Akomodasi merupakan satu masalah yang paling pelik bagi mahasiwi yang membawa keluarga.  Syukurlah, kesulitan akomodasi yang pernah saya alami akhirnya membawa berkah, karena  pemilik rumah yang saya tempati saat ini yang mengijinkan saya menyewa dan berbagi rumah sampai saya menyelesaikan program S3  saya di akhir tahun 2013.

Saat ini saya menempati rumah 4 kamar.  Dua kamar untuk saya dan Rifqi, anak saya; dan dua kamar lainnya saya sewakan.  Dengan demikian sewa rumah di Canberra menjadi terjangkau dan lebih menyenangkan, karena kami bisa berbagi tugas dan tanggung jawab sesuai dengan perjanjian berbagi rumah yang telah kami sepakati sebelumnya.

 Sejarah pindah rumah

Saya tiba di Canberra tanggal 10 Januari 2010 dan menginap di akomodasi sementara di Toad Hall sambil mengikuti program orientasi yang dilakukan oleh AusAID.  Anak saya, Rifqi, akan menyusul di bulan Juli 2010 setelah menyelesaikan SMPnya di Jakarta, untuk melanjutkan SMA di Canberra.  Karena membawa keluarga, saya harus mencari akomodasi di luar kampus.  Setelah melakukan inspeksi (kita harus mengunjungi dan memeriksa properti pada saat open house) dan melamar 26 properti, akhirnya tanggal 10 Pebruari 2010 saya mendapat apartemen 2 kamar dan berbagi sewa dengan Marudut, mahasiswa S2 Kebijakan Publik di ANU.  Setibanya Rifqi di bulan Juli, Marudut pindah ke rumah lain.

Saya sangat menyukai apartemen tersebut, sampai akhirnya saya mendapat kabar di bulan Desember 2010 bahwa pemilik apartemen memutuskan untuk menjualnya pada saat berakhir kontrak 9 Pebruari 2011.  Sejak 9  Pebruari, saya hanya diperbolehkan untuk menyewa dari bulan ke bulan sampai rumah terjual, tanpa perjanjian sewa tertulis.  Wah, perasaan saya menjadi campur aduk!  Walaupun agen menyatakan, “jangan khawatir… Anda adalah penyewa yang baik… jadi kalau pemilik baru menyewakan apartemen ini, Anda akan menjadi prioritas pertama.  Kemungkinan terburuk adalah Anda akan diberi waktu 8 minggu untuk mencari rumah baru…”  Namun mereka menolak untuk memberikan pernyataan tersebut secara tertulis, sehingga saya memutuskan untuk mencari rumah baru, karena tidak ada kepastian.

Bulan Februari adalah bulan yang paling buruk untuk mencari rumah di Canberra.  Mahasiwa dan karyawan baru berdatangan dari berbagai penjuru Australia dan dunia.  Persaingan sangat tinggi dalam mendapatkan rumah.  Selain itu, saya juga mempunyai keterbatasan karena rumah yang saya cari haruslah dalam radius 1.5 km dari sekolah Rifqi dan harus dekat fasilitas kendaraan umum (karena saya tidak bisa menyetir dan tidak punya mobil).  Perjuangan dimulai.  Setiap hari saya mengunjungi website Allhomes (website nomor satu untuk mencari rumah) setiap satu jam sekali untuk menemukan properti yang disewakan di daerah sekitar sekolah Rifqi.  Saya tidak dapat memfokuskan diri dalam pelajaran karena pikiran saya tertuju mencari rumah.  Saya sangat lelah, walaupun sebenarnya saya masih punya atap yang saya sewa setiap bulan.  Saya tidak menyangka bahwa saya harus kembali mengalami proses “memburu” rumah setelah saya merasa nyaman tinggal di apartemen saya selama 1 tahun!

Berkah Tersembunyi

Pada saat saya sedang mencari rumah baru, saya membaca di milis PPIA (Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia) Canberra, bahwa Victor, mahasiswa S1 Teknologi Informasi di ANU yang saya kenal baik, juga sedang mencari rumah karena tidak mendapatkan akomodasi on campus.  Victor yang saat itu berada di Surabaya saya hubungi, dan setuju untuk berbagi rumah dengan saya dan Rifqi.  Hal ini memungkinkan kami mencari rumah 3 kamar dengan harga cukup terjangkau.

