Melanjutkan post pertamaku, sekarang aku akan bercerita mengenai perjalanan menuju keberangkatan ke Australia dan settling in.

Pertama, soal beasiswa ADS, ternyata suamiku ditolak. Pada saat itu, satu-satunya yang terpikir adalah agar aku berangkat duluan dan melihat situasi kemudian menentukan kapan anak akan dibawa. Rencananya kemudian anak ikut aku ke Australia sedangkan suami tetap bekerja di Indonesia. Lagi-lagi, gampang banget ya ngomongnya. Padahal suami dan aku dulu pernah bersepakat bahwa bila sudah punya anak, sebisa mungkin untuk tidak berpisahan.. demi tumbuh kembang si bocah. Tapi, namanya juga belum dihadapkan dengan keadaan, jadi belum bisa berpikir dalam.

Pre-Departure Training

Pada post sebelum ini aku bercerita tentang pre-departure training yang jatuh seminggu setelah due date lahiran. Hmmm apa yang terjadi? Aku tidak melahirkan pada due date! Padahal seminggu sebelum due date aku sudah mulai kontraksi weak dan irregular dan mulai pembukaan. Bener-bener panik! Gimana ini… kalo gak lahiran sekarang… bisa-bisa lahiran di jalan pas berangkat pre-departure training! Akhirnya pas dua hari sebelum pre-depature training aku cek… dan ternyata pembukaan sudah bertambah banyak namun kontraksi tetap weak dan irregular. Dokter memutuskan untuk induksi. Lima jam setelah induksi, lahirlah si jabang bayi pada hari Minggu dini hari…alias sehari sebelum pre-departure training! Masih bingung mau ngomong apa sama AusAid….

Akhirnya hari Senin pagi, saat harus masuk pre-departure training, berani juga menelepon AusAid untuk minta nego minggu depan nya baru masuk. Jawabannya hanya bisa maksimum absen 3 hari (10%), berarti harus masuk pada hari ketiga supaya masih punya spare absen 1 hari lagi, alias harus masuk hari Rabu. Bila ingin masuk, harus dapat clearance dari dokter. Kemudian aku tanya (berhubung pernah ada teman yang cerita soal alternatif ini), apakah ada kelas lain yang mulai belakangan, yaitu pre-departure 6-week nya ADS? Setelah representatif AusAid berdiskusi dengan bos-nya, jawabannya adalah tidak ada, dan kalau aku minta mundur, bisanya tahun depan. Huaah…… setelah berdiskusi dengan suami dan orangtua, akhirnya nekat masuk. Dokter sebenarnya kurang setuju, namun berhubung proses lahiran dan recovery baik dan sejak melahirkan aku sudah bisa menyusui, maka dokter memberikan clearance. Jadi lah aku masuk tiga hari setelah melahirkan.

Pada saat pre-departure training itu, sangat banyak duka nya… jadi suka mellow… rasanya kalau diceritakan terlalu banyak… dari bengkak karena belum pandai memerah susu, si bayi masuk rumah sakit semalam karena kuning (yang kata dokter kurang ASI/minum… huhuhuh)… dan kesulitan tempat memerah dan menyimpan ASI sehingga ASI pagi harus dibuang (masih bodo, gak mikir termosnya dikasih ice pack….)… untung nya pengajar kelasku begitu baik dan sangat toleran dengan ibu menyusui yang suka telat sampai karena jam 8 an baru berangkat dari Bogor ke Jakarta supaya bisa menyusui si bayi dulu… Pengajar kelasku itu juga menetapkan seluruh kelas boleh absen selama 6 hari (20%) karena menurutnya kelas 6-week hanya butuh persiapan keberangkatan bukan IELTS lagi. Phew! Meski aku tidak pernah absen, namun terkenal sebagai mrs telat yang suka ngemplang kelas-kelas pagi sekali (cultural dan computer) sebelum kelas resmi jam 9. Hehehehehe… Alasanku saat itu ke para pengajar (sambil mohon diampuni absen nya hehehhe), toh aku sudah pernah hidup di Australia (dulu dependant ibuku ketika beliau sekolah) dan aku lumayan Microsoft Office freak.. jadi bosen belajar hal yang sudah bisa…

Bohong aku kalo bilang tough…. seminggu pertama aku hampir mental break down… gak tega sama si bayi.. dan merasa bersalah… suamiku bilang coba lah satu minggu lagi, bila tidak mampu maka memang sudah jalannya tahun depan. Ternyata suamiku benar… minggu kedua badan benar-benar sudah adjusted dan rutinitas sudah established. Tapi ini juga berkat support system yang hebat. Aku tinggal di Bogor karena tinggal sama tante dan nenekku yang membantu mengurus si bayi dan mengajari ku macam-macam soal per-bayi-an. Orangtuaku di luar kota dan mertua sedang proses mau pindah pensiunan ke luar kota. Namun, ibu mertua pun rajin datang hampir tiap hari sepulang kerja, untuk menengok si bayi dan seringkali sambil membawakan lauk-pauk buat bekal makan siang ku.. termasuk jamu-jamu alami bikinan beliau sendiri…. heheeh biar kuat gitu dan ASI-nya banyak hehehehe… Dan salah satu yang penting adalah agar aku bisa tidur di jalan dengan tenang, tanteku meminjamkan mobil dan supir nya dimana transport allowance AusAid cukup untuk membiayai biaya bensin, supir, dan parkir selama 6 minggu tersebut… Alhamdulillah…

Salah satu pengajar, yaitu pengajar kelas tentang culture di Australia pun menyadari betapa aku mellow dan butuh penyemangat… beliau bilang kalau I will be alright, I’m one brave woman, and she has seen one, single mom with three kids and still graduated with cum laude. Gara-gara itu, aku langsung semangat, I can do it too (sambil sesenggukan hehehhe).

