“Sydney..!” sahut salah seorang temanku menjawab pertanyaan teman kami yang menanyakan letak ibukota Australia. Beberapa teman pun meng iyakan jawaban tersebut. Sementara aku dengan tegas menjawab Canberra. Terjadi perdebatan kecil diantara kami.  Ketika kutanya balik ke teman-temanku mengapa menjawab Sydney, mereka dengan lugas menjawab, ”iya, di prakiraan cuaca kan Sydney!” 😀 . Rupanya, prakiraan cuaca di beberapa kota di dunia yang disiarkan TVRI pada masa itu berpengaruh besar pada memori teman-temanku. Pada acara itu, Sydney lah yang terpilih sebagai perwakilan Australia, bukan Canberra.

Momen itu terjadi bertahun-tahun yang lampau ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Aku tidak mengira, bertahun-tahun kemudian aku tidak hanya dapat menjejakkan kaki di tanahnya, tetapi juga menimba ilmu disana. Ya, dengan beasiswa Australian Development Scholarship (ADS) aku dapat mengenyam pendidikan S2 di Australian National University (ANU) di Canberra.

Mendapatkan beasiswa ADS bukanlah suatu kebetulan. Ihwal dari perburuan beasiswa adalah mimpi-mimpiku sejak masih SD. Berawal dari buku-buku yang aku baca pada masa itu, diantaranya adalah karangan Enid Blyton, HC Andersen, dan buku-buku bergambar terjemahan yang berasal dari benua Eropa, sejak itu pula mimpi untuk bisa sekolah ke luar negeri aku bangun. Mengandalkan orangtua rasanya tidak mungkin mengingat aku bukan berasal dari keluarga yang kaya raya. Sehingga, sudah barang tentu aku harus mencari sponsor sendiri untuk memenuhi niatku ini.

Dengan pak Rektor

Namun ternyata mimpi hanyalah sebatas mimpi jika tidak disertai dengan usaha. Aku tidak melakukan ikhtiar apapun, kecuali pernah mencoba ikut kursus bahasa Perancis selama setahun. Itu pun cuma karena ketertarikanku pada bahasa ini. Pada tahun kedua masa kerjaku, mimpi itu aku hidupkan kembali. Kali ini dengan berbagai usaha, mulai dari ikut kursus bahasa Inggris, browsing beasiswa di internet, kirim formulir dan lamaran beasiswa ke banyak tempat, bertanya kesana kemari, hingga tes TOEFL berkali-kali untuk mendapatkan skor yang tinggi. Tidak lupa doa kusertakan. Namun, kegagalan demi kegagalan kualami. Tapi aku belum mau menyerah. Hingga dua tahun kemudian, aku mencoba melamar beasiswa yang ditawarkan oleh pemerintah Australia melalui ADS (sebelumnya, fokusku hanyalah negara-negara Eropa). Dan alhamdulillah, setelah melalui tes tulis dan wawancara aku diterima!

Akhirnya pada awal Januari 2010 mimpi masa kecilku terwujud. Kerja keras terbayar sudah. Aku bisa melanjutkan pendidikan dengan gratis di kota yang –seingatku- pertama kusebut saat berdebat dengan teman-teman SD ku dulu. De Javu

Bersama keluarga yang sangat mendukungku

Beasiswa itu tidak hanya mengantarkanku pada bangku kuliah, namun juga bangku besar kehidupan rantau. Tidak hanya memberiku pemahaman pada ilmu baru, namun juga pemahaman akan arti keluarga, sahabat, saling menghargai, toleransi, kerja keras, kemandirian, dan berderet-deret nilai kearifan yang lain. Juga, memaknai budaya baru dan lingkungan baru sebagai suatu petualangan. Satu lagi, senada dengan tulisan salah satu kawan di blog ini…”aku jadi bisa memasak”!:D  Yang lebih menyenangkan, itu semua kulalui bersama suami dan putri mungilku yang lahir disana.

Saat ini aku sudah kembali ke tanah air, bekerja lagi, setelah menamatkan program master ku Desember lalu. Dan saat kutulis kisah ini, aku sedang merindui Canberra…:)