Oke, setelah post satu dan post dua, here is the third post dari serangkaian cerita tentang proses meraih S2. Ada banyak hal yang bisa diomongin… namun di post ini aku akan bercerita garis besar perjalanan aku sebagai student perempuan yang membawa anak dan suami.

Ingin suami segera dapat pekerjaan

Pasti ini adalah hal yang mencemaskan bagi banyak student perempuan yang memboyong keluarga… khawatir suami bosan di rumah, gak happy, menyesali ikut dsb… termasuk aku. Padahal suamiku itu orang nya adventurous, serta super duper optimist (baca: bonek). Namun tetap aja aku khawaaatir (dan mewek heheh) terus… Suamiku pun rajin banget lihat lowongan online dan apply kesana kemari… yah namanya di negeri orang… susah lah harus berkompetisi dengan orang lokal dan bahkan mungkin juga dengan orang internasional lainnya. Setelah melalui beberapa pekerjaan, akhirnya empat bulan sejak mendarat di Melbourne suamiku mendapat pekerjaan full-time yang disenanginya.  Cerita tentang perjalanan suamiku mendapatkan pekerjaan bisa dilihat di my blog.

Division of Labour

Nah jadi gimana nih dengan aku yang full time students dan suamiku yang kerja full time? Adalah manajemen waktu melalui kerjasama dengan suami dalam melaksanakan rumah tangga. Istilahnya suami, division of labour-nya hahahah. Aku kebagian tugas memasak,  melipat baju, urusan bayar tagihan, dan mengurusi si bocah all other times except pas kuliah, menjelang due date assignment, dan musim ujian. Suamiku kebagian mencuci baju, mem-vakum karpet, dan mencuci piring. Selebihnya kita kerjakan bersama, seperti beres-beres kamar, ruang keluarga, kamar mandi, dan dapur. Karena suamiku bekerja full-time, memang aku lebih cenderung yang banyak tinggal di rumah bersama anak. Apalagi pada semester pertama anak tidak ku masukkan childcare. Practically I felt like (I think I really was) a full time student and a full time mama it was great! Termasuk beres-beres atas segala kehebohan ketika si bocah sudah makin pintar mengisengi ibunya, seperti bermain bedak, mainin makanan, buang-buang susu, dan berantakin lemari… lucu ngeliatnya.. (wait until I have two boys.. not too funny hahahha).

Keisengan tingkat rendah...

Jujur, anak pertamaku ini was such a good baby, hampir gak pernah nangis… yang penting mama is around dan perut kenyang serta banyak mainan hehehhe. Jadi, aku bisa baca-baca bahan kuliah sambil menemani si bocah yang riang bermain dengan mainan-mainannya. Kehidupannya sangat teratur, makan apa pun doyan dan nap time nya pun masih dua kali, siang dan sore. Tidur malamnya juga cenderung teratur dan settle (asal tidak sedang sakit). Maka malam hari setelah anak tidur kugunakan untuk mengerjakan assignment. So, kalau ada teman-teman yang bertanya bagaimana survive kuliah dengan bawa bayi, aku sering kali menjawab mungkin bukan aku  nya yang able, tapi karena si bocah mudah diurus. Thanks to my grandma for all her advices about baby routines! Ternyata memang benar, melatih anak mengikuti rutinitas sangat membantu kita!

Ada satu hal yang sampai sekarang bila teringat masih membuat aku dan suamiku berteriak “tidaaaak”… adalah bila anak sakit sedikit pasti ada acara muntah nya. Sehingga seringkali bila anak sakit cucian menggunung… karena ya itu baju, seprai, selimut kena muntah berulang kali… bisa bayangkan bila pada saat banyak tugas, maka ditambah urusan bersih-bersih muntah, cuci-cuci, dan lipat-lipat cucian… belum lagi rumah yang dipenuhi aroma muntah hehehhehhe….

Waktu Bersama Sekeluarga

Waktu bersama sekeluarga biasanya kita lakukan hari Sabtu… Biasanya kita belanja… kemudian eating out sambil jalan-jalan di city,  atau juga pada hari Minggu pagi jalan-jalan ala kadarnya seperti ke second hand market buat berburu mainan dan buku anak-anak serta sarapan bersama. Terkadang pergi ke multicultural festivals… Melbourne memang kota festival… tiap weekend adaaa aja event-event nya. Pokoknya yang murah meriah sajalah…. Pada liburan break mid-semester biasanya banyak assignment, namun kami sempatkan berwisata ringan untuk relaksasi seperti ke Tesselaar Tulip Festival, Frankston, Mornington Peninsula, Mount Baw Baw, dll. Kemudian pada akhir semester baru jalan-jalan beneran…. seperti ke Great Ocean Road, Sydney, Lake Mountain, Tasmania, dan Phillip Island. Intinya, selama di Melbourne kehidupan kami menjadi teratur, dan waktu benar-benar digunakan untuk hal-hal yang berkualitas, sesuai harapan kami, gak habis buat kena macet dan atau menunggu kereta mogok seperti ketika kami di Jakarta!

