Impian saya untuk bisa S2 ke luar negeri (LN) sempat mati suri karena beberapa faktor berikut. Setelah tamat S1 saya langsung diterima bekerja sebagai staf pengajar di almamater saya. Lalu saya menikah dan memiliki anak. Ketika sebuah beasiswa (tidak perlu saya sebutkan di sini) membuka peluang besar-besaran untuk studi ke LN, saya mengutarakan keinginan saya untuk studi lanjut ke suami saya. Dia tidak menolak tapi tidak juga berkenan untuk diajak mendaftar bareng. Suami saya juga pengajar di universitas yang sama. Dia mungkin tipe orang yang tidak terlalu akademik sehingga bayangan kuliah di LN yang sulit, langsung membuat dia enggan. Saya terus membujuknya dengan mengatakan beberapa hal ini: kasih sayang ke anak yang tidak lengkap kalau terpisah, keinginan saya untuk selalu bersama dengan keluarga, dan latar belakang jurusan dia yang juga bahasa Inggris sehingga ada nilai plus kalau bisa belajar di English-speaking-country. Saya berjanji bahwa semua persoalan administrasi saya yang tangani. Suami saya tinggal tandatangan, melakukan persiapan tes IELTS, mengikuti tes IETLS, dan wawancara. Melihat kegigihan saya, akhirnya dia luluh juga.

Kami memilih University of Wollongong Australia yang memiliki jurusan Sastra Inggris dan TESOL. Semua berkas sudah siap termasuk Unconditional  Letter of Admission. Desk Evaluation kami lolos. Di malam sebelum wawancara kami menelepon seorang kawan yang telah lebih dulu lolos. Beliau mengatakan bahwa hal yang cukup sering menggagalkan kandidat dalam wawancara adalah pertanyaan tentang keluarga. Beliau menyarankan kalau ditanyakan tentang keluarga jawablah sediplomatis mungkin. Beasiswa ini kabarnya tidak mengijinkan kandidat membawa serta keluarganya. Hal ini menjadi beban pikiran kami. Sampai hari H kami belum yakin akan menjawab apa kalau ditanya tentang keluarga. Nama saya dipanggil duluan. Ada dua bapak yang mewawancarai.

Pada awalnya wawancara berjalan lancar bahkan cenderung cair karena saya dan para bapak ini beberapa kali tertawa bareng. Situasi ini berubah ketika kami sampai pada percakapan berikut:

“Apakah suami ibu mendukung keinginan untuk studi ke LN?”

Alhamdulillah mendukung Pak”.

“Bagaimana kalau ibu meninggalkan keluarga di sini?”

Dengan polosnya saya menjawab: “Saya tidak akan meninggalkan mereka Pak karena suami saya juga sedang melamar beasiswa untuk ke LN”.

Bapak tersebut agak bingung. “Suami Ibu sekarang dimana?”

“Di luar Pak”, jawab saya dengan nada lugu.

“Maksud Ibu, suami Ibu juga melamar beasiswa ini?”

“Iya Pak.”

Air muka para Bapak di depan saya berubah. Berakhirlah sesi wawancara saya dengan kebingungan dan sedikit penyesalan kenapa saya begitu lugu. Saya menemui suami saya dengan bertanya-tanya: akankah saya melarang dia mengakui bahwa istrinya adalah salah satu peserta wawancara atau saya biarkan saja dia mau berkata apa kalau ditanya tentang keluarga? Ketika dia bertanya tentang wawancara saya, saya memutuskan untuk melarang dia mengakui kalau akan sekolah bareng dengan istri. Namun belum sempat terucap, nama dia sudah dipanggil ke dalam. Hati kecil saya sempat berucap syukur tidak jadi menyuruh suami saya berbohong.

