Terinspirasi dari istilah yang dipakai seorang teman dalam akun Facebooknya, saya ingin bercerita tentang pengalaman saya selama (baru) 3 bulan menikmati pendidikan dan kehidupan di Australia. In general (halah, IELTS banget nih) saya merasa sangat-sangat beruntung bisa mendapatkan beasiswa ADS dan bisa ada di sini, di Brisbane, Australia.

Kehidupan saya di sini seperti rollercoaster, turun-naik campur-aduk ga keruan. Saya senang karena bisa sekolah tanpa harus merepotkan keluarga, dengan beasiswa yang diimpi-impikan banyak orang. Tapi saya juga merasa sedih karena harus berpisah dengan suami (yang baru saya nikahi selama 1 tahun), orang tua, adik-adik dan teman-teman baik saya. Saya merasa gelisah karena tidak tahu persis apa yang akan saya hadapi di Australia. Tapi di saat yang sama saya juga merasa penasaran dan antusias karena saya selalu suka mencoba sesuatu yang baru.

Perasaan senang saya begitu mendarat di bandara international Sydney untuk transit dan kemudian sampai di terminal domestik Brisbane dibuntuti perasaan gelisah tentang seperti apa para senior yang akan menjemput saya. Seperti apa akomodasinya? Seperti apa awal masa orientasi dan IAP di QUT? Seperti apa teman-teman yang akan saya jumpai di IAP? Apakah mereka sombong? Semua rasa penasaran dan cemas mulai terjawab perlahan seiring hari demi hari berlalu bersama teman-teman baru dari berbagai negara. Orang-orang yang semula terlihat acuh dan tidak perduli lama-lama bahkan menjadi teman baik saya. Piknik bersama, menjelajahi Brisbane dan Queensland selama masa IAP, makan bersama di kursi putih di samping perpustakaan, berdiskusi bersama tentang esai IAP yang sudah mendekati deadline. Apa yang awalnya bagi saya menakutkan, ternyata sangat menyenangkan.

Di masa-masa bulan madu bersama teman-teman baru IAP all of a sudden masa IAP berakhir. Saya harus rela berpisah dengan mereka untuk menjalani kuliah masing-masing. Janji terucap untuk terus piknik bersama. Apa daya, perkuliahan ternyata sekejam ibu tiri. Saya dan teman-teman karib IAP tidak punya kelas yang sama, ataupun jadwal yang sama, tidak punya jam makan yang sama, tidak punya deadline tugas yang sama. Lupakan tentang piknik dan menjelajah Queensland bersama, satu-satunya tempat sakral untuk bertemu mereka adalah di perpustakaan, dengan material kuliah masing-masing, soal exam masing-masing, assignment masing-masing. Masa-masa menjelang exam dan pengumpulan tugas mengubah masa-masa menyenangkan kami menjadi masa-masa frustasi dan depresi.

Dosen yang punya standar tinggi juga menuntut korban. Normalnya saya cuma terserang flu atau batuk. Tapi terkhir saya sampai menderita mata merah karena 3 hari tidak tidur malam (hanya tidur siang 3 jam) demi para assignments keramat itu. Mungkin vampir juga takut melihat merah mata saya. :p Dan saya rasa korbannya bukan cuma mata saya, tekanan darah saya, atau laptop saya. Saya kasihan pada penjaga perpustakaan tak berdosa yang juga jadi korban. Belakangan makin banyak mahasiswa yang tertidur di kampus (sambil ngiler) dan beban kerja para librarians pasti makin berat (^o^)

Yup, yup, tapi seperti juga rollercoaster, yang paling menakutkan itu adalah ketika kita ada di puncak dan diluncurkan ke bawah dengan kecepatan tinggi dan kita tidak punya kontrol akan apa yang mungkin akan menimpa kita. Setelah dijalani, naik rollercoaster itu ternyata asik juga. Setelah tugas-tugas dikumpulkan tepat pada waktunya, seluruh tekanan dan perasaan takut sirna, plong.. plong..

Tugas sudah dikumpul, liburan mid-semester tiba. Hilang sudah semua takut, cemas, gelisah, digantikan perasaan senang, dan antusias tentang rencana liburan. Perasaan senang saya bertambah dengan datangnya teman-teman Indonesia saya dari Canberra dan Melbourne untuk liburan ke Brisbane. Kami piknik bersama, menikmati hari-hari libur ke beberapa tempat menarik mulai Brisbane, Gold Coast, sampai the Great Barrier Reef yang terkenal itu. Benar-benar perasaan senang saya berlipat-lipat ganda. Saya lupa pernah begitu down sampai mata merah mirip vampir. Saya lupa tentang assignment. Kontras sekali perasaan saya bisa sangat berbeda di dua masa yang berlainan. Ada kalanya saya sangat tertekan sampai perlu menelepon suami sampai berjam-jam. Adakalanya saya begitu gembira sampai lupa tentang beratnya tugas-tugas kedua yang menanti setelah liburan. 😀

Dan siang ini saya cek e-mail dan blackboard kampus, tugas kedua sudah keluar. Deadline-ya juga sudah jelas ditetapkan, dan saya cuma punya waktu kurang dari 1 bulan. Ehm, teman-teman, kayanya saya harus mulai naik rollercoster saya lagi nih, doakan saya ya (^_^) Rollercoster kamu gimana?