Melanjutkan pendidikan di luar negeri adalah salah satu impian dalam hidup saya. Bukan sekedar karena ingin meningkatkan kemampuan berbahasa asing saja, tapi rasanya akan ada pengalaman pemahaman lintas budaya (cross cultural understanding) dan juga pengalaman menjalani pendidikan dengan sistem yang berbeda dengan di Indonesia. Sebuah pemahaman komparatif akan terbangun dengan lebih baik kalau saya mengalaminya langsung, begitu dalam pemikiran saya. Alhamdulillah, beasiswa dari kantor akhirnya mewujudkan mimpi saya, dan berangkatlah saya di penghujung Januari 2012 ke Sydney, Australia.

Berselang sehari setelah saya tiba di Australia, saya langsung mulai pendidikan bahasa Inggris sebagai persiapan untuk masuk ke program master di University of Wollongong. Saya -yang dulunya belajar dengan sistem yang seluruhnya tatap muka- sungguh menikmati kemudahan belajar dengan sistem yang berbasis elektronik. Saya sempat nggumun (takjub dalam bahasa Jawanya). Belajar dengan sistem ini memungkinkan kita untuk belajar dari mana saja dan kapan saja, dan jika kita mau berdiskusi dengan teman mengenai tugas tertentu bisa dilakukan melalui website yang telah dirancang secara khusus. Rasanya waktu bisa kita lipat sesuai keinginan kita..

Yang menarik lainnya adalah penyajian mata kuliah (subjects) dalam proses pembelajarannya. Mata kuliah ini disajikan saling menopang dan terkait satu sama lain baik dalam penyajian di website pembelajaran, maupun ketika guru menjelaskan dalam kelas. Hal ini membawa saya untuk membiasakan berpikir lintas disiplin dalam memahaminya. Dan saya berkeyakinan kebiasaan ini bisa menghasilkan cara berpikir yang lebih baik di kemudian hari selepas menempuh pendidikan di sini, baik ketika menghadapi tugas di kantor maupun menghadapi masalah keseharian.

Satu lagi yang menjadi catatan saya adalah guru. Profesi, sosok pribadi,  yang akan selalu saya hargai sepanjang hidup saya (jadi ingat lagu yang dulu sering ditayangkan di TVRI..”kita jadi pintar..karna siaapaa..”).

Saya mendapati pengalaman belajar yang menyenangkan dengan guru yang sangat menguasai bidangnya, menyampaikan materi dengan sangat terstruktur dan penyajian yang menarik. Para guru juga sangat komunikatif.  Bisa jadi kebiasaan untuk memanggil guru cukup dengan nama saja (tanpa sir, miss, mrs) membuat hubungan guru dan mahasiswa menjadi lebih dekat. Berbeda dengan kebiasaan di Indonesia yang memanggil guru harus dengan Pak, Bu atau kalau sudah senior dan sudah bergelar profesor, maka dianggap lebih menghargai jika kita memanggil guru kita dengan sebutan prof..

foto diambil dari sini

Mereka para guru justru sangat senang kalau mahasiswanya meminta waktu untuk berdiskusi atau berkonsultasi baik dengan tatap muka maupun via email. Menurut mereka, ini menandakan mahasiswa punya semangat belajar yang baik dan guru bisa melihat perkembangan mahasiswa yang bersangkutan secara individual. Dan mungkin karena ingin memotivasi mahasiswa lain untuk melakukan hal yang sama, maka guru selalu menyampaikan di kelas bahwa si Ano dan si Ina kemarin mengirim email mengenai ini..atau itu..dan seterusnya. Tentu saja hal ini membuat mahasiswa yang disebut akan tersanjung dan mahasiswa lain cenderung akan melakukan hal yang sama. Menurut saya ini adalah sebuah contoh sederhana namun sangat positif, karena terkadang dilupakan oleh guru/dosen ketika mengajar mahasiswa yang dinilai sudah dewasa sehingga dinilai tidak perlu lagi pemberian motivasi di dalam kelas.