Pengalaman wawancara suami saya jauh lebih tidak mengenakkan. Ketika masuk, dia belum dipersilahkan duduk sudah diberi pertanyaan yang langsung bikin grogi: “Anda suami dari Bu Ida Puspita?”. Sambil bengong dia menjawab: “Iya Pak.” Lalu dia memutuskan untuk duduk sendiri agar ketegangan di lututnya mereda. Lalu pertanyaan kedua: “Publikasi anda apa saja?” Pertanyaan ini sebenarnya tidak begitu penting karena sudah ada di lembar aplikasi kami. Pertanyaan ketiga: “Apakah anda pernah ke LN, bahasa Inggris Anda fasih sekali?” Pertanyaan ini mengakhiri sesi wawancara suami saya. Mungkin hanya empat menit dia berada di dalam. Dengan wajah bingung dia menceritakan kejanggalan-kejanggalan yang terjadi. Dari sepuluh pertanyaan dia hanya dapat tiga pertanyaan. Lalu setelah dia mengakui kalau kami adalah suami istri, nama dia dilingkari dan digarisbawahi, sesuatu yang tidak saya temukan di sesi saya. Akhirnya kami berkesimpulan bahwa kami tidak akan lolos. Dan benar, kami tidak lolos.

Kami melayangkan protes terhadap proses wawancara yang tidak standar seperti itu ke direktur pengelolanya. Kami tidak menemukan aturan bahwa suami-istri tidak boleh mengajukan beasiswa bersamaan. Tapi kami juga pasrah. Saya lalu bertekad mencoba ke beasiswa ADS yang saya dengar dari seorang kawan sistemnya lebih transparan dan tidak ada larangan membawa keluarga atau mendaftar bersama suami/istri. Tetapi ketika saya mengajak suami saya, dia kembali enggan karena sudah gagal di beasiswa sebelumnya. Dia semakin yakin bahwa kuliah ke LN itu bukan hal yang mudah. Tapi saya mantap maju sendirian. Gagal di beasiswa yang satu, kesempatan di beasiswa yang lain masih terbuka luas.

Sambil menunggu hasil ADS, kami tidak menyangka ternyata protes kami di beasiswa yang lama berbuah hasil. Kami kembali dipanggil untuk ikut wawancara pada gelombang berikutnya, meskipun kami tidak mendaftarkan berkas. Dengan setengah hati saya berangkat setelah panitia menghubungi HP saya bertanya apakah akan ikut wawancara atau tidak. Saya adalah peserta wawancara terakhir hari itu. Ketika saya datang, berkas saya sudah dicoret karena telat. Tapi mereka masih bersedia menerima saya dan wawancara kali ini tidak setegang yang pertama. Sampai pada akhirnya pewawancara mengatakan: “Ok Mbak Ida, silahkan bersiap-siap.” Saya mengartikan ini sebagai pertanda lolos. Wawancara suami saya di kesempatan berikutnya juga cukup lancar.

Akhirnya saya menerima surat kelolosan ADS tapi dengan hati masih bimbang karena suami saya belum mendapatkan kabar dari beasiswa yang lama. Walaupun pengumumannya belum ada, saya menelepon beasiswa lama (non-ADS) tersebut untuk mengundurkan diri karena telah diterima oleh ADS. Tidak ada niat untuk menyalahi aturan ADS yang mengatakan bahwa kandidat tidak sedang mendaftar pada beasiswa lainnya karena saya nyata-nyata sudah gagal di beasiswa yang lama dan dipanggil kembali setelah semua proses di ADS selesai. Bahwa kami kembali dipanggil, itu di luar kuasa kami karena kami tidak mendaftarkan berkas lagi.

Beberapa minggu kemudian suami saya menerima email yang menyatakan dia lolos ke LN. Lengkaplah kebahagiaan kami. Kami sempat terpisah lima bulan karena salah satu supervisor saya pensiun sehingga studi saya ditunda satu semester. Sekarang sudah lebih dari setahun keluarga kami kembali berkumpul di Aussie. Kami bersyukur karena kami bisa melalui ujian yang lebih besar daripada ujian beasiswa ke LN: ujian kejujuran. Nilai kejujuran yang ditanamkan keluarga sejak kecil akhirnya berbuah manis.

Bersambung ke: Sastra Inggris Lolos ADS: Mendobrak ‘Tradisi Gagal’