Fare Evader: Apa dan Mengapa?

Fare evader adalah istilah yang diberikan ‘penguasa’  negara bagian Victoria yang diwakili oleh institusi bernama Public Transport Victoria (PTV) kepada mereka yang menggunakan jasa angkutan umum (tram, kereta api dan bis) tanpa mempunyai dan membawa valid ticket. Valid ticket tersebut dapat berupa metcard atau myki.  Sekedar informasi saja, di Melbourne sini, jika kita ingin menggunakan angkutan umum, kita diharuskan membeli tiket terlebih dahulu, dan ketika sudah berada di dalam angkutan umum, jangan harap kalian akan melihat kondektur yang mengecek satu persatu tiket penumpang. Bagaimana dengan si supir? Hmm.. sang supir sih sepertinya positive thinking aja, kalo seluruh penumpangnya sudah punya valid ticket. Lagipula, memastikan penumpang punya tiket atau tidak, sepertinya bukan job descriptionnya supir. Kalian bisa bayangkan, kan, kalo caranya seperti ini, sudah dipastikan banyak  fare evader berkeliaran.  Dulu, teman-teman saya yang bertipe orang yang adventurous dan suka sama hal-hal yang memacu adrenalin, atas nama ‘penghematan’,  lebih memilih tidak ber-tiket kalau naik tram tapi kucing-kucingan sama polisi tram :). Padahal, sangsi untuk fare evader ini sudah jelas, yaitu dikenakan denda $180, dan denda itu hukumnya pasti, tidak bisa di’nego’ seperti kalo kita kena tilang oleh polisi di Jakarta.. ;).

Sudah hampir setahun belakangan ini, PTV sedang gencar-gencarnya mengincar para fare evader. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya para authorised officer (ticket inspector) atau kita suka menyebutnya dengan ‘polisi tram’ (walaupun target operasinya bukan cuma tram). Jam operasinya juga gak main-main, saya pernah melihat ketika pulang dari kampus jam 11 malam, para polisi tram yang berseragam ini masih inspect ke dalam tram. Untuk tram, model inspeksinya memang dilakukan secara random, artinya tidak setiap tram, setiap rute, setiap jam akan kedatangan polisi tram tersebut. Jadi, kalo kalian lagi beruntung, kalian bisa naik tram gratis (dengan jantung yang berdebar-debar). Berbeda dengan train atau bus. Kalo train, ketika kita akan masuk ke stasiun, kita harus memvalidasi tiket kita pada mesin validasi yang sudah disediakan dan biasanya diawasi oleh petugas stasiun. Kalo di dalam bis, mesin validasi ada didalam bis, ketika masuk bis kita harus memvalidasi tiket dan proses validasi ini tentu saja diawasi oleh sang supir bis. Oh ya, polisi tram ini juga kadang-kadang menyamar dalam melakukan inspeksi di tram. Seperti yang pernah saya alami, waktu itu hari Minggu, sedang duduk manis di tram, tiba-tiba didatangi oleh laki-laki berpakaian sangat casual yang dengan sopan menegur saya dan meminta saya dan putri saya memperlihatkan tiket kami. Awalnya saya ragu-ragu sambil ingin bertanya, saya pikir, ‘aduh ngapain nih orang minta liat tiket segala’, tapi begitu saya melihat lencana/badge yang ditunjukan oleh orang tersebut, baru saya sadar kalo orang ini polisi tram yang sedang menyamar atau istilah kerennya plain clothes officer.  Tanpa banyak tanya, saya tunjukan myki kami, setelah myki kami diperiksa kevalid-annya,  si petugas pun tersenyum dan berlalu dengan senang.

Mesin validasi yang tersedia di tram dan bis (Atas)
Myki dan Metcard (Bawah)

