Berpergian naik pesawat dengan anak-anak dari dan ke Indonesia merupakan bagian dari kisah kita sebagai keluarga student. Membawa anak berpergian, terutama di bawah dua tahun, memang harus banyak taktik, apalagi naik pesawat yang terbatas ruang geraknya dan gak bisa berhenti seenaknya kalo si anak pengen keluar dan main-main (hahaha…). Kalau perjalanan domestik jarak pendek sih menurut pengalamanku gak masalah, asal jangan lupa tas si kecil yang sudah dipenuhi dengan segala peralatan perang seperti mainan, makanan kecil, minuman, tissue basah, nappies, dan lain-lain sesuai kebutuhan. Kalau bepergian bersama orang dewasa juga, misal suami atau nenek, keadaan pun menjadi lebih mudah, karena si kecil bisa duduk di antara dua kursi, gak usah dipangku terus (karena di bawah dua tahun biasanya belum dapat bangku) dan ada yang bantuin. Nah bagaimana ceritanya bila kita berpergian bersama anak-anak kecil seorang diri?  Berikut pengalamanku pulang ke Indonesia bersama dua krucil.

Persiapan dan Keberangkatan

Ini nih yang paling penting… apalagi aku mau bawa dua anak, satu umur 8,5 bulan, satu umur 3,5 tahun… Aku gak boleh repot bawa aneh-aneh, jadi aku tidak berencana membawa stroller. Aku pinjam gendongan bayi teman (anakku gak biasa di gendongan, biasanya pake stroller, jadi gak punya…) dan anak yang sudah besar aku bakal gandeng. Aku hanya mempersiapkan bawa satu tas koper kabin dan satu ransel kecil buat peralatan ini-itu nya bocah-bocah dan berkas-berkas administrasi, yang lain masuk bagasi. Aku sengaja tidak bawa laptop, karena malas repot kalau nanti di XRay harus ngeluarin laptop dari ransel… bisa heboh deh….

Soal tempat duduk, sejak saat beli tiket, aku booking pp minta di front seat yang ada baby basinette nya. Aku biasanya gak pake baby basinette tersebut, cuma tempat itu biasanya lebar sehingga leluasa bila anak ingin duduk dan main di lantai. Soal booking front seat ini pengalamanku dengan Garuda, Qantas, dan Singaporean Air semua sama, di bawah 24 bulan bisa langsung booking tapi kalo sudah 24 bulan ke atas harus datang awal untuk ambil front seat yang belum ter-booking. Ingat, ketika booking front seat, catat nama pegawai dan tanggal serta waktu booking. Sangat penting karena bila booking-an tersebut hilang sehingga kita harus duduk di middle row, kita biasanya diganti free seat buat baby (provided there are still spare seats in that flight). Bisa dibaca pengalamanku di post sebelumnya.

Tibalah saat berangkat, didrop suami di airport Sydney, dibantuin memasukan bagasi, so gak masalah dengan koper-koper… Dan tentunya aku gak khawatir, sampe Jakarta nanti tinggal panggil porter dan ortu bakal jemput. Beres. Ransel bagian luar berisi berkas-berkas perjalanan dan ransel bagian dalam beberapa kebutuhan urgent seperti 3 nappies, tissue basah, wetbag/plastik wangi buat bungkus baju kotor serta 2 set baju si kecil dan 1 set baju si kakak (in case of accident) dan makanan serta minuman kecil (bila membawa anak dibawah 2 tahun, maka masih boleh membawa minuman seperti susu kotak dan drink bottle meski ukurannya diatas 100 ml). Sisanya, aku masukan ke tas koper kabin. Apa isi tas koper kabin? Isinya baju-baju bocah, extra nappies, mainan-mainan bocah yang lain dan 2 set bajuku, lagi-lagi in case of accident. Sebelum masuk gate, aku bersama suami kasih makan anak-anak dulu. Sebab full tummy means happy kids heheheheheh.

