Dulu, setiap kali ingin membeli sesuatu, otak ini mulai menghitung berapa harga sebuah barang jika di-Rupiah-kan. Hampir setiap hari saya mengikuti perkembangan nilai tukar Rupiah dibandingkan dengan Dollar Australia. Bahkan, telepon genggam saya pun saya lengkapi dengan kalkulator khusus yang bisa mengikuti perubahan nilai kurs setiap harinya. Setiap pagi, saya berdoa semoga nilai tukar Rupiah bisa semakin menguat. Berarti harga barang- barang, termasuk cabe merah, akan lebih murah, ‘kan? 😀

Harga produk segar seperti susu, telur dan sayur-sayuran, menurut saya jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan harga di Jakarta.
Contohnya saja, satu bungkus cabe merah yang isinya 10 biji dibandrol dengan harga AUD2,5 atau sekitar Rp20.000 kalau dihitung dengan nilai tukar Rp8000 per Dollar Australia. Harganya pun bervariasi menurut negara asal dan jenisnya. Sebut saja cabe merah asal Thailand, harganya bisa mencapai AUD39 per kilogram!

Kebiasaan untuk makan sambel setiap hari harus saya tahan-tahan saking inginnya berhemat. Akhirnya saya jadi malas makan karena tidak ada sambel, kecap dan kerupuk yang biasanya jadi ‘menu wajib’ pendamping nasi. Semua mahal, sih!

Sampai akhirnya, suami saya mengomentari perubahan pola makan saya yang semakin berkurang setiap hari. Saat dia menanyakan alasan saya malas makan, saya dengan jujur menjawab bahwa makanan jadi hambar tanpa sambel. Dia pun bertanya kenapa saya tidak membeli cabe merah. Waktu saya jawab bahwa harganya mahal sekali dibandingkan harga di Indonesia, sambil tertawa dia mengatakan, “Don’t be silly, it’s Australia. We get paid in Australian Dollar so don’t worry too much about the exchange rate!”

Setelah saya pikir-pikir ternyata suami saya benar juga ya. Meskipun gaji sambilan saya waktu itu sebagai pegawai kontrak di sebuah perpustakaan sangat kecil, toh masih lebih dari cukup untuk membeli cabe, kecap dan kerupuk dan barang-barang lainnya 🙂

Maklumlah, saat itu saya baru melanjutkan pendidikan S2 dengan biaya sendiri. Jadi, penghasilan tambahan dari bekerja paruh waktu di perpustakaan saya kelola dengan hati-hati. Saya juga waktu itu masih terbilang pengantin baru, jadi masih gengsi minta duit dari suami 😉

Akhirnya saya memutuskan untuk menghapus fitur nilai tukar mata uang asing yang ada di telepon genggam dan juga ‘mematikan’ fungsi kalkulator yang ada di otak saya. Harga cabe merah di Australia memang mahal tapi akan lebih mahal lagi kalau saya harus membayar tiket pesawat pulang pergi Canberra – Jakarta!

Saya pun mulai menanam cabe, tomat dan jeruk nipis di pekarangan rumah.  Bibitnya bisa dibeli di toko tanaman dan perawatannya juga tidak terlalu sulit kok. Sekali panen lumayan lho!

Sayangnya, banyak tanaman yang tidak tahan dengan cuaca dingin di Canberra. Jadi, untuk menambah persediaan, sebulan sekali, saya  mengunjungi Hall Markets yang biasanya banyak menjual hasil perkebunan, termasuk cabe,dengan harga yang jauh lebih  murah dibandingkan harga di supermarket. Saya pernah membeli cabe merah yang dijual seharga AUD12 per kilogram! Saya biasanya langsung borong beberapa kilo. Cabe yang masih segar saya masukkan ke freezer sementara yang sudah agak layu langsung saya keringkan. Toh, selain masih bisa dipakai untuk masak gulai dan sup-supan, bijinya juga bisa dijadikan benih untuk jadi beberapa pohon cabe lagi. Alhasil,saya bisa menikmati sambel kesukaan saya tanpa harus stress mikirin perbedaan harga. ‘kan, otak kalkulatornya sudah dipensiunkan 😉