Lupa Berujung Malu

Lalu bagaimana ceritanya sampai saya bisa menjadi seorang fare evader? Ceritanya begini, waktu itu hari masih pagi, setelah mengantar putri saya ke sekolah, saya langsung bergegas berangkat ke kampus menggunakan tram ingin cepat-cepat bekerja (cieee.. student rajin nih ceritanya). Ketika masuk tram, saya langsung menduduki tempat duduk favorit, lalu saya membaca-baca artikel sambil mendengarkan lagu kesayangan melalui earphone, wah pokoknya nyaman banget, serasa di surga :).  Tapi  beberapa menit kemudian, surga saya terampas dengan masuknya para polisi tram berseragam. Karena begitu mereka masuk, saya baru menyadari kalo tiket saya belum saya validate (mati gue…).  Berhubung saya pengguna tiket weekly, dan kebetulan hari itu masa berlaku tiket weekly saya habis, maka saya harus menggunakan tiket weekly baru dan harus divalidasi pada hari itu juga. Ketika para polisi tram itu masuk dan menyebar ke berbagai sudut tram, saya langsung berdiri untuk memvalidasi tiket saya di mesin validasi terdekat. Tapi, salah seorang petugas malah mendatangi saya dan meminta saya memperlihatkan tiket saya yang belum tervalidasi itu. Sudah bisa ditebak kelanjutannya, si petugas menganggap saya sebagai fare evader, hanya karena saya lupa memvalidasi tiket. Parahnya lagi, saya tidak bisa menunjukkan tiket-tiket weekly saya yang sudah habis masa berlakunya. Jelas dong saya tidak bisa menunjukkan,  masa’ sih saya bawa-bawa tiket yang sudah tidak berlaku lagi, bisa gendut dong dompet saya. Kebetulan, pagi itu sebelum berangkat, saya keluarkan semua tiket-tiket yang sudah tidak berlaku dari dompet. Seandainya, tiket-tiket itu tidak saya keluarkan, polis tram itu pasti sudah ‘membebaskan’ saya dan saya tidak perlu menanggung malu ditonton oleh seisi tram yang penuh sesak itu dan dianggap sebagai fare evader.. hikss.. :(. Oh ya, setiap ada orang yang tertangkap oleh polisi tram sudah pasti menjadi tontonan yang amat sangat menarik dan rugi untuk dilewatkan, selain gratis juga karena tidak akan ada siaran ulangnya.

Legal Service Penolongku

Seperti yang sudah saya sebutkan diatas, fare evader akan dikenakan denda sebesar $180. Singkatnya, setelah saya mendapat surat denda dari Departemen Transportasi, saya diharuskan membayar denda. Tapi, berhubung saya merasa tidak rela mengeluarkan dollar segitu banyak, saya menghubungi Legal Service di kampus saya – RMIT –  dengan harapan denda saya bisa dianulir. Beruntungnya saya, mereka mau membantu saya untuk menulis surat ke Departemen Transportasi agar denda saya dianulir. Tidak lupa pula, saya berikan semua tiket-tiket yang sudah kadaluarsa sebagai bukti saya adalah pengguna public transport yang baik. Ternyata kampus saya tidak hanya membantu dalam menuliskan surat appeal, tapi juga mewakili saya dalam berkomunikasi dengan Departemen Transportasi.  Sekitar 1 minggu setelah surat appeal dikirim ke Departemen Transportasi, saya (melalui Legal Service RMIT) mendapatkan jawaban bahwa saya tidak perlu bayar denda… horreee… Saya juga di’wanti-wanti’ oleh Departemen Transportasi agar jangan menjadi fare evader untuk kedua kalinya, jika saya melanggar lagi, mereka tidak akan mengabulkan appeal saya berikutnya. Saya tidak tahu, apa yang menyebabkan Departemen Transportasi mengabulkan permohonan appeal saya, apakah karena di surat appeal itu terlampir bukti-bukti tiket kadaluarsa saya atau karena di surat itu tertulis kalo saya adalah research student yang sedang stress level dewa karena studinya?

Polisi tram yang bikin trauma
(sumber: http://www.heraldsun.com.au/)

Sejak kejadian itu, walaupun polisi tram menginterogasi saya dengan bahasa dan sikap yang sopan, tetap saja saya selalu trauma kalo melihat polisi tram. Tapi pelajaran yang mungkin bisa diambil oleh saya dan para nengs adalah, jangan coba-coba apalagi sengaja melanggar aturan yang berlaku di Australia, karena sangsinya benar-benar ada dan diterapkan. Pelajaran berikutnya,  tiket tram (myki) adalah barang wajib yang harus ada kemanapun saya pergi (selain handphone tentunya).  Agar tidak tercecer, saya selipkan myki di handphone case saya. Selanjutnya, mintalah bantuan dari kampus kalian jika sedang mengalami masalah, misalnya terkait dengan masalah hukum atau housing. Tapi semoga kalian tidak pernah punya masalah yang aneh-aneh seperti saya ya, dan studi kalian bisa lancar jaya sampai waktunya kelulusan.. 🙂