Aku berencana untuk bercerita tentang motivasi, strategi, dan pengalaman mencari beasiswa serta bersekolah di Australia. Aku suka membuat rencana jangka pendek dan jangka panjang. Ternyata apa yang kulakukan ini banyak membawa keuntungan dalam memuluskan jalan untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Ceritaku akan kubuat dalam beberapa tulisan. Hope they are all linked together!

Kali ini aku akan bercerita pengalaman pertama kali mencari beasiswa S2. Pada saat itu, aku sedang dalam kebimbangan. Baru saja menikah dan berencana segera punya momongan. Namun bekerja di salah satu accounting firm banyak menyita waktuku. Aku dan suami lebih sering naik kereta ekspres. Pagi-pagi kami berangkat naik motor, parkir motor di stasiun dan kemudian naik kereta jurusan  masing-masing. Suamiku naik jurusan Depok-Kota dan aku naik jurusan Depok-Sudirman. Pulangnya kami sama-sama dari Sudirman. Tapi itu bila keadaan normal. Suamiku kerja di suatu perusahaan berita internasional yang pada saat-saat tertentu mengharuskannya berangkat pagi-pagi sekali. Sedangkan aku bisa pulang malam-malam sekali, dini hari malah, bila end of financial year atau ada deadline submit report dan quality review. Phew, gak sehat banget kan. Dan kehidupan ini sudah kami jalani hampir 3 tahun sebelum menikah. Maka, ketika menikah kami berfikir, gimana ini kalo punya anak… kasian bener… Bapak dan Ibu nya sibuk. Well… sebelum menikah aku berusaha mencari pekerjaan yang lebih santai, namun belum rejeki…. Akhirnya suami dan aku berfikir, kenapa gak jadi dosen aja…Toh cita-cita jadi dosen dan atau peneliti dari dulu merupakan salah satu opsi yg terbuka buat aku dan suami. Maka, aku berusaha mencari pekerjaan di kampus, namun pada saat itu hampir semua lowongan yang ada mengaharuskan pendidikan minimal S2, apalagi kalo mau jadi dosen. Bingung deeeh… kapan sekolahnya?

Tiba-tiba bapakku bercerita sambil lalu, entah lewat telpon atau e-mail, bahwa di koran Kompas ada iklan beasiswa Australian Partnership Scholarship (APS) yang cukup besar, nampaknya mereka sedang benar-benar mencari kandidat. Kemudian aku mencari info, ternyata beasiswa APS dari AusAid ini diadakan untuk relief Tsunami Aceh dan tahun 2006 ini adalah terakhir in-take (untuk 2007), jadi jumlah yang akan diterima lebih besar. Spontan aku ingin sekali mendaftar. Namun, kesibukan di kantor sangat tidak memungkinkan untuk mengurus semua itu. Maka aku mengajukan cuti 1 hari sebelum penutupan beasiswa tsb. Benar-benar nekat! Believe it or not, aku belum punya TOEFL/TOEFL prediction sama sekali. Namun karena dikatakan bisa menyusul, maka aku nekat baru akan mengambil TOEFL prediction setelah memasukkan berkas-berkas.

Aku mendaftar beasiswa tsb melalui jalur publik. Kok bisa? Sebab semester sebelumnya aku mengajar sebagai asisten dosen untuk satu mata kuliah. Jadi ceritanya ketika lagi mencari lowongan di kampus, eh ada teman yang lagi mencari pengganti karena mau berangkat S2 ke luar negeri. Akhirnya iseng mau karena pada dasarnya aku suka mengajar. Konsekuensi untuk bisa mengajar di kampus dan masih kerja kantoran aku harus nego dengan bos di kantor. Karena mengajar di pagi hari, maka 2.5 jam waktu kantor terpakai buat mengajar plus perjalanan ke kantor. Untung bos berbaik hati memperbolehkan aku untuk mengundurkan jam kerja. Jadi setiap hari mengajar, aku pulang kantor paling cepat jam 9 malam… dan meski ada bos tidak ada bos aku pegang janji tersebut karena ini masalah integritas. Anyway, mengajar has always been my passion, jadi ketika mengajar lagi tidak kepikiran bahwa ini akan membantu proses aku mendapat beasiswa S2. Dulu ketika setahun terakhir kuliah, aku berkerja sebagai asisten laboratorium di jurusanku dan juga sebagai support assistant di sentra bahasa inggris milik fakultas.  Aku melakukan perkerjaan itu karena senang mengajar dan juga membuka peluang aku bila ingin menjadi dosen di kemudian hari. Ternyata pengalaman-pengalaman ini paid off. Fakultas mau menerima aku lewat jalur publik (tentunya dengan kontrak wajib mengajar di fakultas setelah lulus S2). Dengan lewat jalur publik ini berarti peluang untuk mendapatkan beasiswa meningkat.

