Bali itu Indonesia dan Indonesia itu hanyalah Bali. Pandangan seperti inilah yang terbersit di benak sebagian besar warga asing. Melihat fenomena ini, terbersit di benak beberapa dari kami yang kebetulan sedang studi di Perth, untuk memperkenalkan indahnya sisi lain dari kebudayaan Indonesia. Kami ingin memulainya dengan memperkenalkan tari-tarian khas Indonesia yang jarang ditampilkan di event-event multicultural. Beberapa teman-teman pelajar memang senang ‘berjoget’, dan pernah belajar menari di tanah air ( Yaaa jaman TK dulu☺) Kendala utamanya adalah teman yang mau diajak bergabung. Berhubung sebagai mahasiswa, masing-masing kami punya beban studi yang lumayan demanding. Namun setelah bertemu dan berbincang dengan beberapa kawan di sebuah acara ulang tahun, akhirnya terbentuklah kelompok tari tersebut. Hanya saja kami belum memutuskan tarian apa yang akan kami bawakan. Awalnya, kami ingin memulainya dengan belajar melalui video yang diposting di YouTube, namun kami akhirnya berkesimpulan, tidak mudah melakukannya tanpa instruktur, atau setidaknya orang yang pernah menarikannya dengan benar. Kami butuh guru yang mau mengajarkan jenis tarian ‘grup’ apapun asal Indonesia yang jarang dipentaskan, tapi tetap indah dan tentunya tidak terlalu sulit untuk dipelajari. Memang jodoh, salah seorang kawan, Mbak Apriana bersedia untuk melatih kami. Akhirnya, kami memutuskan untuk belajar tari Pa’gellu yang merupakan tarian khas Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Tarian ini biasanya dibawakan saat panen, perayaan rumah baru, pernikahan dan penyambutan tamu. Gerakan-gerakannya memiliki filosofi ungkapan rasa syukur kepada sang pencipta alam.

Sejak awal kami memiliki keinginan untuk menampilkan tarian khas Indonesia, kami giat mendiskusikannya dengan ketua AIPSSA (The Association of Indonesian Postgraduate Students and Scholars in Australia), Pak Syaifullah Muhammad. Beliau sangat mendukung rencana positif kami. Kebetulan sekali PT. Garuda Indonesia Cabang Perth juga akan membuka kantor baru disertai acara pameran fotografi kontribusi teman-teman yang tergabung dalam AIPSSA. Kontan saja, kami menawarkan kemungkinan students tampil menari di rangkaian acara tersebut. Manajer Garuda Cab. Perth saat itu (Pak Syahrul) belum bersedia untuk menyetujui penampilan tarian tersebut hingga diadakan audisi. Pada satu hari yang ditetapkan, kami mengikuti audisi di King’s Hotel dan Alhamdulillah Pak Manajer setuju untuk menampilkan kami. Pak Manajer juga menambahkan bahwa keinginan kami untuk memperkenalkan sisi lain Indonesia juga sejalan dengan tujuan perusahaan mereka. Apalagi, hal ini juga mendukung gerakan Wonderful Indonesia yang dicanangkan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, pada Januari 2011.

Penari Pa’gellu senior (ki-ka): Tari, Ernita, Apriana, Ristin, Ratna

(Photo: Courtesy of Yun Fatimah)

Bagaimana dengan kostum (i.e. kandore) ? Kami sempat mencari informasi ke KJRI dan Himpunan Keluarga Sulawesi Selatan di Perth, tapi mereka tidak punya. No problem, dengan senang hati, kami putuskan untuk membeli kostum Pa’gellu secara swadaya, langsung diorder dari daerah asalnya, Tana Toraja. Akhirnya, pada tanggal 29 Juli 2011, tampillah kami di acara pembukaan kantor baru PT Garuda Indonesia di 16 St. George Terrace. Acara ini dihadiri oleh tamu dan kolega PT Garuda Indonesia dan tampaknya kolega dan tamu undangan acara malam itu mengapreasiasi penampilan tarian kami. Bahkan oleh beberapa perkumpulan masyarakat Indonesia, kami diminta untuk tampil dalam acara yang akan mereka adakan. Atensi dan apresiasi para hadirin, jelas membuat kami bahagia. Rasanya latihan keras kami diantara sibuknya jadwal sekolah tak sia-sia.

Namun kami sadar, tak selamanya kami berada di Perth, dan tak selamanya kami selalu punya waktu luang untuk tampil. Jadi, kami memikirkan untuk regenerasi agar Tari Pa’gellu tetap exist di Perth. Pas sekali…gayung bersambut, beberapa anak-anak students di Perth tertarik untuk belajar Tari Pa’gellu tersebut. Tentunya, setelah dimotivasi, kemungkinan performing pasti selalu terbuka, entah untuk acara World Day di sekolah atau acara lainnya. Salah seorang anggota kelompok tari kami, Ristin membantu melatih kelompok junior ini (‘Triple T’ Tyas, Tely, Tata). Kebetulan sekali, saya dihubungi oleh KJRI untuk diundang tampil bersama kawan-kawan membawakan Tari Pa’gellu di acara Food and Cultural events. Langsung saja, kami menawarkan kelompok junior baru ini untuk tampil menari. Pihak KJRI pun setuju dan tampillah mereka. Happy ending! Ya… setidaknya pernah sedikit berkontribusi, dan ber “ Tut Wuri Handayani” turut menyemangati yang muda-muda untuk ikut senang dan bangga menampilkan tarian Indonesia.

Penari Pa’gellu Junior (ki-ka): Tyas, Tely, Tata

(Photo: Courtesy of Buntoro Irawan)

Catatan:

Featured Image: courtesy of Syaifullah Muhammad