Apa sebab?

1) Kalau tiap hari jajan diluar seperti kebiasaan pas di Indo bisa ‘tekor’. Fakta: memasak 50%, jajan 50% (saya, suami dan bayi kecil kami umur 6 bulan kadang2 saja makan di luar, sering takeaway karena kemana2 seperti rombongan sirkus bawaannya banyak :p)

2) Kalau kangen masakan Indo, ga ada yg ‘ngider’ deket rumah (I miss you abang2 nasgor, migor, jagung rebus, rujak, batagor, bakso, siomay, mi tek tek)

3) Ternyata rasa masakanku tidak kalah sama bikinan restoran (ehem ehem)

4) Bisa dijadikan pelepas suntuk saat bikin paper atau menghadapi ‘writer block

5) Pasti senang kalau sewa property di Oz umumnya dapur lengkap (electricity stove minimal 2 plates plus oven/grill dibawahnya)

6) Piranti panci2 kualitas bagus yang di Indo lumayan ‘selangit’ harganya bisa didapat murah disini dengan catatan beli di second hand market seperti garage sale (pergi ke garage sale yang level community pilihan barang lebih banyak dan harga cenderung murah), Vinnies atau Salvos.

Resep? Resources terbanyak dapat ditemukan dari om google ha3. Selain itu masakan indo dari buku resep Bondan Winarno yang kubeli harga Rp5.000,00 di abang2 yang promosi di bus di Jakarta sebelum kesini. Recipe resources Indonesia yang mantap juga dari website mba Astri yang buka catering pro di Canberra.

Sejak 1.5 tahun di Australia lumayan banyak jenis masakan yang ‘ngepul’ di dapur (meskipun sering kali lihat ‘kepekan’ resep). Numero unonya tetep masakan Indo. Yang beberapa kali kupraktekkan dan sukses: bakso, udang asam manis, cumi saos tiram,  ikan bumbu Bali, cap cay (kebanyakan seafood karena saya kelahiran Semarang, pantura banget). Selain itu juga pisang goreng, lumpia semarang (website eresep), bala-bala (yang ini spesialis suamiku yang racik2), cireng dan gimbal udang. Masakan negara Asia lainnya (tetep lidah Asia masalahnya) favoritku misalnya masakan Burmese (ide kudapat dari sering jajan di warteg Burmese belakang platform 5 City bus station Canberra, bisa dibilang warteg karena rasa resto harga kaki lima, $7 takeaway), favoritku Beef stir fry with green beans (buncis), capsicum (paprika) and cashew nut (kacang mete), resep bisa dicek di website taste Australia. Ditambah nasi panas dijamin ‘ga’ kecewa, apalagi modal perut lapar:p

Western food juga menggoda apalagi kalau waktu tidak memadai untuk masak besar misalnya spaghetti (bahan cuma beef mince, salt, pepper, oregano, onion, cheese, tomato), sandwich (modal roti tawar) yang isinya mulai dari paling simple: lettuce, tomato, turkey slices (bisa dibeli di semua supermarket) atau yang model barbeque isi grilled sausages and onion.

Bahan dasar dan bumbu yang umum tersedia di semua supermarket seperti tofu, salt, pepper, coriander (ketumbar), oregano, bay leaves (daun salam), turmeric (kunyit), oyster sauce (saus tiram). Selebihnya yang spesifik di Asian groceries (di Canberra yang lumayan lengkap: Dickson-Saigon, Acton-sebelah Unilodge Kinloch, Kippax-depan Asian Food yang jual makanan jadi Indonesia, Belconnen, Wooden-Koh Herman) misalnya terasi, hoisin, candlenut (kemiri sangrai), lime leaves (daun jeruk), laos, dried chilli (cabai kering), lemon grass (daun sereh), pala, tamarind

(asem), gula jawa, cabe rawit, tepung tapioka dan tepung beras. Bagi yang tidak mau ribet bumbu makanan jadi juga ada di tempat itu: gulai, rendang, empal goreng, sayur asem, nasi kuning, soto daging dll. Di Asian groceries juga dijual tempe Indonesia, kecap Indonesia, tauco, ikan asin, teri, kerupuk, water spinach (kangkung), kacang panjang, kacang hijau, kacang tanah, rebung dan pisang kepok.

Oh ya, motivasi saya memasak:

1) Ingin hidup sehat sedapat mungkin. Saya menghindari sakit di Oz karena kuliah kondisi sehat saja ‘susah payah’ apalagi kondisi sakit. Tentu saja bila didukung olahraga teratur, rekreasi dan tidur yang cukup akan lebih sehat. Fakta: sebagai postgraduate student dan ibu menyusui dari bayi yang masih kecil, saya terkendala waktu untuk dapat manage tidur yang cukup dan terlalu lelah untuk olahraga serius. Jadi senjata utama saya pola makan sehat, vitamin dan vaksinasi virus flu menjelang musim dingin. Tapi kalau ‘kepepet’ terpaksa stok mi instan dipakai.

2) Buah dan sayuran segar banyak tersedia disini, rata-rata produk organik. Daging dan ikan juga lengkap. Biarpun harganya lebih mahal daripada di indonesia (kecuali untuk susu sapi pasteurisasi, pisang cavendish dan watermelon) tetapi penghasilan beasiswa saya disini kan dalam dollar, jadi saya berusaha tidak mengkonversikan belanja bahan makanan saya ke rupiah.

Thanks goodness, kalau pas sempat menyisihkan waktu masak sendiri, kantong sehat, badan sehat, keluarga senang^^

Cheers