Namun demikian, saya punya pengalaman yang membuat saya heran karena ada guru yang selalu saja marah ketika mengajar. Terutama ketika mendengar jawaban salah dari mahasiswanya. Dia akan memojokkan hingga membuat merah padam muka mahasiswa yang bersangkutan. Belum lagi caranya untuk melihat tugas yang telah diberikannya. Dia akan berkeliling mengecek hasil tugas mahasiswa satu persatu.  Dan ketika dia menemui sedikit saja kesalahan pada hasil tugas mahasiswa, dia akan mengulasnya  panjang lebar, dan sekali lagi, dengan nada dan intonasi penuh kemarahan. Untung saja kejadian itu hanya terjadi setiap hari Senin. Mengapa? Tidak ada yang tahu..dugaan saya hanya satu, akibat kelelahan di akhir pekan..

Ada lagi guru yang ketika mengajar senang sekali menyisipkan cerita tentang pengalaman hidupnya di masa lalu, meski tidak selalu relevan dengan materi yang tengah dia sampaikan. Kami sampai bisa menandakan gerak tubuh dan mimik mukanya ketika dia akan memulai bercerita tentang kecemerlangannya ketika kuliah dulu atau pengalaman kerjanya dulu di negara lain. Bukan main sabar kami untuk menunggunya selesai bercerita hingga lebih dari setengah jam. Meski pada awalnya tidak tega, akhirnya saya dan seorang teman dari Bulgaria memintanya untuk kembali ke materi yang dia sampaikan. Syukurlah dia bisa mengerti dan tidak ada kemarahan pada kami setelahnya. Justru setelah itu, sempat guru tersebut curhat pada saya tentang keadaan rumah tangganya, kelelahannya mengurus anak dan ibunya yang sudah tua. Meski dalam hati saya heran mengapa dia mau bercerita pada saya yang bukan siapa-siapa buat dia, saya mendengarkan curhatannya dengan setia dan merespon dengan beberapa kalimat yang sepertinya membuat dia sedikit rileks.

Saya bahkan pernah mendengar cerita dari seorang teman yang juga studi di Australia, ada guru yang mengajak muridnya untuk mabuk atau berkencan. Saya tidak bisa berkomentar banyak mengenai cerita ini karena toh saya tidak mengalaminya langsung, tapi setidaknya kejadian-kejadian tesebut membuat saya berpikir bahwa entah di Indonesia maupun di Australia, guru tetap saja manusia, yang ketika dalam kapasitasnya sebagai guru sulit untuk mensterilkan dirinya dari segenap persoalan hidupnya ketika berada di kelas. Apalagi di Australia, di mana sebagian besar masyarakatnya hidup dalam kultur yang individualistik.  Terkadang dia memerlukan seseorang atau tempat di mana dia bisa menceritakan permasalahannya, baik langsung maupun dalam bentuk seperti kemarahan. Maka ada guru yang akan senang ketika saya hanya berkomentar, “Jenny..I like your scarf..beautiful!” atau malah ada yang antusias ketika saya goda, “I like when you told us about blablabla..wow..you look so cool when you were saying that..” dan saya menikmati itu karena setelahnya akan ada pembicaraan seperti layaknya teman saja. Yang agak repot adalah menghadapi guru yang tidak organised, karena saat menjelaskan materi, dia bisa lompat sana lompat sini bahkan kadang ada saja materi yang belum sempat dijelaskan waktu sudah habis..kalau sudah begini, persiapan belajar yang lebih banyak mesti dilakukan dan menggunakan waktu di luar kelas untuk mengejar materi yang terlewatkan.

Saya yakin teman-teman yang menempuh studi di Australia menemukan banyak kesan dalam menghadapi guru dan punya sejuta cara untuk  mengatasi masalah yang kadang muncul, dan yang lebih penting adalah menjaga hubungan baik dengannya untuk mendapat hasil yang maksimal. Sedekat apapun hubungan kita secara emosional dengan guru, baiknya tetap menjaga respek terhadapnya baik di dalam maupun di luar kelas. Sebaliknya, ketika kita menjadi mahasiswa yang proaktif, guru juga akan menaruh respek terhadap kita..semoga bermanfaat!