Saya berdoa agar mendapatkan rumah langsung dari pemiliknya karena bisa lebih mendapatkan kepastian dibanding dengan agen properti. Saya tidak ingin lagi pindah rumah sampai saya menyelesaikan S3 karena proses mencari dan pindah rumah sangatlah menyita waktu, emosi dan pikiran!

Tuhan menjawab doa saya.  Setelah mengunjungi lebih dari 10 rumah, akhirnya saya menemukan rumah dengan 4 kamar yang sangat menyenangkan di Downer, hanya 1.5 km dari sekolah Rifqi.  Saya langsung bertemu dengan pemilik rumah sewaktu melakukan inspeksi.  Untuk memenangkan kompetisi mendapatkan rumah tersebut, saya mempersiapkan aplikasi dengan sebaik-baiknya, lengkap dengan data-data pendukung yang terdiri dari bukti beasiswa, bukti tabungan, bukti gaji saya sebagai tutor di ANU, dsb.  Wah… melamar rumah di Canberra rasanya jauh lebih sulit dari melamar kerja di Jakarta!

Senang sekali segalanya berjalan lancar.  Victor selalu membalas email saya dengan cepat, sehingga mudah bagi saya untuk menandatangani semua persyaratan yang diperlukan.  Yang tak kalah pentingnya, saya menyerahkan lamaran saya langsung kepada pemilik rumah tanggal 12 Pebruari 2011.  Beliau sangat terkesan akan keseriusan saya dalam mendapatkan propertinya, dan  memutuskan bahwa kami dapat menyewa rumahnya sampai akhir tahun 2013!

Perjanjian berbagi rumah

Saat kami mulai berbagi rumah, Victor, Rifqi dan saya menandatangani surat perjanjian antar penghuni rumah.  Hal ini kami lakukan agar kami mengerti betul hak dan tanggung jawab kami dalam membangun kehidupan rumah yang harmonis.  Perjanjian ini terdiri dari pembagian biaya sewa dan kapan membayarnya; pembagian biaya listrik, gas, Internet, dsb; pembagian tugas membersihkan rumah; pemakaian alat-alat rumah tangga seperti mesin cuci, dsb; waktu tenang; mengundang tamu untuk menginap; tata cara hubungan baik antar penghuni; jangka waktu sewa; dll.  Perjanjian ini kami diskusikan dan tandatangani dengan gembira.

Teman yang pernah tinggal di rumah kami

Rumah yang kami sewa terdiri dari 4 kamar.  Kami pindah tanggal 24 Pebruari 2011 dan memutuskan hanya menggunakan 3 kamar untuk saya, Rifqi dan Victor.  Namun dengan berjalannya waktu, ternyata kamar yang keempat yang sedianya saya gunakan untuk ruang kerja dapat pula disewakan untuk teman-teman yang berkunjung ke Canberra dalam waktu singkat.   Selain itu, pemilik rumah juga mengijinkan bahwa kamar kami dapat pula disewakan untuk teman-teman yang membutuhkan.

Sepanjang tahun 2011 ada beberapa teman yang menyewa kamar kami.   Misalnya, Titik, teman baik saya yang akan menyesaikan S3nya di ANU, menyewa kamar saya selama 3 bulan saat saya melakukan studi lapangan antara bulan September hingga Desember 2011.  Selain itu ada teman-teman yang hanya memerlukan kamar antara dua minggu sampai dua bulan saat mereka mencari akomodasi permanen, atau untuk saat transisi meninggalkan Canberra.

Lumayan.  Uang yang kami dapat dari  menyewakan kamar yang  keempat  dapat kami gunakan untuk membayar listrik yang cukup mahal di waktu musim dingin.

Tulisan lainnya:

http://nengkoala.com/2013/08/05/saya-bercita-cita/

http://nengkoala.com/2012/04/22/kuliah-s3-sambil-jadi-ibu-kos-di-canberra/

http://nengkoala.com/2012/04/10/sajojo-dan-disertasi-s3/

Blog saya:

About Risa