Malam ini, baru saja aku pulang dinner dengan ibu-ibu yang lebih dari dua tahun ini mewarnai hidupku di Canberra. Rasanya lega habis ketawa-ketawi dan curhat sana-sini sehabis seharian mengerjakan assignment. Perut pun kenyang sehabis makan lezaat….

Selama di Canberra ini, aku bergaul dengan ibu-ibu di suatu kelompok bermain anak-anak, semacam play group. Kami menyebut kelompok ini sebagai Kids n Coffee, sebab ketika anak-anak bermain main, ibu-ibunya minum coffee dan bersosialisasi. Dulu ketika masih sebagai spouse suami alias belum jadi student, aku rajin datang setiap seminggu dua kali bersama anak-anak. Kegiatan ini dimulai kurang lebih jam 9.30 sampai dengan 11.30 pagi.  Aku dikenalkan oleh teman Indonesia yang datang juga ke play group ini. Biar gaul ibu dan anak nya, gak cuma di rumah aja.

Kelompok ini banyak membantuku mengetahui seluk beluk Australia, dan tidak cuma ngobrol-ngobrol lho, ada acara cooking class bersama, dimana kita bertukar resep dengan saling demo masak makanan khas negara masing-masing. Anggotanya kala itu selain terdiri dari ibu-ibu Aussie, juga ibu-ibu dari India, Srilanka, Italia, Korea, dan tentunya Indonesia. Tempatnya disediakan oleh sebuah Church. Di Australia, memang umum Church memberikan fasilitas-fasilitas demikian. Kami cukup iuran 2 dollar tiap sekali datang buat mengganti biaya kopi, penganan, peralatan bermain dan berkreasi anak-anak serta ala kadar ganti listrik ke Church.

Dari kegiatan anak-anak bermain sampai ibu-ibu dinner bersama (courtesy of Vina R. Alhadath)

Sejak aku sibuk kuliah, jadi jarang datang, dan seiring dengan anak-anak mulai full sekolah, begitu juga anak dari pengelola kelompok ini, maka play group kami ini ditiadakan. Namun ibu-ibu tetap ingin menjalin kebersamaan, maka mengadakan dinner alias Ladies’ Night In setiap hari Jumat sebulan sekali yang diadakan di salah satu function room di Church yang sama. Untuk makanannya, tiap orang membawa masakan masing-masing dan di share. Berhubung perbedaan budaya dan agama menyebabkan adanya keterbatasan jenis makanan yang bisa dimakan, maka kita sepakat makanan yang dibawa hanyalah veganvegetarian dan kalau daging hanya ayam.

Bulan lalu, aku membawa nasi kuning. Berhubung tidak ada waktu bikin lauk-pauknya (dan biasanya dari sharing lauk-pauk sudah cukup), maka aku cukup memberi serundeng dan kering kentang tempe yang belum lama dibawakan oleh ibuku dari Indonesia ketika mengunjungi kami. Tiba-tiba, aku merasa kurang cukup, dan kutambah dengan abon sapi!

Ibu-ibu Kids n Coffee diundang dinner oleh ibu-ibu pengurus Church dalam rangka Christmas (courtesy of Vina R. Alhadath)

Ketika asyik ngobrol-ngobrol, ibu-ibu banyak bilang garnish nasi kuning nya enak… apa itu. Salah satu teman dari India bilang, “yes this is really nice, how do you make this?”. Spontan aku seperti tersengat listrik… ada abon sapi dan temanku ini Hindu sehingga tidak makan sapi! “Nooo, it’s beef“! Jeritku. Langsung saja temanku refleks memuntahkan isi mulutnya di depan ibu-ibu lain dan menimbulkan kehebohan. Aku meminta maaf berulang kali, karena aku membayangkan bila aku keliru makan daging babi. Untung temanku ini orang nya easy going, dia menjawab, “It’s okay, but now beef is not a mistery anymore“. dan serentak ibu-ibu yang lain menjawab “and it’s really nice” sehingga membuat teman kami ini tersipu malu.

In the end kami sepakat, tema malam itu adalah “a Hindu eats Halal beef in a Church“, yang disambut dengan gelak tawa semua ibu-ibu. Indahnya perbedaan.