Meskipun pengalaman ini sudah hampir 5 tahun terlalui, tapi masih sangat membekas karena semuanya adalah pengalaman pertama. Pengalaman pertama naik pesawat dan pengalaman pertama pergi ke luar negeri, semuanya sangat mendebarkan. Saya tidak bisa mengingat tanggal berapa tepatnya saya berangkat ke Australia, tapi saya bisa memastikan itu di bulan Juni 2007. Saya berangkat dari Bandara Ngurah Rai bersama dengan seorang teman bernama Ivonne. Meskipun kami sama-sama EAP di IALF Bali, tapi saya tidak sempat mengenalnya saat itu. Komunikasi baru terjalin setelah kami sama-sama selesai EAP dan mengetahui bahwa kami menuju universitas yang sama, The University of Newcastle. Jadi pertemuan pertama kami terjadi di bandara. Namun karena merasakan ketegangan yang sama, tidak butuh waktu lama bagi kami untuk menjadi teman baik.

Tengah malam kami berangkat dari Denpasar dan menjelang shubuh kami sudah mendarat di Sydney Airport. Setelah itu kami harus menunggu penerbangan berikutnya ke Newcastle sore hari. Sejak di Indonesia saya sudah mencari tahu tentang Newcastle, dan saya dapatkan informasi bahwa Sydney-Newcastle dapat ditempuh dengan kereta api selama 3 jam. Hanya saja sebagai orang yang tidak berpengalaman di tempat yang asing dan juga menuruti prosedur yang sudah ditetapkan, kami harus rela menunggu selama lebih dari 10 jam di bandara. Kurangnya pengalaman dan juga masih minder dengan kemampuan Bahasa Inggris membuat kami berdua tidak berani kemana-mana lagi setelah menemukan gate ke penerbangan berikunya. Laparpun kami tanggung. Entah sudah berapa banyak pesawat yang silih berganti saat itu teramati, dan juga karena kelelahan tanpa mempedulikan keadaan sekitar kami tertidur.

Akhirnya sekitar jam 5 sore, kami pun terbang ke Newcastle. Pesawatnya lumayan kecil dan sebelum terbang pilot memberikan beberapa penjelasan yang sama sekali tidak kami pahami. Sungguh, Bahasa Inggrisnya sangat susah dipahami. “Akhirnya kita benar-benar sampai di Australia” kata saya kepada teman. Tidak sampai 20 menit, kami sudah mendarat di Newcastle dan hari mulai gelap. Perasaan berdebar-debar datang lagi, karena tidak tahu siapa yang akan menjemput dan akan dibawa kemana kami. Setelah selesai mengurus bagasi, kami melihat ada seorang pria berbadan besar, berpakaian sangat resmi lengkap dengan jas dan dasi memegang kertas yang bertuliskan nama universitas kami. Dengan sedikit basa-basi, akhirnya kami diantar menuju ke sebuah rumah yang sangat nyaman. Si pria besar itu membantu menurunkan barang dan pergi begitu saja. Tinggallah saya dan teman yang kebingungan karena tidak tahu harus melakukan apa. Hari sudah malam dan kami berdua kelaparan. Untungnya rumah tersebut tidak jauh dari shopping centre dan ada KFC yang masih buka. Sebelumnya kami memutuskan untuk masuk ke shopping centre

Tempat tinggal pertama di seberang Stockland

dan melihat banyak toko-toko yang sudah tutup. Meskipun lelah tapi kami tetap bersemangat untuk masuk ke Big W dan melihat apa saja barang-barang yang dijual. Lalu kami melihat simcard hape on sale hanya seharga $2. Pucuk dicinta ulam tiba deh. Pas perlu, pas murah pula harganya. Setelah dari Big W kami pun pergi ke KFC untuk membeli makanan pengganjal perut. Hampir seharian kami tidak makan. Ada kejadian lucu disini. Saya ingin memesan kentang goreng. Lumayan grogi juga berinteraksi dengan orang lokal. Akhirnya saya bilang “can I have potato?” Sampai dirumah, terkejutlah saya mendapati kentang goreng saya berupa kentang halus. Saya paham saya sudah melakukan kesalahan pemesanan karena seharusnya saya pesan chips instead of potato (yang diartikan sebagai smashed potato).

Selesai dengan urusan makan, kami mencoba memasukkan simcard baru ke hape. Ternyata untuk bisa dipakai, harus registrasi dulu. Registrasi tidak susah, karena dapat dilakukan melalui telpon. Yang susah adalah memahami omongan lawan bicara alias si administrator kartu tersebut. Mereka minta data lengkap termasuk alamat tempat tinggal. Dan karena kami tidak tahu apa-apa tentang alamat rumah, gagal sudah usaha kami untuk mendapatkan media komunikasi. Padahal betapa inginnya kami menelepon orang-orang Indonesia di Newcastle yang datanya sudah kami pegang sejak di Indonesia, hanya untuk sekedar mengabarkan bahwa kami sudah datang dan karena kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan besok. Benar-benar merasa sendirian di negeri asing. Akhirnya kami putuskan untuk beristirahat saja karena badan memang sangat lelah rasanya.

Keesokan harinya, kami putuskan untuk kembali ke shopping centre karena sebelumnya kami melihat counter provider simcard yang kami beli. Dengan bantuan mereka, akhirnya ter-registrasi-lah kami. Kembali ke rumah, saya langsung menelepon ke Indonesia. Begitu mendengar suara Ibu, saya langsung menangis. Ibu saya sampai kebingungan, khawatir terjadi sesuatu dengan saya. Lalu saya ceritakan apa yang terjadi sejak kami berpisah di Bandara Ngurah Rai. Beliau pun ikut menangis. Tambahan lagi berita meninggalnya kakek saya. Sungguh sangat sedih rasanya. Tapi beliau tetap menenangkan saya dan berpesan agar saya berhati-hati di negeri orang.

To Be Continued…