Kenekatanku didukung juga dengan unsur luck kali ya… ketika aku datang pada sehari sebelum penutupan beasiswa, kepala jurusan langsung menyetujui aku boleh lewat jalur publik dan hari itu juga aku berlari-lari membereskan berkas-berkas karena siang itu semua berkas-berkas akan dikirim ke rektorat, dimana akan ditandatangani oleh rektor, dan besok siang nya akan dikirim oleh kurir rektorat langsung ke AusAid. Sampai hari itu formulir aku cuma ditandatangai pak Wakil Dekan karena pak Dekan gak ada. Pada saat itu petugas yang membuat surat pengiriman dari fakultas sedang mengetik dan langsung memasukkan namaku meski berkas-berkas belum selesai. Aku berlari-lari naik turun tangga dan itu pun pakai acara ada formulir yang ketinggalan, sehingga sore itu aku antar sendiri ke rektorat.  Hari itu juga aku bikin appointment untuk TOEFL prediction di sentra bahasa inggris fakultas. At the end of the day I nearly passed out and laid down on the floor, dan salah satu pegawai fakultas bilang “hamil kali mbak”….

Malam itu aku cerita ke suami, dan suami akhirnya tertarik juga untuk daftar beasiswa. Dulu suami juga menjadi asisten dosen bahkan sampai setahunan awal kerja. Tapi karena sangat sulit mengambil day off, maka tidak mungkin bagi suami untuk juga mendaftar beasiswa APS, jadi kemudian suami berencana mendaftar beasiswa Australian Development Scholarship (ADS). Aku juga berencana sama karena penutupan beasiswa ADS sebelum pengumuman beasiswa APS. Maka kami sama-sama ambil TOEFL prediction. Hasil TOEFL prediction aku antar ke AusAid terlebih dahulu untuk keperluan pendaftaran beasiswa APS.

Suami dan aku akhirnya memasukan aplikasi beasiswa ADS. Kami berniat sama-sama sekolah dan mudah-mudahan diberi anak segera supaya bisa sambil mengasuh. Siapa yang dapat beasiswa duluan, berangkat duluan. Itu rencananya. Kalau udah punya anak sebelum berangkat, mungkin mau minta bantuan ibuku untuk mengurus dan membawa ke Australia setelah aku settle. Gampang rasanya bikin rencana-rencana demikian… namanya rencana, belum dihadapkan dengan keadaan sesungguhnya.

Sekarang tinggal deg-deg an nunggu pengumuman beasiswa APS… seminggu sebelum pengumuman aku baru sadar ternyata aku hamil. Alhamdulillah. Ketika cek ke dokter ternyata sudah 8 mingguan, berarti mbak pegawai fakultas benar, aku hamil. Untung ketika berlari-lari mendaftar beasiswa tidak kena apa apa nih… and the cherry on top was minggu depan nya aku masuk seleksi APS untuk interview dan IELTS! Jangan tanya senangnya luar biasa… lucunya ibuku yakin sekali aku bakal keterima.. dan langsung mengirimkan koper! Kata orangtua rejeki anaaak rejeki anaaak, kalau niat mau bisa mengurus anak bakal kesampaian.

Untuk bisa melalui tahapan interview dan IELTS, aku modal beli buku IELTS terbitan lembaga yang akan mengadakan IELTS tsb, modal 500 ribu rupiah but it was very worth it! Untuk wawancara aku memastikan update dengan berita-berita terkini di Indonesia dan internasional dan juga yang berhubungan dengan bidangku. Dan benar ditanya lho, mengkaitkan bidang ilmuku dengan current issues! Kalo kata orang Aussie: Spot on! Selebihnya I was just being honest to the interviewers, aku mau sekolah terus karena ingin jadi dosen, karena aku melihat pekerjaan ini dapat memberi aku kesempatan berkarier dan juga mengurus keluarga, just like my mom. But I told them I intend to do it seriously, jadi dosen dan peneliti yang handal dan berguna bagi masyarakat, bukan sekedar pekerjaan saja.

In the end, it was a happy story, I got the scholarship. Yang lebih menyenangkan, karena nilai IELTS ku tinggi, maka hanya perlu 6-week pre-departure course yang akan dimulai seminggu setelah due date lahiran!

Next, aku akan bercerita pengalaman menyiapkan keberangkatan dan settling down di Australia. Penuh dengan duka duka duka dan sukaaaa!