Kerikil Dalam Perjalanan

Overall, selama kuliah 3 semester bukan berarti aku bebas dari kerikil yang menghalangi perjalanan kami. Pernah aku kena academic abuse dari teman satu kelompok. Namun pengalaman tersebut menunjukkan bahwa masih ada sistem yang baik di universitas tersebut untuk mengatasi masalah itu. Masalah paling berat adalah ketika semester kedua aku keguguran dan komplikasi serta anak sakit-sakitan karena masuk childcare. Komplikasi keguguran menyebabkan berbulan bulan harus bolak balik dokter dan tes darah sampai tim dokter yakin segala sesuatunya. Juga anak sampai harus di rujuk ke Royal Children Hospital. Namun ini menunjukkan sistem health service yang baik dari universitas, dokter dan nurse begitu perhatian, tidak cuma menangani dengan baik tapi memastikan kita ditangani dengan baik oleh para ahlinya. Semua masalah kesehatan alhamdulillah fully covered by asuransi (OSHC) karena dokter di health service memastikan kami dirujuk ke tempat-tempat yang direct billing.

Masalah anak sakit untungnya merupakan masalah yang dianggap penting baik dari pihak universitas dan juga pemberi kerja. Mungkin karena di Australia ini memang umum orangtua terpaksa harus minta ijin demi anak sakit karena kalau anak sakit tidak boleh masuk penitipan dan juga belum tentu ada keluarga atau teman dekat yang dapat membantu kita pada saat itu. Pernah aku di tengah-tengah kuliah penting ditelepon childcare karena anak sakit harus segera dijemput padahal mobil dibawa suami kerja karena pada hari itu aku yang bertugas menjemput anak naik tram. Akhirnya suami minta ijin supaya dapat jemput anak yang sakit di childcare. Ketika suamiku  drop mobil dan anak di kampus, bersamaan dengan usainya kuliahku, maka aku pulang bersama anak naik mobil dan suami balik ke tempat kerja naik tram. Atau pernah juga ketika teman satu kelompok ada deadline kerjaan dan aku yang harusnya back-up submission kali ini malah kerepotan karena anak sakit. Temanku yang orang Aussie itu bilang “You have to prioritise your child, we should ask for an extension“. Kemudian kami bersama-sama satu kelompok menjelaskan keadaan kami kepada dosen dan minta deadline extension. Dosen sangat memahami dan diberi extension weekend (submission Jumat jadi submission Senin).

Kemudian, akibat kejadian sakit tersebut karena sering tertular dari childcare, maka aku menurunkan jumlah hari penitipan anak menjadi 1 hari saja yang kujatuhkan pada hari aku tidak kuliah supaya dapat mengerjakan assignment yang kian hari makin sulit. Alhamdulillah we could go through this berkat kerjasama antara aku dan suami.

Tugas Belajar

Cape Otway (Great Ocean Road), where the oldest surviving lighstation is... and you can climb up and enjoy a breath taking view!

Sebagai student penerima beasiswa tentunya kita punya tanggung jawab moral terhadap pemberi beasiswa untuk menjalani pendidikan kita dengan baik. Apalagi demi pengorbanan suami, maka aku makin terpacu untuk tidak sembarangan. Juga, bukankah lebih enak jalan-jalan kalau hasil kuliah baik? Secara tidak sengaja, aku membuat strategi belajar yang menguntungkan aku, padahal semua itu di desain demi anak. Yaitu, karena takut kalau mau ujian dan mengumpulkan tugas anak tiba-tiba rewel atau sakit. Maka, aku memaksa diriku untuk belajar sebelum kuliah, tidak cuma membaca. Aku pun berusaha mengkaitkan bahan kuliah dengan current issues dan pengalaman kerja. Sehingga aku dapat memahami kuliah dan dapat ikut serta diskusi dengan baik di kelas. Hal ini membuat belajar sebelum ujian menjadi mudah, seperti mengulang saja. Mengerjakan assignment juga dari jauh hari, sehingga aku dapat membaca, membaca dan membaca lagi sebab proofreading penting dan assignment merupakan bagian besar dari unsur nilai akhir. Hasilnya, aku sering mendapat nilai assignment yang sangat tinggi dan bahkan top mark di beberapa kelas.

So the cherry on top (another cherry? yes we love cherries!) adalah ketika graduation dinner, tiba-tiba tanpa kuketahui sebelumnya namaku dipanggil untuk maju mendapatkan Dean’s Honours List Award, alias award untuk top 3% students graduating from the faculty graduate school. Benar-benar tidak menyangka, all the hardworks paid offI graduated with Dean’s Honours List Award and an average grade of First Class Honours

Perjalanan Masih Panjang

Yep… perjalanan kami selama di Melbourne memberikan banyak benefit, lahir dan batin… dan kemudian pengalaman kerja suami yang membantunya dalam berusaha untuk sekolah S2 di Australia, mengantarkan kami to the next stage of our life…. dimana perjalananku menimba ilmu di Australia ternyata masih panjang….serta hidup di Australia dengan dua anak ternyata benar-benar very challenging! Ceritanya di next post ya…