Tulisan ini dimuat di Republika, 1 Maret 2012

Lomba lempar sandal jepit di Wollongong Beach memperingati Australia Day 2012
Kiri: Australian Aboriginal Flag, tengah: Australian national Flag, kanan: Torres Strait Islanders Flag (http://www.nomadicnotes.com/2010/09/)

Tanggal 26 Januari adalah hari yang istimewa bagi penduduk Australia. Keistimewaannya layak disandingkan dengan hari kemerdekaan RI yang jatuh pada 17 Agustus. Bendera Australia mendadak ada hampir di setiap rumah, hotel, dan gedung. Jika di Indonesia perayaan kemerdekaan dihiasi dengan lomba balap karung, makan kerupuk, panjat pinang, parade dan lain lain, di Australia diramaikan dengan lomba melempar sandal jepit (baca: thong), parade militer, pesta kembang api dan lain-lain.

Berbeda dengan Indonesia yang hanya mengibarkan Sang Saka Merah Putih di upacara bendera, di Australia ada tiga bendera yang dikibarkan: Australia, Aborigin, dan Torres Strait Islander, mewakili penduduk yang ada di Australia.

Bendera Australia menghiasi salah satu rumah di Wollongong City dalam rangka Australia Day 2012

Namun, meskipun perayaannya mirip dengan hari kemerdekaan di beberapa negara lain, nama hari istimewa ini tidak dinamakan Australia Independence Day (baca: hari kemerdekaan Australia) melainkan hanya Australia Day. Bahkan, bagi mayoritas penduduk pribumi Australia (baca: kaum Aborigin), hari ini dinamakan Invasion Day (baca: Hari Penjajahan) yang menandakan penjajahan bangsa Inggris ke benua paling selatan ini. Saya ingin melihat fenomena Australia Day ini dari sisi yang berbeda.

PM Gillard kehilangan salah satu sepatunya ketika demostrasi di Australia Day 2012 (http://www.tempo.co/read/beritafoto/1161/Julia-Gillard-Mendadak-jadi-Cinderella/3)

Sebenarnya Australia Day ini tidak begitu popular di Indonesia beberapa tahun silam. Namun Australia Day tahun 2012 ini cukup berbeda karena beberapa media di Indonesia ramai memberitakan kisah mirip Cinderella yang dialami Perdana Menteri Australia Julia Gillard. Gillard kehilangan salah satu sepatunya ketika berusaha dievakuasi dari kerumunan demonstran tepat di hari Australia Day.

Demonstrasi yang terjadi di hari Australia Day ini menimbulkan pertanyaan ada apa sebenarnya dibalik peristiwa ini? Ini hanya riak kecil dari panjangnya konflik antara pemerintah dan kaum Aborigin.

Sebagian penduduk memperingati Australia Day sebagai hari pertama Armada pertama Inggris tiba di Australia pada tahun 1788. Pada tanggal ini pula, Kapten Arthur Philip secara resmi memproklamirkan koloni New South Wales di bawah Britania Raya. Inilah yang membuat sebagian penduduk Australia, terutama penduduk pribumi dan yang simpatik terhadap hak-hak kaum Aborigin, memperingati tanggal 26 Januari sebagai hari penjajahan bangsa Inggris.

Sumber: http://www.sl.nsw.gov.au/discover_collections/history_nation/terra_australis/firstfleet.html

Orang-orang Inggris pertama yang datang ke benua ini menggunakan kapal sebagai alat transportasi. Cukup wajar jika mereka disebut boatpeople(baca: manusia perahu) meskipun istilah ini cenderung ditujukan pada mereka yang mencari suaka ke Australia sejak tahun 1976. Beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa para pendatang dari Inggris tersebut kebanyakan tidak berpendidikan dan merupakan pelaku kejahatan. Mereka memperlakukan penduduk lokal dengan semena-mena, menolak menggunakan bahasa mereka, mencuri sumber daya dan mata pencaharian mereka, dan menyebarkan nilai-nilai budaya dan agama mereka  yang sering dengan cara pemaksaan. Mereka juga membawa penyakit yang membunuh setengah dari populasi penduduk pribumi Australia dan membentuk geng-geng untuk membunuh sebagian lainnya yang masih hidup. Para pendatang tersebut mengklaim mereka memiliki peradaban lebih tinggi yang membawa seni dan ilmu pengetahuan ke benua yang masih ‘terbelakang’.  Merasa sebagai orang-orang yang lebih maju, mereka menganggap penduduk pribumi sebagai orang-orang liar yang berbahaya. Mereka lalu mempunyai misi untuk memberi peradaban pada penduduk lokal.

Kisah manusia perahu yang terjadi sekitar tiga abad silam ini seolah-olah tidak pernah berhenti di abad modern ini. Sejak tahun 1970an sampai sekarang benua Australia masih menjadi magnet bagi para manusia perahu dengan motif yang beragam. Sebut saja, para korban perang Vietnam, Afghanistan, Iraq, Sri Lanka, dan lain-lain berbondong-bondong mencari suaka ke Australia. Banyak pula yang datang dengan cara ilegal. Meningkatnya jumlah pencari suaka ini cukup merepotkan pemerintah Australia. Perhatian publik yang cukup besar terhadap isu ini seolah-olah menunjukkan ada ‘ketakutan’ tersendiri.

Manusia perahu zaman modern yang datang ke Australia (http://andjustincase.blogspot.com.au/2010/07/dispelling-myths-about-boat-people.html)

Manusia perahu sering disorot dalam setiap isu pertambahan penduduk di negara ini. Padahal ada sekitar 50.000 pemegang visa kadaluarsa yang masih tinggal di Australia. Bisa jadi karena para manusia perahu ini kebanyakan berasal dari negara-negara konflik, miskin dan berkembang, kedatangan mereka dianggap akan mengancam ‘dominasi’ tatanan sosial dan budaya yang telah mapan (The Australian, 2010). Dari pengamatan penulis, ada beberapa wilayah di Australia yang kemudian menjadi pemukiman komunitas tertentu, mulai dari China, Turki, Muslim Melayu, Vietnam dan lain-lain. Komunitas-komunitas ini masih memegang teguh budaya leluhur dari negara asal mereka. Penyebaran nilai-nilai budaya baru diantaranya seni, agama dan bahasa serta ‘perebutan’ lahan pekerjaan akan semakin sulit untuk dihindari. Tersirat ada ‘kekhawatiran’ jika sebagian sisi kelam sejarah akan terulang kembali. Manusia perahu dari Inggris yang pertama kali ke Australiapun memiliki latar belakang yang serupa dengan manusia perahu yang mencari suaka ke Australia. Mereka kebanyakan tidak berpendidikan dan kriminal yang juga ‘merebut’ tanah penduduk pribumi dan menyebarkan nilai-nilai budaya pada penduduk lokal.

Scan koran Republika yang memuat tulisan ini pada 1 Maret 2012

Pro-kontra akan isu manusia perahu abad modern ini masih terus menjadi perbincangan di Australia walaupun sebenarnya kedatangan mereka akan semakin memperkuat klaim Australia sebagai negara yang multikultur dan juga berdasarkan posisi geografis Australia, jumlah imigran ini masih terbilang lebih kecil dibandingkan dengan para pengungsi di belahan dunia lainnya.