Aplikasi untuk dapat beasiswa ga tembus alias gagal? Coba lagi, ga ada ruginya :-). Saat kita tidak mencoba, itu berarti kita sudah gagal 100%. Tapi, saat kita mencoba [meski kita tidak akan pernah tahu di usaha nomor berapakah usaha kita akan berhasil], masih ada peluang 50% untuk berhasil.
Perjuangan saya untuk dapat melanjutkan studi ke jenjang Master tidaklah mudah. Semoga cerita ini bisa membuat para pembaca menjadi “pantang menyerah” untuk mencoba berbagai peluang beasiswa setelah pernah mencicipi kegagalan.
Terlahir sebagai anak pertama dari empat bersaudara membuat saya harus berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan studi S1 saya. Maklum, Papa saya hanyalah PNS di Perguruan Tinggi Negeri di Kalimantan Timur, sedangkan Mama saya adalah Ibu Rumah Tangga yang luar biasa. Karenanya saya diharuskan oleh orang tua untuk lulus dalam empat tahun supaya orang tua saya bisa membiayai adik saya yang akan kuliah juga. Dengan kata lain, penghasilan Papa saya kala itu hanya cukup untuk membiayai dua anak untuk kuliah di waktu yang sama. Puji Tuhan, saya bisa lulus seperti yang direncanakan.
Keinginan untuk melanjutkan studi ke jenjang Master amatlah tidak mungkin jika mengandalkan “Parent Foundation” :-), jadi saya mulai mengirimkan berbagai aplikasi beasiswa setelah lulus S1 di tahun 2003. Saya masih ingat perasaan kecewa saya saat aplikasi pertama ke AusAID di tahun 2003 dinyatakan gagal. Saya penasaran dimana kekurangan dalam aplikasi saya sehingga membuat saya tidak lulus seleksi. Sempat saya mengirim surat ke ADS menanyakan hal tersebut supaya saya bisa memperbaiki aplikasi-aplikasi berikutnya. Tapi, sayangnya tidak ada surat balasan yang saya dapatkan.
Tahun-tahun selanjutnya saya tetap mencoba memasukkan aplikasi beasiswa ke sponsor yang berbeda-beda seperti Ford Foundation, Chevening, DAAD, dan StuNed. Kala itu, saya membuat tabel berisi nama sponsor beasiswa, deadline dan juga quota yang mereka sediakan untuk sektor swasta. Kenapa? karena selesai kuliah S1, saya memang bernasib untuk selalu bekerja di sektor swasta, jadi memang pilihan beasiswanya terbatas.

Ini dia beberapa informasi beasiswa yang bisa dicoba

Aplikasi beasiswa tersebut ada yang gagal saat seleksi berkas dan ada juga gagal di tahap wawancara. Kegagalan demi kegagalan tersebut membuat saya jadi biasa saja saat menerima jawaban bahwa aplikasi saya gagal dan saya juga jadi tahu dimana letak kekurangan dalam aplikasi saya (ini setelah saya berdiskusi dengan teman-teman yang lulus seleksi beasiswa). Saat memasukkan aplikasi ke AusAid (lagi) di tahun 2008 (ini usaha yang kedua), saya memperbaiki jawaban dari aplikasi-aplikasi saya yang pernah gagal di tahun-tahun sebelumnya, seperti: 1) mengapa jurusan yang saya pilih begitu penting untuk pembangunan di Indonesia dan di daerah tempat saya berasal?, dan 2) bagaimana saya bisa berkontribusi setelah saya selesai studi?. Menguasai isu terbaru yang berkaitan dengan jurusan yang dipilih sangatlah penting, apalagi bila kita bisa menyakinkan para anggota penel yang mewawancarai kita bahwa kita adalah aset bangsa yang apabila ditingkatkan kualitasnya akan dapat berkontribusi secara positif. Jeli-jeli lah saat menjelaskan bagaimana kita bisa berkontribusi setelah kita studi nanti. Artinya kita juga harus realistis dengan kemampuan dan kondisi kita, misalnya saya yang bekerja di sektor swasta tidak mungkin memberi jawaban kalau saya akan berkontribusi di bidang yang terkait dengan perumusan kebijakan karena itu adalah mandat atau kewenangan teman-teman yang bekerja di pemerintahan. Hasil dari koreksi jawaban-jawaban itu? saya dinyatakan lulus.
Karena seringnya gagal, saya sempet tidak percaya saat menerima surat pemberitahuan yang menyatakan bahwa saya lulus seleksi. “Salah baca nich” pikir saya kala itu. Saya beri surat itu ke Papa saya dan yakin bahwa memang saya lulus setelah mendengar jawaban Papa. Papa jadi terharu melihat perjuangan saya selama 6 tahun tersebut untuk mendapatkan beasiswa. Terus terang, saya juga sempet berpikir untuk berhenti mengirimkan aplikasi beasiswa di tahun 2008 itu. Alasannya ya karena saya sudah punya pekerjaan yang cukup baik dan saya juga sudah berkeluarga. Jika bukan karena dukungan suami dan adik saya, mungkin saat itu saya sudah mengakhiri perjuangan saya. “Ayo Ma, coba lagi. Siapa tahu yang kali ini berhasil jadi kita memiliki pengalaman hidup di luar negeri” kata suamiku kala itu. Ditambah lagi dengan adikku yang memberi guntingan informasi tentang beasiswa dari AusAID yang didapatnya dari koran.
Andaikata saya tidak mendengar perkataan suami dan juga adik saya kala itu atau saya memutuskan untuk berhenti setelah kegagalan saya yang pertama atau yang kedua atau di kegagalan yang lainnya, maka tentunya kesempatan bersekolah di Australia tidak pernah ada. “Jangan pernah menyerah” itu pelajaran terpenting yang saya petik dari pengalaman akan pencarian beasiswa saya. Akhirnya perjuangan bertahun-tahun itupun berbuah manis :-).

Bersama para nengs lainnya yang seperjuangan
Foto oleh Miranti Puti Aisyah

Kalau saya bisa, maka Anda pun pasti bisa!.