Memperkenalkan budaya Indonesia dengan menari di Australia mungkin bukan hal yang baru. Paling tidak di blog ini saya membaca ada beberapa teman yang memiliki tim tari misalnya tari Pa’gellu di Perth, Sajojo di Canberra, dll. Saya juga sering melihat pementasan tari Indonesia di beberapa event di Sydney dan Wollongong. Tetapi mengajarkan tari pada penduduk lokal di Australia masih jarang saya temui. Kisah inilah yang akan saya bagi di sini.

Pengalaman saya menari mungkin mirip dengan mahasiswi lain di Australia yang hanya pernah menari ketika TK. Saat itu, saya menarikan tarian asli tanah kelahiran saya, Sulawesi Tenggara, sehingga relatif lebih mudah karena pernah beberapa kali menyaksikan langsung. Setelah itu saya sama sekali tidak pernah menari lagi. Pengalaman saya diajak bergabung di tim tari PPIA Wollongong cukup berkesan karena tari yang ditampilkan adalah Saman yang notabene bukan tarian Sulawesi Tenggara. Kita tentu mafhum bahwa tari ini sudah mendunia bahkan pada tahun 2011 UNESCO sudah mengakui ini sebagai warisan budaya dunia yang harus dilindungi. Tapi bagi saya tarian ini tetaplah asing.

Pada awalnya saya beberapa kali menghindar karena tidak pede. Namun semangat untuk mengharumkan nama Indonesia di luar negeri mengalahkan ketidak-pedean itu. Selain itu, tanggung jawab saya sebagai koordinator divisi Seni dan Kreatifitas di PPIA Wollongong adalah alasan kedua saya memutuskan bergabung di tim tari ini. Maka saya termasuk angkatan Samaners yang kedua setelah di angkatan pertama banyak yang sudah lulus dan ada beberapa anggota yang bekerja.

Tim Saman PPIA Wollongong di Illawarra Sports HS
(Ki-ka: Ladi, Yuni, Dwi, Kidung, Nafis, Iis, Ida, Nelmy, Rika)

Tim tari PPIA Wollongong sejauh ini memang baru menekuni tari Saman. Uniknya lagi, tidak ada satupun dari tim ini yang berasal dari Aceh. Tapi semangat kawan-kawan untuk membawa nama Indonesia di bumi Kangguru ini patut diacungi jempol. Angkatan pertama Samaners dibentuk pada tahun 2010. Ada salah satu rekan yang pernah menjadi anggota sanggar tari di Brisbane yang berkenan mengajarkan tari ini. Selain mahasiswa, anggota tim ini juga terdiri dari para istri yang sedang mendampingi suaminya kuliah di Australia. Saya salut melihat mereka menjahit kostum tarinya sendiri, mulai dari jilbab, selendang dan sarung dengan bahan yang dikirim dari Indonesia. Lalu mereka juga mendesain kalung dan topi tari dari bahan kertas berwarna emas dengan bahan yang dibeli di Wollongong.

Tim Saman dan Silat PPIA, staf KJRI Sydney, guru dan para siswa Illawarra Sports HS

Penampilan pertama angkatan pertama Samaners ini adalah di acara Welcome to Wollongong 2011 yang diadakan oleh City Council Wollongong untuk menyambut para mahasiswa internasional yang baru datang. Setelah itu reputasi tari Saman semakin dikenal. Pada tahun 2012, angkatan kedua Saman mendapatkan kesempatan tampil yang lebih banyak, diantaranya di Welcome to Wollongong, Clubs and Societies Day di UOW, Postgraduate Welcoming Lunch di UOW, dan kerjasama dengan KJRI Sydney Samaners tampil di Illawarra Sports High School. Di kegiatan terakhir ini, kami tidak hanya tampil tapi juga mengajar para siswa sekolah ini untuk menari Saman dan Silat (tapi silat merupakan tanggung jawab para laki-laki). Menariknya, workshop ini diliput oleh ABC TV Australia dan TV kampus UOW TV.

Kok bisa diliput oleh TV? Saya mendapatkan kesempatan emas menjadi guest star di beberapa episode TV Show My Australia yang diproduksi oleh ABC TV dan ditayangkan oleh Australia Network ke 47 negara Asia Pasifik. Salah satu episodenya menayangkan profil saya sebagai mahasiswa Master, ibu rumah tangga sekaligus pengurus PPIA. Jadi, kegiatan saya di Illawarra Sports HS ini disyuting oleh ABC TV sebagai bagian dari profil saya. Saya akan bercerita tentang kisah keterlibatan saya di My Australia ini pada tulisan yang lain. UOW TV juga antusias meliput kegiatan ini karena salah satu program mereka adalah peran Club mahasiswa di masyarakat. Karena syuting My Australia belum selesai maka footage workshop ini baru didapatkan dari UOW TV.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=00IQBN6YsxE&w=560&h=315]

Presentasi tentang Saman

Mengajar bahasa Inggris adalah pekerjaan saya di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Tapi mengajar para siswa bule (laki-laki dan perempuan) untuk menari Saman itu hal yang sangat berbeda, pake bahasa ‘alien’  dan disyuting oleh dua TV pula, kebayang kan deg-deg-annya? Mengajarkan tari Saman dengan bahasa Indonesia saja masih sering ribet dengan kalimat instruksinya, apalagi dengan bahasa Inggris. Akhirnya tim Samaners membuat joke, “Instruksinya begini saja: Do like this and like that but don’t like me.”

Workshop Saman

Antusiasme para siswa di sekolah ini membuat bayangan kesulitan yang ada di benak kami sebelumnya sirna perlahan-lahan. Walaupun mereka berisik banget tapi mereka semangat menggerak-gerakkan tubuhnya terutama ketika menepuk tangan, dada dan paha. Kesulitan yang utama adalah banyaknya siswa yang ikut workshop sehingga membuat tim Saman tidak bisa maksimal menangani masing-masing siswa. Lalu, para siswa laki-laki tidak bisa terlalu lama duduk bersimpuh. Tetapi secara keseluruhan, workshop ini berjalan lancar, paling tidak dengan Saman, para siswa jadi paham bahwa Aceh itu tidak hanya terkenal karena Tsunami-nya yang terjadi pada tahun 2004.

Saman Kids PPIA (Ki-ka: Sarah, Nia, Vina, Salma, Kidung, Dita, Ira, Embun)

Untuk regenerasi tim ini, kami juga membentuk tim Saman Kids yang pesertanya adalah anak-anak para orangtua yang sedang studi di UOW. Tim ini sudah tampil pada event-event internal PPIA dan akan tampil di Olympic/Multicultural Food Fair di Gwynneville dan West Wollongong Public School bulan Juni 2012.