Seandainya property agent itu buku diary, seandainya agent itu best friend yang bisa diajak curhat tengah malam buta untuk kasih tau betapa susahnya bagi kami para mahasiswa yang baru tiba di Melbourne untuk mendapatkan akomodasi, seandainya agent itu ‘Pegadaian’ yang bisa menyelesaikan masalah tanpa masalah. Seandainya, oh seandainya…

Memang banyak hal mengagetkan yang saya alami begitu tinggal di Melbourne. Sebenarnya sebelum datang ke Melbourne sudah diwanti-wanti oleh Unimelb representative office di Jakarta. Di Melbourne itu agak sudah mencari akomodasi, apalagi di awal tahun saat dimana saya tiba di Melbourne. Tapi wanti-wanti itu saya anggap remeh, dalam hati saya malah bilang “Ih lebai amat sih, perasaan cari rumah gak segitunya kali.”. Tapi begitu seminggu setelah saya dan dua teman seperjuangan saya (Eli dan Wilda) tinggal di Trinity College (housing accommodation dalam kampus yang harga sewanya $ 68/day) mulai berasa juga dompet jadi cepet tipis gara-gara bayar sewa kamar di sini. Setiap ketemu student Indonesia di kampus pasti ditanya, “Kalian masih tinggal di Trinity?”, pas kami iya-kan mereka langsung komentar, “Wuih… tajir banget, buang-buang uang beasiswa, ckckck”. Dan karena kami pasukan terlama (8 hari, kebayang kan berapa dollar yang kami buang? ) yang nginep di Trinity College jadilah kami terkenal dengan nama geng Trinity.

Jadi intinya karena tersulut omongan student Indonesia yang lain untuk segera menyingkir dari temporary accommodation kami, mulai lah kami bertiga gerilya buat cari akomodasi. Segala situs real estate, gum tree, accomnet, kami obrak-abrik, daftar property dan nomor telfon landlord atau agent kita kumpulin. Inspeksi rumah pun dimulai di sela-sela kuliah. Senjata kami untuk mencari akomodasi adalah aplikasi GPS map yang ada di smart phone. Terima kasih teknologi :). Tapi biar sudah pake teknologi canggih, kami masih aja tuh suka nyasar dan jalan muter-muter karena kami bertiga emang dodol baca peta, hehe. Akhirnya setelah 8 hari kami menginap di Trinity College, kami keluar juga, yaiy… bye bye Trinity, bye bye Piere (front officer Trinity College yang cakep kecengan kita bertiga) ;).

‘Real Estate’ Situs yang umum digunakan untuk mencari akomodasi.

Banyak pengalaman yang saya alami selama mencari akomodasi di Melbourne. Dari tiap weekend yang dihabiskan hampir seharian untuk mengunjungi satu inspeksi ke inspeksi lain, dari satu daerah ke daerah yang lain. Ada pengalaman salah rumah yang diinspeksi, jadi waktu itu kita mau inspeksi rumah di jalan (saya lupa namanya)  anggaplah Queen Sreet tanpa mempertimbangkan ada beberapa jalan dengan nama serupa, saya dan teman saya main masuk dan mengetuk pintu rumah yang dianggap benar. Agak bingung juga karena yang membuka pintu ternyata seorang Asian student sepantaran kita. “Is this house is open for inspection?” Tanya temen saya gak yakin sambil menunjukan alamat hasil print dari real estatewebsite. Si cowo ini tampaknya juga agak bingung mukanya, setelah diperiksa ternyata Queen Street yang dimaksud bukan di derah situ. “The address is Queen Street in the Coburg, this area is Parkville. You should go a bit further that way, and you can use tram 19”. Kata si cowo baik hati menjelaskan. Waduh… malu deh kita, untung pas kita say apologize dia ok, ok aja, kayanya dia maklum sama student yang baru dateng kaya kita yang masih sering nyasar :P.

Pengalaman lainnya pernah sewaktu kami mau inspeksi dan datang ke kantor agent. Kami bilang ke orang yang dibagian reception kalau kami mau inspeksi unit A di jalan B. Dan dengan cuek si reception girl gak mau tuh repot-repot nengokin wajahnya dari komputernya dan bilang “50 bucks please.”. Ehm maksudnya apa nih ya? Kok belum apa-apa udah ditodong minta duit 50 dollar aja? Berhubung dulu kami masih bego dan bingung, akhirnya kami kasih juga tuh uang 50 dollar, begitu kami kasih uang 50 dollar baru dia mau nengok (yeee dasar matre) dan senyum bilang “Here’s the key, please return it in one hour.” Katanya dengan ‘fake smile’ trus balik lagi melototin komputernya. Setelah selesai inspeksi, kami kembali ke kantor  si agent untuk mengembalikan kunci. Lalu kami minta form untuk diisi, dan begitu kami mau mengisi form untuk aplikasi akomodasi tersebut, si reception girl bilang “Could you please fill the form outside? Or you can take the form and return it later.” Ya ampuuuunn, kita diusir. Segitunya banget sih, dasar belagu, nyebelin, rese. Untung uang kami yang 50 dollar udah dibalikin pas ngembaliin kunci. Ih…, sumpah saya dan temen-temen saya langsung ilfeel sama tuh property agent, dan langsung mem-black list property agent tsb.

Salah satu situs property agent di Melbourne.

