Tulisan ini dimuat di Harian Jogja, 25 Januari 2012 (dalam dua bagian)

Pada tahun 1990, sebuah kapal berukuran kecil yang diawaki dua aktor Indonesia, Sawung Jabo dan Arif Hidayat, membawa dua kelompok warga negara Irak dan Kamboja dari perairan selatan Indonesia menuju pulau terluar di negara bagian Western Australia. Mereka lalu menurunkan para imigran gelap ini di sebuah gurun pasir seluas wilayah Polandia dan mengatakan bahwa bus telah menanti mereka di gurun itu. Tentu saja ini hanya akal-akalan mereka. Dua aktor kawakan Indonesia ini memang sudah lama malang-melintang menyelundupkan manusia ke Australia dalam film besutan sutradara Australia Michael James Rowland, Lucky Miles (2007). Film ini diangkat berdasarkan kisah nyata orang-orang yang masuk secara ilegal ke Australia dari perairan di Indonesia.

Film Lucky Miles (2007)
Sumber: http://www.borders.com.au/video/lucky-miles/23299908/

Kisah ini pula yang akhir-akhir ini sering kita saksikan di layar kaca. Belum habis ingatan kita akan peristiwa kapal imigran gelap yang karam di perairan selatan Ciamis pada bulan November tahun lalu, kejadian serupa kembali terjadi di penghujung tahun 2011 di perairan Trenggalek Jawa Timur. Jumlah korban dalam dua peristiwa ini tidak bisa dibilang sedikit.

Dua peristiwa ini bukan pertama kali terjadi di Indonesia. Mungkin buat sebagian orang yang tinggal di Indonesia, berita ini hanya dianggap sepintas lalu. Tapi berlaku sebaliknya bagi WNI yang tinggal di Australia dan sedikit banyak paham dengan kondisi para tahanan kejahatan people’s smuggling (baca: penyelundupan manusia). Mereka tersebar di beberapa penjara di negara bagian Western Australia, New South Wales dan Queensland.

Bangkai kapal para pencari suaka ilegal yang karam di perairan Ciamis 2011
Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/node/164245

Seperti biasanya, ketika ada kapal pencari suaka yang tenggelam, yang paling banyak disorot adalah para awak kapal yang menyelundupkan para pencari suaka ini. Mereka menjadi kambing hitam dan sasaran awak media dan aparat di Indonesia. Setelah terombang-ambing di lautan dan nyawa mereka bisa diselamatkan, hukuman penjara sudah menanti di depan mata.

Tidak semua awak kapal yang menyelundupkan manusia berakhir di penjara Indonesia. Ada banyak penyelundup manusia yang kapalnya berhasil memasuki wilayah Australia namun akhirnya ditangkap oleh aparat berwajib. Radio Nederland Wereldomroep Indonesia menyebutkan tidak kurang dari 300 orang Indonesia berada dalam penjara-penjara Australia dengan tuduhan penyelundupan manusia pada tahun 2011. Tapi pernahkah kita mencari tahu siapa sebenarnya para tersangka people’s smuggling ini?

Bagi para imigran gelap, tersangka penyelundup manusia ini bak pahlawan. Mereka adalah harapan terakhir ketika lembaga UNHCR dan pemerintah Australia tidak kunjung mengizinkan mereka memasuki wilayah Australia. Namun, tidak semua tersangka ini adalah otak utama di balik penyelundupan. Beberapa media di Indonesia dan Australia menyebutkan bahwa mereka yang rata-rata nelayan miskin ini hanya korban jaringan bisnis ini. Bahkan ada di antara mereka yang masih berusia belasan tahun.

Scan koran Harian Jogja yang memuat tulisan ini pada 25 Januari 2012

Mereka biasanya hanya diminta membawa penumpang sampai perbatasan dan dijanjikan bahwa pelaut dari Australia akan menjemput mereka. Ternyata kapal itu tidak pernah ada. Mereka lalu diancam bahkan dipukul oleh para pencari suaka untuk menurunkan di daratan Australia.

Sebut saja Ose Lani, Ako Lani dan John Ndollu, tiga remaja asal pulau Rote yang sempat merasakan dinginnya penjara Australia karena tertangkap membawa pencari suaka asal Afganistan dan Irak. Tawaran lima juta Rupiah dari orang yang belum pernah mereka temui sebelumnya untuk menjadi koki di kapal tidak bisa mereka tampik. Jumlah yang fantastis untuk ukuran mereka yang biasanya dalam sebulan hanya mendapat upah sekitar duapuluh lima ribu Rupiah. Malangnya, mereka hanya menerima sejumlah 250 ribu Rupiah sebagai uang muka dari total yang dijanjikan sebelum akhirnya ditangkap polisi Australia (KBR68H, 2011).

Ose Lani, Ako Lani dan John Ndollu, korban bisnis people's smuggling dari Pulau Rote
Sumber: http://www.dailytelegraph.com.au/news/national/were-cooks-not-people-smugglers/story-e6freuzr-1226094963212

Dalam kebingungan karena tidak paham bahwa yang mereka lakukan melanggar hukum, mereka hanya menangis ketika ditempatkan di penjara dewasa bersama dengan tahanan pembunuhan dan pemerkosaan. Menurut beberapa sumber, mereka tidak memiliki kartu identitas yang menunjukkan usia mereka. Alat pemindai sinar X mendeteksi bahwa struktur tulang mereka adalah tulang orang dewasa. Pekerjaan sebagai nelayan telah menempa tubuh mereka menjadi seperti orang dewasa. Bisa dibayangkan ketakutan mereka berada di negara asing tanpa keluarga dan di penjara pula.

Bersambung ke Bagian II (Berkunjung ke Penjara Negeri Kanguru)