, saya juga bisa mengikuti perkembangan berita tanah air melalui majalah dan surat kabar yang dikoleksi di sana. Menyelesaikan tugas kuliah pun menjadi lebih mudah karena hampir semua buku referensi yang saya butuhkan, tersedia di sana.

Memasuki semester kedua, suami mendapat pekerjaan di Indonesia sehingga kami harus mengepak semua barang kami dan pindah ke Jakarta. Kuliah pun harus saya jalani dari jarak jauh melalui online course. Setibanya di tanah air, saya melamar dan diterima bekerja sebagai Senior Public Information Officer di Kedutaan Besar Australia di Jakarta.

Kuliah jarak jauh paruh waktu sambil bekerja full time ternyata tidak mudah. Apalagi waktu saya ditugaskan untuk mendampingi tim kemanusiaan Australia di Jogjakarta setelah gempa tanggal 27 Mei 2006. Terkadang, saya harus membaca atau mengetik tugas kampus di kendaraan menuju lokasi pedalaman yang terkena dampak gempa ataupun saat kami beristirahat sejenak di tenda darurat yang hanya beralaskan tanah. Saya tidak meminta perpanjangan waktu dari kampus karena saya ingin menyelesaikan pendidikan secepatnya.

Setelah penugasan suami selesai di Jakarta, kami kembali ke Canberra di akhir tahun 2009. Waktu yang sangat tepat bagi saya untuk melaksanakan penelitian sebagai tugas akhir kampus. Sayangnya, selalu saja ada ujian bagi kita yang ingin berhasil. Di bulan Mei 2010, saat merampungkan hasil akhir penelitian, saya mendapat kecelakaan mobil. Mobil yang saya kendarai tiba-tiba lepas kendali dan menabrak pohon dengan kecepatan 80 km/jam. Pergelangan kaki saya patah dan dokter ahli bedah mengatakan bahwa saya tidak akan pernah bisa berjalan lagi.

I was devastated!

Saya menolak untuk menyerah dan berangkat ke Indonesia mencari second opinion. Dari beberapa dokter bedah tulang di Indonesia, saya mendapat informasi bahwa dengan beberapa kali operasi, saya akan bisa berjalan lagi meskipun resiko terkena Osteoarthritis sangatlah besar. Berbekal rekomendasi dokter di Indonesia, saya kembali ke Canberra dan meminta dokter untuk melakukan ankle reconstruction. Alhamdulillah, operasinya berhasil dan saya pun bisa menyelesaikan laporan akhir penelitian dengan nilai akhir Distinction.

Saya sempat menitikkan air mata saat tertatih-tatih menerima ijazah kelulusan di acara wisuda yang digelar di Australian Parliament House, Canberra. It was a very long, difficult and painful journey but I made it!

Dengan mengantongi gelar Master of Marketing Communication, saya melamar di berbagai instansi pemerintahan maupun swasta di Canberra. Saya kagum melihat bagaimana saya diperlakukan dengan baik dan adil di beberapa wawancara kerja yang saya ikuti. Meskipun saya hanya bisa berjalan dengan bantuan tongkat, saya tidak merasakan adanya diskriminasi. Tidak satupun feedback yang saya dapatkan dari pekerjaan yang gagal saya raih menyinggung tentang kondisi fisik saya. Akhirnya, saya mendapatkan tawaran kerja di Department of Climate Change and Energy Efficiency sebagai Public Affairs Officer di akhir tahun 2010. Profesi yang masih saya jalankan hingga saat ini. Ke depannya bagaimana, kita lihat saja nanti ๐Ÿ˜‰