Tulisan ini merupakan kelanjutan dari review sebelumnya tentang museum-museum yang seru untuk dikunjungi di berbagai belahan Australia. Kali ini aku akan berbagi kisah tentang museum-museum menarik di New South Wales, Australian Capital Teritorry, Western Australia dan Tasmania.

The Nicholson Museum – Sydney, NSW

Mummy di Nicholson Museum

Terletak di dalam kampus The University of Sydney, museum ini bisa menjadi alternatif menarik bagi mereka yang ingin melihat display mummy beneran tanpa harus jauh-jauh ke Mesir atau Inggris. Berkat donasi barang dari koleksi pribadi chancellor (rektor) kampus, Sir Charles Nicholson pada tahun 1860, museum ini menampilkan aneka artefak Mesir Kuno—dari mummy kucing hingga mummy sepotong tangan manusia saja. Cukup sukses membuat bulu kudukku berdiri!

Museum of Sydney – Sydney, NSW

Museum ini merupakan salah satu yang terlengkap dalam menampilkan sejarah awal datangnya bangsa kulit putih ke Australia. Hubungan pertama antara para pendatang Inggris dengan suku asli Aborigin digambarkan dengan detail; mulai dari penculikan salah seorang anggota suku Aborigin yang diajari bahasa Inggris, hingga kemudian dirinya menjadi penerjemah dan ‘penjembatan’ budaya antara kedua bangsa. Museum ini memberi gambaran penting tentang perkembangan hubungan bangsa kulit putih dengan suku Aborigin yang hingga saat ini masih menyimpan luka lama bekas ‘penjajahan’ zaman dulu.

National Museum of Australia – Canberra, ACT

Museum megah dengan desain arsitektur yang unik ini sering menjadi tuan rumah berbagai pameran keliling yang menarik. Pameran terbaru yang kukunjungi di museum ini berjudul ‘Travelling the Silk Road’ yang menampilkan sejarah Jalur Sutera dari kota tua Xi’an di China hingga Baghdad di Timur Tengah.

Touch screen interaktif di pameran Silk Road

Masing-masing pengunjung diberikan paspor khusus yang dipakai untuk mengumpulkan cap lokasi baru layaknya seorang pengembara yang menyusuri jalur tersebut. Kami disuguhi display suara alat-alat musik lokal dari China, bau-bauan minyak wangi dari pasar tradisional Turfan, hingga dongeng-dongeng Seribu Satu Malam dari Samarkand.

Bagian paling seru adalah touch screen interaktifnya yang boleh digunakan oleh pengunjung untuk menampilkan beragam informasi seputar perkembangan bahasa, agama, budaya, hingga populasi penduduk di sepanjang Jalur Sutera tersebut.

Whale World – Albany, Western Australia

Walaupun tidak menamakan dirinya sebagai museum, Whale World di penghujung barat benua Australia merupakan bekas kompleks pengolahan daging paus yang pada dekade 1960an merupakan industri besar di Albany. Setelah mendapatkan perlawanan dari kelompok konservasi Greenpeace, pada tahun 1978 pabrik pengolahan paus ini ditutup dan kemudian diubah menjadi museum pendidikan konservasi paus dan ikan laut lainnya.

Papan informasi di Whale World

Museum semi-terbuka ini mempersilakan pengunjung untuk menaiki kapal pemburu paus yang masih dilengkapi dengan harpun di bagian moncongnya. Pabrik pengolahan paus masih dibiarkan apa adanya—dari bagian pencincangan hingga penggodokan lemak dan tulang, yang hasilnya dijadikan bahan dasar untuk berbagai produk seperti lipstik, minyak pelumas hingga pupuk tanaman.

Tiga kilang tempat penyimpanan minyak paus telah diubah fungsinya menjadi teater film tiga dimensi yang menampilkan dokumenter menarik tentang sejarah industri paus Australia dan konservasi ikan laut seperti the great white shark (Charcarodon carcharias).

Anehnya, ketika memesan makan siang di restoran museum, menu spesial yang ditawarkan hari itu adalah whale shark (Rhincodon typus). Lho, ini museum konservasi atau bukan sih? (Catatan: aku tidak memesan menu spesial tersebut!)

Port Arthur Historic Site – Port Arthur, Tasmania

Satu lagi museum ‘terbuka’ yang asyik dikunjungi adalah Port Arthur Historic Site yang merupakan bekas kompleks tahanan pada abad ke-19. Jika benua Australia merupakan lokasi pembuangan para kriminal dari Inggris, maka Port Arthur di Tasmania merupakan lokasi pembuangan mereka yang sudah tidak dapat ‘ditampung’ lagi di mainland Australia.

Tiap pengunjung yang datang ke museum utama diberikan sebuah kartu yang mewakili identitas salah seorang tahanan di Port Arthur. Selanjutnya, dengan mengikuti petunjuk yang tersebar, kita bisa mengikuti jejak perjalanan hidup sang tahanan—awal mula alasan ia ditangkap hingga nasib yang dihadapinya ketika tiba di Port Arthur.

Kompleks tahanan Port Arthur sendiri terdiri atas 30-an gedung tua yang tersebar di lahan seluas 100 hektar. Sebagian besar dari gedung-gedung tersebut masih terawat dengan baik, diantaranya the Penitentiary (penjara), the Asylum (rumah sakit jiwa), the Hospital (rumah sakit), dan the Church (gereja).

Cahaya redup lentera menerangi ghost tour di Port Arthur

Tiap malamnya terdapat ghost tour di Port Arthur yang sangat populer di kalangan pengunjung. Pemandu kami benar-benar menghayati perannya—berpakaian gelap dengan jubah panjang, lengkap dengan sepatu boot yang berdebum keras ketika menginjak permukaan lantai kayu. Kami berkeliling kompleks Port Arthur di bawah cahaya temaram lentera yang dibawanya, mengunjungi gedung-gedung tua yang kabarnya pernah dikunjungi hantu para penghuni lama. Walaupun tidak ada pemeran cadangan yang ngumpet di balik jendela dan berpura-pura menjadi hantu, namun sang pemandu dengan sangat berbakat berhasil menggunakan intonasi suara, mimik muka dan gerak tubuhnya untuk memikat kami dengan kisah-kisah misteriusnya. Excellent acting, I should say!

*

Belajar dari museum-museum di Australia, kurasa banyak sekali potensi yang bisa digali di Indonesia untuk mengelola museum dengan berbagai tema dan display yang menarik bagi khalayak umum. Sepengetahuanku, saat ini satu-satunya museum yang dari segi keterinteraktifan tampilan dan kelengkapan informasinya sudah cukup mendekati kualitas museum-museum di Australia adalah Museum Bank Indonesia di Kota Tua Jakarta.

Buat teman-teman yang di Indonesia, banyak juga kok museum menarik yang bisa dikunjungi di tanah air. Kalau Australia punya kelompok pencinta museum Australian Federation of Friends of Museums, di Indonesia juga ada Komunitas Jelajah Budaya dan Komunitas Historia yang kerap menyelenggarakan tour budaya mengunjungi lokasi-lokasi bersejarah di seputar nusantara. Gabung aja di salah satu komunitas tersebut untuk ikutan kegiatan-kegiatan serunya.

Neng, ke museum yuk!