Sudah lama saya ingin bekerja paruh waktu sembari belajar di Melbourne. Selain untuk menambah uang saku, saya juga ingin merasakan rasanya jadi pramusaji sekali-sekali. Ya, saya justru tidak mencari pekerjaan yang berbau-bau intelektual, saya ingin mencoba menjadi blue collar worker. Jadilah sejak semester lalu saya terus mencari-cari pekerjaan yang sesuai dengan jadwal kuliah saya.

Ternyata, mendapatkan pekerjaan tidak semudah yang saya sangka. Banyak aplikasi yang saya kirimkan tanpa ada jawaban. Ternyata, untuk ‘sekedar’ menjadi pramusaji, ada banyak standar yang harus dipenuhi di kota ini. Kebanyakan restoran atau kafe mensyaratkan sejumlah sertifikat, seperti Barista Training, Food Safety Training, Responsible Alcohol Serving Training, dan lain sebagainya. Menurut cerita teman, sebetulnya banyak tempat yang cukup longgar dalam hal persyaratan, tetapi mungkin saya sedang tidak mujur juga. Apalagi banyak restoran internasional yang lebih memilih warga negaranya sendiri sebagai pegawai, demi memudahkan komunikasi dalam bekerja. Misalnya, restoran Thailand kebanyakan pegawainya adalah warga negara Thailand, demikian juga dengan restoran Italia, dan seterusnya.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Datanglah kesempatan yang ditunggu-tunggu. Salah satu teman saya mencari orang untuk menggantikan dirinya yang akan pindah kerja ke tempat lain. Gajinya tidak seberapa, katanya. Ah, buat saya, itu urusan nomor kesekian, yang penting pengalamannya. Jadi, di mana lokasi kerjanya? Dekat kampus, katanya, di restoran Minang. Wuaaah asyiiikk, saya bisa dapat makanan Indonesia gratis! Ya secara alami motif itu muncul di pikiran, ibarat peribahasa sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, sambil mencari uang saya bisa makan gratis dan mengobati rasa kangen dengan makanan Indonesia.

Lalu datanglah berita mengejutkan, “Owner-nya orang Vietnam loh.” Looh kook? Ternyata alkisah, dahulu kala restoran itu dikelola bersama antara orang Indonesia yang bermitra dengan pasangan suami-istri Vietnam. Suatu ketika orang ini hijrah kembali ke Indonesia, akhirnya diteruskanlah bisnis ini oleh pasangan Vietnam tersebut. Walaupun terbersit sedikit rasa sedih karena bukan bangsa sendiri yang mempromosikan makanan kesayangan kita ini, tapi tak apalah. Sisi positifnya adalah makanan kita dianggap sangat potensial dan digemari di pasar sehingga bangsa lain pun turut menjalankannya sebagai bisnis. Satu catatan kecil, walaupun namanya Minang, tetapi makanan yang dijual tidak melulu makanan Padang. Ayam bumbu Bali pun dijual di sini, beserta bakwan, perkedel, dan lain-lain. Jadi memang restoran ini lebih ke makanan Indonesia secara umum. Penawaran utamanya, dengan paket AUD 6.50, pelanggan bisa memilih nasi dengan 3 pilihan lauk (2 daging 1 sayur/1 daging 2 sayur/ 3 sayur).

Lalu mulailah saya bekerja di sini. Banyak pengalaman suka dukanya tentu. Dukanya, dari pelanggan yang ketus dan merendahkan padahal sesama bangsa Indonesia, sampai luka bakar di tangan akibat panasnya wadah makanan dan luka memar di pelipis akibat terbentur keran gantung untuk mencuci piring. Tapi karena saya dapat makan gratis setiap hari kerja, semua rasanya terobati setelah perut kenyang terisi. Pengalaman menariknya tentu juga banyak. Saya belajar untuk ‘memajang’ wajah ceria sepanjang hari, yang mana ini susah-susah gampang, karena menurut testimoni banyak orang, sejatinya cetakan wajah saya ini judes. Di kala banyak pengunjung datang dan restoran penuh membludak, saya menyiasati rasa panik dan lelah dengan menganggap saya sedang bermain Diner Dash. Terbukti amat efektif untuk mengangkat mood. Saya juga senang bermain tebak-tebakan dalam hati, ini orang Indonesia apa bukan ya? Beberapa kali agak tengsin rasanya menyapa dalam bahasa Inggris, “Hi there, to have here or take away?”, dijawab dengan “Bungkus, Mbak.” Yah habis bagaimana dong, harus diakui tipe wajah orang Indonesia itu sangat beragam, dari Melayu, Oriental, sampai mirip Arab atau India. Dan di kota Melbourne ini penduduknya memang sangat beragam, jadi berbagai tipe wajah dari berbagai bangsa di belahan dunia ada di sini. Semakin sulitlah jadinya membedakan orang dari mana yang datang. Saya pernah kaget sekali saat seorang pengunjung dengan muka Arab 100 persen, tanpa ada sentuhan Indo-nya sedikit pun, tiba-tiba bilang, “Rendangnya habis ya, Mbak?”