Pengalaman lainnya, waktu inspeksi ke sebuah apartment. Kok yang inspeksi hanya sedikit ya? Waktu itu cuma ada saya dan teman saya, serta sepasang Australian couple yang mau  liat apartment itu. Dan sang agent kenapa agak ‘gimana gitu’ ngeliat kami berdua ikutan inspeksi, tapi walau begitu dia tetap pasang senyum palsu khas agent yang pura-pura ramah. Selesai melihat-lihat, ternyata tempatnya cukup cozy dan strategis dekat dengan kampus unimelb, keluar lah kami dan bertemu dengan sang agent. “Do you like the place?” Tanya si agent. “ Yes, we do really like the place” kata saya. “ Ok, when do you plan to move?”. Loh, loh, kok langsung ditanyain kapan pindah aja, biasanya agent bakal kasih form aplikasi dulu dan baru kasih kabar sekitar seminggu kemudian”. “ We plan to move next week, if it is possible. Is there any form that we should fill in?” tanya saya. “Form? What form? If you ok with the house you can pay the property and move as soon as possible” kata si agent lagi. “Ehm, this apartment is for lease, isn’t it?” Tanya teman saya. “For lease? This apartment is for SALE (beneran dia menekankan banget kata sale ini). Do you have a half of million bucks that you can give to me? “ Tanya si agent setengah mengejek. Ooh, ini toh arti pandangan heran dia tadi, sial*n, kur*ng aj*r, br*ngs*k. Tau sih emang kita gak mampu bayar segitu, biar selama dua tahun uang stipend kita dikumpulin ditambah uang SPP kuliah selama dua tahun dan ngutang sana sini tetep gak bakal nyampe segitu. Tapi di iklan yang ada di real estate website memang bilang kalau apartment ini for lease, not for sale. Lagi bingung dan gondok setengah mati sama si agent tiba-tiba di ground floor ada suara orang ribut-ribut. Ternyata di bawah ada seorang agent lagi yang diikuti dengan banyak orang untuk melakukan inspeksi. Oalaaah, ternyata hari itu di apartment yang sama cuma beda unit ada inspeksi berbarengan. Yang satu untuk disewakan yang satu lagi untuk dijual. Berhubung udah keburu BT sama si agent sombong ini, saya dan teman saya langsung ciao tanpa permisi dan langsung ngebuntutin agent yang satu lagi, ih males banget deh sama attitude agent yang nyebelin itu.

Dalam pencarian sebuah akomodasi yang cukup nyaman di Melbourne, saya tidak hanya berurusan dengan agent dan landlord yang aneh-aneh. Pernah suatu kali sewaktu saya, Eli dan Wilda lagi bingung cari alamat, eh tiba-tiba kami disamperin sama seorang ibu-ibu Cina. Dia bilang kalau dia punya tempat massage dan refleksi di derah deket-deket situ. Awalnya kami kira dia mau promosi tempat massage nya dan mengundang kita untuk datang, ternyata eh ternyata, dia malah nawarin kita untuk jadi pegawainya, gubrakkk. Emang kita keliatan segitu susah, gembel, dan miskinnya ya? Sampe ditawarin kerja sambilan di tempat dia. Saya, Wilda, dan Eli cuma bisa manyun aja ditawarin kerja sama si ibu dan menolak dengan halus, “Sorry we don’t know how to do massage.” Eh tetep donk dia ngotot, “Don’t worry, I can teach you”. Hiiii BT gak sih, udah gitu pake acara ngikutin kita bertiga, minta nomor telfon. Akhirnya sama Eli dikasih aja nomor telfon palsu trus begitu ada tram lewat langsung kita naik dan pergi sebelum ketauan kalau nomor tersebut palsu.

Hampir sebulan lebih saya struggle untuk menemukan tempat akomodasi, sempet sedih juga sudah berkali-kali kirim aplikasi ke berbagai agent dan inspeksi tiap weekend tetep gak ada hasil. Eh sekalinya aplikasi saya diapprove, yang ada saya malah gak punya housemate. Jadi sekarang gantian saya yang menolak para agent ini, hehe. Cukup menyenangkan juga ternyata menolak approval agent-agent ini :p (ada sekitar tiga orang agent yang saya tolak waktu itu). Pernah suatu kali saya chat dengan temen saya di Indonesia dan bilang kalau saya susah banget nemu akomodasi di Melbourne, lalu temen saya bilang. “Setau gue yah zu, yang namanya rumah, kos-kosan atau sejenisnya itu emang rejeki-rejekian. Jadi ya, emang belum rejeki lo kali yaa, tungguin aja ntar juga dapet.” Kata Nanda temen saya.

Entah karena percaya sama apa yang dikatakan Nanda, atau entah karena nasib baik akhirnya berpihak kepada saya, akhirnya saya menemukan apartment studio mungil yang saya tempati sekarang ini, dengan harga yang cukup reasonable (untuk ukuran Melbourne loh yaa). Walaupun jaraknya cukup lumayan dari kampus (4km) tapi bisa ditempuh dalam waktu sekita 40 menit kalau saya berangkat bareng kabayan, lumayan olah raga. Oiya kabayan itu nama sepedah saya :). Yang saya suka dari kamar studio saya ini karena tempatnya lumayan strategis dan sebelahan dengan McDonals, jadi kalo laper dan males masak tinggal mampir ke sebelah. Kalo bosen dengan masakan sendiri tinggal buka jendela, dan aroma French fries khas McD yang digoreng akan tercium, hehe jadi walau pun makan cuma pake telor ceplok tapi aromanya French fries :).