Saya punya teman baik dari Kenya sewaktu kuliah di Faculty of Education, Monash University di tahun 2010 lalu. Namanya Frederick, panggilannya Fred. Dia orang yang sangat spesial, saya bertemu dengannya di kelas Inclusive Education dan kebetulan kami berada di satu kelompok kerja yang sama sehingga kami punya banyak kesempatan untuk mengenal lebih jauh satu sama lain.

Frederick adalah salah satu mahasiswa berkebutuhan khusus di fakultas saya. Dia tidak bisa melihat sejak umur 7 tahun gara-gara menderita penyakit katarak. Tapi Fred adalah orang yang tidak kenal menyerah, dia termasuk orang yang berprestasi di bidangnya sehingga mendapatkan beasiswa Ford Foundation untuk bersekolah di Monash University. Saya kagum dengan semangat hidupnya. Saya berharap dengan menuliskan kisah Frederick, teman-teman berkebutuhan khusus yang akan berangkat studi di Aussie atau ingin kuliah disana dapat mempunyai gambaran bagaimana kuliah di universitas Aussie.

Di kelas Inclusive Education, kami belajar mengenai teori pendidikan inklusi, namun Fred adalah narasumber terpercaya mengenai apa seharusnya sebuah pendidikan inklusi tersebut. Dia mengikuti kelas sama seperti yang lain, meskipun dia tidak bisa melihat dia mendengarkan dengan baik apa yang dibicarakan di kelas. Sehingga kami semua di kelas selalu ingat jika kami berbicara harus sejelas mungkin dan pengajar kami juga berusaha untuk menjelaskan lembar presentasi beliau dengan detail, termasuk gambar apa yang ada didalamnya.

Monash mempunyai komitmen untuk memberikan pelayanan pada mahasiswa dengan beragam kebutuhan khusus mulai dari difabel (physical disability) dan gangguan mental (mental disorder). Dengan demikian hak mereka yang memiliki kebutuhan khusus untuk mendapatkan pendidikan tinggi dapat terpenuhi. Banyak sekali dukungan untuk mahasiswa berkebutuhan khusus supaya dapat berhasil di kuliah dan juga mempermudah hidup diluar kampus. Berbagai macam dukungan yang diberikan bisa dibaca di link ini.

Salah satu layanan yang diberikan universitas adalah memberikan bantuan notetaker. Universitas menyewa seseorang untuk menemani mahasiwa berkebutuhan khusus dan membuat notulensi perkuliahan. Frederick juga menggunakan layanan ini dan mendapatinya cukup bermanfaat karena dia dapat membaca lagi notulensi kuliahnya jika kesulitan mengikuti di kelas.

Sebentar, Anda mungkin bertanya bagaimana Frederick bisa membaca jika dia tidak bisa melihat. Frederick punya sebuah program di komputernya bernama JAWS yang bisa membacakan untuknya apa yang tertulis di layar komputer. Sebelum Fred mampunyai laptop sendiri, universitas meminjaminya sebuah laptop lengkap dengan segala software program yang memudahkan mahasiswa berkebutuhan khusus untuk belajar. Software program untuk mahasiswa berkebutuhan khusus dapat diunduh cuma-cuma atau dengan biaya relatif terjangkau di link yang disediakan Monash ini.

Sebelum memulai perkuliahan, Fred diberikan orientasi medan di kampus sehingga dia bisa secara mandiri mengakses tempat yang dia inginkan. Hal ini sangat memungkinkan karena semua jalan di kampus Monash dan seluruh kota sudah dilengkapi dengan infrastruktur yang dapat diakses orang dengan kebutuhan khusus, seperti ramp untuk kursi roda, jalan penuntun orang buta (blind walkway), di beberapa tempat ada penanda dengan huruf braille dan penanda audio untuk menyeberang jalan.

Image
jalan untuk memandu tuna netra di sekitar kampus Monash
Image
Penanda di stasiun dengan huruf braille

Sebagai bentuk kemudahan, Monash memberikan prioritas bagi mahasiswa berkebutuhan khusus untuk menempati akomodasi di dalam kampus sehingga memudahkan mobilitas mereka. Karena Fred tinggal di akomodasi dalam kampus, dia tidak pernah khawatir jika kuliah selesai malam karena selalu ada shuttle mobile yang masih beroperasi untuk mengantar dia ke asrama. Layanan ini tentu saja cuma-cuma.

Di luar urusan kuliah, universitas juga memperhatikan kebutuhan para mahasiswa berkebutuhan khusus. Ada sukarelawan yang dikoordinasi oleh universitas untuk menemani mahasiswa berkebutuhan khusus belajar cara berbelanja di supermarket. Monash juga menghubungkan Fred dengan perkumpulan orang dengan gangguan penglihatan (people with vision impairment) di Melbourne. Lewat organisasi inilah, Fred mendapat banyak pengalaman menarik. Dia bercerita bahwa dia diajarkan bagaimana menyetir mobil! Fred sangat senang sekali karena menyetir mobil adalah sebuah pengalaman yang tidak pernah disangka akan dilakukannya.

Image
Fred dan saya saat wisuda

Dengan begitu banyak dukungan dari universitas untuk Fred, saya sebagai temannya mempunyai ‘tugas’ yang cukup mudah. Saya membantu Fred untuk urusan sepele menyangkut tugas kuliah, misalnya membuatkan daftar pustaka melalui program EndNote dimana bagi orang yang bisa melihat pun njlimet, apalagi untuk orang yang tidak bisa melihat. Saya menemaninya jalan-jalan ke pusat kota supaya dia bisa tahu cara naik bis dan kereta. Saya juga mencarikan komunitas orang Kenya yang kuliah di Monash supaya dia tidak terlalu homesick. Saya sebisa mungkin mengajaknya di acara-acara sosial di kampus sehingga hari-harinya cukup berwarna.

Saya yakin dengan tekad Anda dan fasilitas yang diberikan universitas-universitas di Australia seperti Monash, Anda yang mempunyai kebutuhan khusus dapat memaksimalkan potensi Anda. Sayangnya, universitas dalam negeri kita belum ada yang mampu menyediakan layanan seperti diatas. Namun Anda jangan berkecil hati, banyak beasiswa di luar negeri yang memberikan prioritas bagi orang dengan kebutuhan khusus. Jika Anda mempunyai kesempatan tersebut, ayo kita sama-sama mewujudkan komunitas yang inklusif sekembalinya Anda dari tanah air. Sehingga universitas kita dapat memberikan dukungan untuk mahasiwa berkebutuhan khusus dan lebih banyak dari mereka yang dapat mengakses pendidikan tinggi.