Nah, masalah pre-departure training sudah terselesaikan, masalah lain, si bayi nanti gimana kalau aku harus berangkat? Sebenarnya aku ingin titip ke ibuku karena beliau sudah tahu Australia maka bisa mengantarkan si bayi begitu aku settle. Namun ibu mertua juga mau merawat. Lagi pula memang bila dirawat ibuku kasihan si bayi juga pisah dari bapaknya…. Diantara kebingungan itu, suamiku bertanya, apa yang kamu mau. Aku bilang aku ingin bisa terus menyusui tanpa terputus. Maka suamiku akhirnya bilang, memang seharusnya tidak boleh kita men-deny hak si bayi atas ASI… akhirnya suamiku memutuskan untuk resign dan ikut bersama. Keputusan luar biasa sangat berat… bagi suami, aku, dan keluarga besar. Sementara aku sendiri, diperbolehkan oleh tempatku berkerja untuk study leave. Tentunya aku menerima opsi tersebut karena tidak tahu apakah pulang dapat langsung bekerja sebagai dosen, apakah cuma wajib mengajar tapi tidak mendapat pekerjaan tetap, dan juga suami bakal resign bila berangkat. Lagipula, sebenarnya aku senang dengan pekerjaan ku di accounting firm tersebut, hanya bermasalah dengan load jam kerja nya. Setidaknya, bila aku harus kembali bekerja dengan rutinitas padat, maka aku sudah bersama anakku hingga 20 bulan pertama usia nya selama kuliah di Australia.

Keberangkatan

Jalan-jalan ke Melbourne Museum sebagai bagian dari Introductory Academic Program bagi student AusAid. Kurang lebih 2-3 minggu pertama di Australia, suamiku turun berat badan hingga 10 kg karena naik sepeda kesana kemari mencari rumah.

Tibalah saat keberangkatan. Semua sudah kupersiapkan dengan detil, termasuk segala paperwork buat si bocah untuk meneruskan imunisasi dan kalau harus daftar childcare. Ada cerita lucu pada saat keberangkatan, kita orang pertama yang ada di antrian ketika counter buka. Kita membayar porter suruh ngantri dari satu jam sebelum counter buka ehheheheh. Kenapa? Sebab waktu booking baby basinette dibilang harus juga datang cepat, karena bisa diberikan ke orang lain bila tidak. Tahu apa yang terjadi, booking-an kita gak muncul alias ter-replaced oleh orang lain. Berhubung sudah booking dan datang paling pertama, akhirnya kami diberi 4 duduk ditengah, alias 2 kursi tambahan gratis buat tidur si bayi! Tapi proses ini memakan waktu lama sehingga mengakibatkan antrian mengular begitu panjang… akhirnya sebagian antrian dipindah ke jalur executive… hehehehe bikin rusuh… In the end, ternyata solusi dua kursi buat tidur si bayi adalah yang terbaik karena si bayi tenang tidur terlelap (sambil dipegangi ibunya tentunya) dan aku jadi gampang menyusui juga!

Persis usia si bayi 3 bulan, we landed in Melbourne! Di mulai lah petualangan-petualangan kami bersama sebagai keluarga kecil. Dari Introductory Academic Program yang wajib diikuti oleh student AusAid dan in between kami juga berburu rumah serta pekerjaan buat suami. Semua itu jadi lebih mudah karena bantuan dari rekan-rekan student di Melbourne yang sudah kami hubungi sebelum keberangkatan. Juga terbantu karena ibuku ikut serta dua minggu pertama kami di Melbourne. Kok bisa? Selain ada pekerjaan yang akhirnya dimajukan sesuai keberangkatan kami, ibuku rencananya adalah backup bila dependant visa suami tidak lolos. Sebab peraturan AusAid bahwa student hanya boleh membawa anak langsung bila ada pendamping. Maka, berbekal pengalaman teman kami yang suami nya tidak lolos dependant visa-nya (sehingga harus menyusul belakangan) tapi tetap bisa membawa bayi nya karena ibu nya lolos tourist visa-nya, kami melakukan hal yang sama. Pada saat itu aku berpikir I will be heartbroken if I have to leave my baby behind!

Walau akhirnya semua visa ter-approved tepat waktunya, sempat terjadi kehebohan. Karena suami akhirnya harus resign, aku mengajukan special consideration dengan exchange pengalaman kerja di atas 1 tahun untuk mendapatkan discount stengah tahun kuliah. Supaya kuliah hanya 1.5 tahun daripada 2 tahun, agar suami tidak terlalu lama “salah jalan” bila tidak mendapatkan pekerjaan yang sesuai atau beasiswa sekolah. Special consideration ini baru mendapatkan approval 12 hari sebelum keberangkatan karena officer yang bersangkutan di Melbourne sedang cuti. Jadi Confirmation of Enrollment buat bikin visa baru keluar pada saat itu. Akibatnya, dependant visa baru ter-approved beberapa hari sebelum keberangkatan! Bener-bener sport jantung!

Pada post berikutnya, aku akan bercerita mengenai pengalaman sekolah S2 di Melbourne. Life changing experience that we both (aku dan suami) never regret…sukaaaa!