Disebut cantik, tapi malah pengen nonjok orang itu sekeras-kerasnya?

Itu yang saya rasakan beberapa bulan yang lalu ke salah satu teman sekelas saya.

Saya kuliah di jurusan Strategic and Defence Studies , Australian National University. Jurusan ini adalah salah satu turunan dari ilmu Hubungan Internasional. Karena saya berasal dari background HI, saya sudah bertekad untuk tidak ambil HI lagi di S2 saya, Jadilah saya mendalami ilmu ini.

Anyway, sampai sekarang saya belum berhasil menjelaskan ke orang tua saya mengenai apa yang saya pelajari di jurusan ini. Nampaknya mereka juga sudah pasrah dengan pilihan anaknya yg agak nyeleneh. Yang penting anaknya sekolah, katanya.

Sejak awal, salah satu kolega saya di kantor sudah memberi bocoran mengenai betapa “maskulin” nya program ini. Pikiran pendek saya sudah berkhayal kalo saya akan punya banyak temen ganteng. Semangat saya surut ketika perkenalan pertama, hanya ada dua perempuan termasuk saya yang commencing semester ini. Ketika saya masuk kelas, dari hampir 50 orang di kelas saya, hanya ada 5 perempuan, dan saya satu2nya orang Indonesia di program tersebut. Ooh, rupanya yang dimaksud “maskulin” itu soal kuantitas, bukan kualitas. Oops.. 😛

Awalnya saya agak shock juga, maklum, waktu S1,  75% dari murid di angkatan saya adalah perempuan. Keadaan yang terbalik ini agak baru buat saya. Ditambah lagi, ternyata hampir 95% dari murid di jurusan saya itu native English speaker. Sehingga saya harus berjuang untuk memenuhi standar jurusan yang minim toleransi terhadap bahasa inggris saya yang masih berantakan ini. Belum lagi beban essay yang deadlinenya nonstop. Untung saja  banyak orang baik disekitar saya yang mau direpotkan untuk membantu proofread tugas-tugas saya selama ini.

Di luar kuliah, ternyata saya berhasil bergaul dengan baik dengan teman-teman di jurusan saya. Walaupun dari topik pembicaraan yang sering dibahas, bisa disimpulan bahwa mereka sudah lupa kalo ada perempuan di kumpulan tersebut.

Well, ternyata tidak semua orang lupa. Suatu hari, salah satu teman sekelas saya yang berasal dari Australia bertanya, soal nilai saya di salah satu tugas dan ketika saya jawab, dia berkomentar “Wow, who would have thought a hottie like you could get a better mark than me”. Saya kaget. Pertama, direfer sebagai hottie itu sama sekali tidak flattering. Kedua, emang perempuan tidak bisa berhasil di dunia laki-laki? Saya tahu mungkin isu ini sudah sering dibahas. Tapi saya sama sekali tidak menyangka kalau di negara maju seperti Australia, ternyata masih ada juga pikiran seperti itu.

Setelah kejadian itu, saya memutuskan untuk menjadikan komentar itu sebagai cambuk (dan bahan becandaan) untuk saya di masa depan. Kadang-kadang cara Tuhan mencambuk semangat kita itu memang tidak terduga. Karena pada saat itu sebenarnya saya sedang terpuruk frustasi dengan beban kuliah yang ternyata lebih berat daripada yang saya kira. Tapi saya seperti diingatkan kalau perjuangan perempuan untuk sepenuhnya diakui itu ternyata belum selesai dan saya tidak boleh take it for granted semua fasilitas yang saya terima begitu saja.

SEMANGAT!

photo courtesy of Kyla A. Cham


 

 

 

 

 

Cheers from Canberra 

Stella