Ketika memasuki gate, maka dimulailah perjalananku bersama anak-anak. Aku berangkat dengan anak di gendongan depan, ransel di belakang, satu tangan gandeng anak dan satu tangan lagi geret koper. Begitu masuk bagian imigrasi, langsung disambut petugas yang mengantar aku langsung ke depan meja imigrasi alias ibu bawa anak kecil gak usah ngantri. Alhamdulillah…. Begitu keluar imigrasi, langsung dipanggil petugas XRay untuk ke jalur express juga… Alhamdulillah gak ngantri lagi…. sepi pula… mungkin jalur buat disabledelderly, dan mother and babies (maaf gak perhatian)… sampe XRay baru deh repooot… baru inget dua hal dari pengalaman dulu yang aku lupa! Pertama, aku lupa melepas cincin dan gelang emas yang suka bikin metal detektor nguing-nguing…(ahem sabuk dengan gesper metal juga bisa bikin nguing-nguing lho!). Kedua, kalo pake gendongan maka gendongan bayi harus dimasukkan ke dalam XRay dan bayi digendong tangan. Akhirnya repot  lepas-lepas gelang dan cincin dan gendongan bayi. Untungnya memang sudah disediakan baby mattress dan petugas XRay menunggui di depannya agar bayi tidak jatuh selama aku memasukkan koper, ransel, dan gendongan. Si kecil cuma bengong melihat si petugas bapak tua yang berusaha menggoda-godanya, hahahhha…. Beres XRay, tinggal tunggu keberangkatan. Ketika pintu belalai ke pesawat dibuka… orang-orang langsung buru-buru mengantri terutama kelas bisnis. Melihat hal itu, aku memilih menunggu belakangan daripada tersenggol-senggol. Eeehh tahu-tahunya pramugari di pintu belalai pesawat tersebut (orang bule tapi aku naik Garuda), bilang “Did you see that mother with babies?” Everyone give a way” katanya tegas. “She needs to settle in before anyone else”. Kemudian aku (sambil celingak-celinguk karena diliatin semua orang) akhirnya masuk ke pesawat sendiri dengan dua krucil dan bawaan. Setelah aku duduk rapi bersama anak-anak baru pesawat dibanjiri orang-orang lain…. Lagi-lagi Alhamdulillah….

Di Pesawat

Di pesawat semua berjalan mulus juga… sampai kemudian tiba-tiba si kecil muntah…. jjjiahhhh…. mungkin karena perut sudah penuh tapi pas lepas landas aku susui supaya telinga tidak sakit. Makanya tidak lama setelah pesawat tenang malah muntah. Bapak dan nenek tua bule di sebelahku repot bantu pegangin si kecil yang sudah dibersihkan dan diganti baju karena aku sibuk beres-beresin tempat duduk yang terciprat muntah dibantu Mba pramugari. Untung muntah hanya sedikit dan sebagian besar di baju si kecil. Selama heboh muntah ini kakak anteng duduk di dekat jendela bermain dengan mainannya dan menggambar…fiuhhh. Tapi, setelah itu kakak yang sudah sibuk macam-macam minta mainan yang ada di tas koper… yaaahh terpaksa harus turunin tas koper…. Beberapa waktu kemudian (after a session of  fruit and breastfeeding), si kecil poop. Dueerrrr…. terpaksa aku membuat si kakak tertidur dulu baru aku dengan tenang ke toilet dan membersihkan si kecil. Pakai acara salah mengantri di toilet yang gak ada baby change table segala… duuh mak-mak rusuh padahal sudah jelas ada tanda nya di pintu! Habis gantiin si kecil, aku ingin buang air kecil. Bingung… toilet sempit, si kecil belum bisa berdiri sendiri tanpa dipegangi, nanti kalo aku mau bersih-bersih gimana dong… hhhuaah.. akhirnya kutahan. Tapi… setelah duduk beberapa saat ternyata gak tahan juga… Akhirnya panggil mba pramugari minta pegangin si kecil. Mba pramugari duduk di tempat dudukku dan memangku si kecil… si kakak masih tertidur. Namun, waktu begitu masuk toilet, kakak langsung bangun dan memanggil-manggil aku sambil menangis… sedangkan si kecil yang tadinya anteng jadi menangis-nangis juga…. ketika aku keluar toilet si Mba pramugari sudah di depan toilet dengan dua anak dan seisi pesawat senyam-senyum.. ada yang cekikikan… ada yang pasang muka-muka lucu buat menggoda anak-anak… Hehehhehehe.. untung setelah itu tidak ada kejadian aneh-aneh lagi.

Kami mendarat dengan selamat…. dan aku memilih untuk turun belakangan supaya kami yang berjalan lambat ini tidak tersundul-sundul orang-orang yang buru-buru keluar dari pesawat. Akibatnya, karena kami duduk di depan, hampir semua orang melewati kami berhenti dan mengobrol dengan kami… dari muda sampai tua dari orang indonesia sampai bule…  ternyata si kakak sempat lari dari depan sampe belakang dan mengintip di sela-sela kursi ketika mencari mama yang masih di toilet….. hahhaha… heboh… capek… tapi setidaknya aku tahu, ibu dan anak kecil pasti ditolongin dan diprioritaskan.