Kapal tanker Pasha Bulker terdampar di Nobbys Beach

Menyambung kisah saya yang pertama, setelah saya dan Ivonne menghubungi keluarga masing-masing, kami putuskan untuk menelepon ketua PPIA The University of Newcastle (tahun 2007) yang bernama Imam. Saat itu kebetulan beliau sedang berada di kampus dan meminta kami untuk datang ke kampus. Beliau memberitahu cara menuju kampus, yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari rumah kami tinggal dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Hanya saja untuk mencegah kami tersesat, beliau menyarankan untuk naik bis dan memberitahu detil bis nomor berapa yang harus dinaiki, di mana shuttle bus dan harus turun di mana, serta berapa ongkos yang harus dibayar. Sayangnya, saya sudah lupa berapa ongkos yang harus saya bayar saat itu.

Akhirnya kami berdua berada di dalam bis dan sibuk berjaga-jaga agar tidak melewatkan bus stop turun. Di dalam bis kami perhatikan bis berhenti di setiap pemberhentian dan orang-orang naik-turun. Saat itu kami pikir, bis berhenti otomatis di setiap pemberhentian. Tibalah di pemberhentian dan kami sudah bersiap-siap untuk turun. Tapi ternyata bis tidak berhenti. Kebingungan kami berdua saling pandang dan untungnya ada penumpang yang menyadari kondisi kami sehingga dia memberitahu sopir bis untuk berhenti. Sebelum turun orang tersebut memberitahu kami, kalau mau turun harus memencet tombol “STOP” yang ada di dalam bis. Wah, ternyata hal yang lumayan sepele ini luput dari perhatian.

Di kampus kami bertemu dengan Mas Imam dan beliau membawa kami menemui ALO (AusAid Liaison Officer) sambil menjelaskan karena beberapa miskomunikasi, sehingga PPIA tidak menjemput kami di bandara. Menurut beliau, biasanya PPIA selalu membantu teman-teman yang baru datang dari Indonesia. Saat di kantor ALO-pun kami diberitahu bahwa ada International Students Officer yang datang ke rumah di pagi hari, tapi kami tidak ada di tempat katanya. Mereka bermaksud menjemput dan membawa kami ke kampus. Wah ternyata saat kami pergi ke shopping center mengurus simcard itu mereka datang. Tapi tidak apa-apa, karena kejadian-kejadian itu membuat kami bisa pergi ke kampus naik bis umum dan mengerti bahwa ada tombol “STOP” dalam bis yang harus ditekan kalau ingin turun.

Di kantor ALO, kami bertemu dengan teman sesama penerima beasiswa AusAid dari Philipina. Namanya Lotis. Bertiga, kami akan tinggal sementara di temporary accommodation. Saya ingat hari itu adalah hari Kamis (7 Juni 2007), dan ALO bilang bahwa pembayaran untuk rumah tersebut hanya untuk dua malam. Itu artinya jika belum menemukan permanent accommodation, kami harus memperpanjang atau mencari tempat yang lain. Karena agak sulit mencari tempat tinggal tetap dalam waktu singkat akhirnya diputuskan untuk memperpanjang. Hanya saja, karena long weekend (hari senin adalah tanggal merah-Queen`s Brithday), rumah tersebut sudah dibooking orang lain. Beberapa alternatif dicari, namun tidak gampang menemukan temporary accommodation yang lain. Satu-satunya pilihan adalah sebuah tempat menginap backpackers yang terletak cukup jauh dari kampus, di Newcastle City.

Keesokan harinya, diantar oleh ALO kami pindah meninggalkan kenyamanan rumah di Blue Gum Street ke sebuah hostel yang tampak sudah cukup tua. Di Blue Gum kami merasa memiliki sebuah rumah lengkap dengan segala perabotnya untuk kami sendiri, tapi di hostel ini kami harus berbagi kamar mandi, toilet, dapur dengan orang lain. Untungnya kami bisa tinggal dalam satu kamar bertiga, dimana sebenarnya kamar itu untuk empat orang. Karena saat itu sudah masuk musim dingin, pemilik hostel memberi sebuah heater. Meskipun tidak terlalu memberi kehangatan, tapi lumayanlah daripada tidak ada sama sekali. Malam pertama terlalui dengan baik.

Keesokan harinya, karena hari sabtu kami bertiga berencana untuk jalan-jalan di sekitar Newcastle City. Kebetulan Nobbys Beach yang terkenal di Newcastle  tidak jauh dari tempat kami menginap. Tapi rencana gagal, karena hujan. Dari kemarin cuaca memang tidak bagus. Seharian hujan sangat lebat dan juga mati lampu. Malam harinya salah seorang teman Indonesia menelepon dan menanyakan keadaan kami. Dari dialah kami tahu bahwa telah terjadi badai besar di Newcastle. Banjir dan juga pohon tumbang di mana-mana. Sungguh syok kami mendengarnya. Bagi saya, hujan lebat dan mati lampu sudah biasa. Tapi ternyata ada bencana yang sedang terjadi. Teman saya menyarankan untuk menelepon ALO. Sebenarnya ALO juga mengkhawatirkan kami. Kami melakukan kesalahan karena lupa memberikan nomor hape kami yang baru kepada beliau. Jadi beliau menanti-nanti telpon dari kami. Tetapi karena cuaca yang masih belum pasti, beliau meminta kami untuk tetap berada di hostel tersebut.

Hari berikutnya, cuaca sudah membaik. Tapi ALO belum bisa menjemput karena rumahnya berada di pinggiran Newcastle dan kondisi jalanan yang sulit dilalui karena banyak pohon tumbang. Akhirnya kami putuskan untuk keluar dan melihat apa yang terjadi. Kami menuju ke pantai karena melihat banyak orang berbondong-bondong kesana. Ternyata akibat badai tersebut, sebuah kapal tanker “Pasha Bulker” terhempas ke pantai. Seperti yang dilakukan kebanyakan orang, kami pun ikut mengabadikan momen itu. Berfoto dengan latar belakang kapal besar yang terdampar.

Meskipun beberapa bulan setelah itu saya menyadari bahwa saya kehilangan arsip foto-foto awal kedatangan saya di Australia, tapi saya tidak akan pernah melupakan bagaimana pengalaman saya pertama kali menginjakkan kaki di negeri kangguru yang disambut oleh badai besar.