Tetapi rasa yang paling memuaskan di dada adalah apabila saya mampu membujuk orang-orang lokal atau non-Indonesia lainnya untuk mencoba makanan-makanan ‘tak lazim’. Seringkali mereka menunjuk ke wadah makanan dengan muka bingung, “What’s that?” Biasanya sambil cengar-cengir saya jawab, “Oh that’s cow lung/chicken giblet/chicken liver.” Kebanyakan reaksinya ada dua. Yang pertama, “Wow, weird. But interesting. Okay, I’ll try that.” Orang-orang dengan reaksi pertama biasanya memiliki kesamaan ciri, kebanyakan mereka sering melakukan perjalanan ke negara lain. Jadi mereka memang lebih terbuka dengan hal-hal yang tidak biasa. Tipikal reaksi kedua biasanya seperti ini, “Ew! No thanks.” Kalau sudah begini, saya biasanya pasang senyum manis menggoda sambil mencoba meyakinkan kalau rasanya enak dan pantas dicoba. Kalau mereka terbujuk, apalagi setelahnya bilang enak, wah rasanya saya ingin nyanyi Indonesia Raya kencang-kencang. Tentunya hanya dalam hati ya, kalau tidak nanti saya dipecat.

Hal lain yang cukup sulit adalah mengira-ngira ketahanan pelanggan terhadap rasa pedas. Banyak pelanggan yang sudah pernah mencoba makanan Indonesia, tahu apa yang akan mereka hadapi saat mereka melihat telur balado, terong balado, atau ayam bumbu Bali. Untuk saya sih, tidak ada pedas-pedasnya sama sekali ya. Tapi ya itu dia, ada perbedaan ketahanan orang Asia, khususnya, dengan orang benua lain untuk rasa pedas. Kalau mereka tanya, ini pedas tidak? Saya biasanya bingung menjawabnya, karena saya tidak tahu pedas untuk mereka itu yang seperti apa. Paling mentok saya jawab, “Depends.” Lalu biasanya saya tawarkan sesendok kuah untuk dicoba. Kalau saya hanya bilang lumayan, kasihan nanti kalau ternyata dia sama sekali tidak tahan.

Mungkin bagi orang-orang Indonesia sendiri, rasa makanannya kurang istimewa sebetulnya. Ya tentunya kita sudah pernah merasakan masakan asli dari daerah asalnya dengan empu koki yang mumpuni. Tapi untuk mengobati rasa kangen akan makanan negeri sendiri, mencari paru, rendang dan ampela, ya enak-enak saja pastinya. Sayangnya karena pekerjaan saya tidak termasuk masak di dapur, jadi kemampuan masak saya tidak bertambah. Paling-paling hanya tanya-tanya soal bumbu dan memperhatikan pekerjaan koki di dapur. Beberapa teman yang tahu standar gaji kerja paruh waktu di Melbourne juga kadang bertanya, kalau gajinya tak seberapa, kenapa mau terus kerja di Minang? Bagi saya, jawabannya sederhana. Yang pertama lebih ke alasan praktis, dekat dengan kampus dan jadwalnya fleksibel mengikuti jadwal kelas saya. Yang kedua, rasa senang melihat orang-orang dari berbagai negara menikmati makanan Indonesia itu priceless, tak bisa diukur dengan apapun.

Memupuk rasa nasionalisme itu gampang-gampang susah, di tengah kondisi negeri yang sedang carut marut begini. Tetapi tiap orang pasti ada pemicunya masing-masing. Bagi saya, salah satunya adalah dengan bekerja di restoran Minang, pojok Swanston St dan Pelham St, Melbourne. Mari mampir dan makan bersama!