Keberangkatan saya sekolah ke Perth, berjalan cepat, padahal baru sekitar 4 bulan saya memakai kawat gigi. “wah, bagaimana perawatannya selama saya di Perth?” Yang jelas urusan pergigian seperti ini tidak masuk dalam asuransi kesehatan sekolah, dan dokter gigi orthodonti tentu tidak mau mengambil alih kasus orthodonti yg sudah ditangani dokter lain di tengah jalan.

Selama pre-departure training di Jakarta, scholars memang ditekankan untuk lebih waspada masalah kesehatan gigi selama studi di Australia. Pastikankan gigi Anda sehat, tak bermasalah saat berangkat studi ke Australia! Sama halnya dengan urusan ‘mata’. Bagi mereka yang berkacamata, disarankan membawa kacamata cadangan! Seingat saya, kami tak pernah disarankan untuk ‘upgrade’ asuransi kesehatan meng’cover’ gigi dan mata.

Saya pun mulai bertanya sana-sini dengan teman-teman dokter gigi tentang kemungkinan saya tetap memakai kawat gigi. Dengan persetujuan dokter gigi pribadi, saya akhirnya direstui membawa paket ‘onderdil’ perawatan kawat gigi ‘special’ atau lebih tepatnya alakadarnya; berupa sonde, klem arteri, dan karet warna-warni.  Sonde dan klem arteri keduanya milik pribadi; saya ambil dari set peralatan bedah jaman sekolah dokter. Klem arteri ini, punya nilai tersendiri buat saya karena klem ini sudah beberapa kali saya pakai untuk menyunat/khitan, jaman magang dan bekerja sebagai dokter. Sedangkan, karet warna-warni, memang dibekali oleh dokter gigi pribadi, berfungsi sebagai ‘hiasan pemanis’ sekaligus membantu memberi efek  tekan pada kawat gigi.

Saya juga dibekali skill perbengkelan kawat gigi 🙂 supaya bisa merawat dan mereparasi  kawat gigi sendiri sampai saya harus kontrol 6 bulan atau 1 tahun kemudian, plus nasihat-nasihat  menjaga kelangsungan hidup kawat gigi, seperti membatasi konsumsi minuman manis bersoda atau makanan bertekstur keras yang berpotensi  merusak kawat gigi.

Kebetulan saya bukan penggemar minuman bersoda, tapi masih hobi mengunyah makanan ‘keras’ seperti beragam kacang-kacangan, termasuk ikan teri kacangJ sedikit nakal dan lupa diri dengan nasihat penting seputar merawat kawat gigi, ujung-ujungnya kawat gigi saya rusak! Cincin utama pengikat bagian geraham atas patah! Wah, itu area vital penyangga kawat gigi. Tak mungkin saya reparasi sendiri! Oh ya, networking pelajar Indonesia di Perth punya ‘drg. darurat’ khusus untuk membantu kasus-kasus gigi yang benar-benar perlu bantuan. Seperti dugaan, kasus reparasi kawat gigi saya tak bisa dia kerjakan. Oke, saya harus pulang ke Indonesia… setelah tersiksa seminggu,dengan kondisi mulut amat sangat tak nyaman:( Untung…itu terjadi Januari 2010, sekitar 6 bulan sejak saya tiba di Perth, ‘klop’ lah dengan jadwal kontrol gigi, ‘klop’ juga dengan liburan sekolah. Untung…

Satu tahun kemudian saya kembali kontrol kawat gigi ke Indonesia, bersamaan dengan jadwal pulang kampung bagi ADS scholars yang ‘single’. Dokter gigi pribadi langsung komentar : “ ternyata ada juga kasus 1 tahun nggak control, progress tetep bagus”. Ya, Jelas! Selama satu tahun itu saya jauh lebih berhati-hati dengan apapun yang saya makan/minum, rutin mengganti karet warna-warni, dan mengencangkan kawat sesuai jadwal, selain menggosok gigi seperti biasa. Dan sampai hari ini, tidak ada keluhan dengan kawat gigi saya.

Jadi, satu hal yang saya tunggu-tunggu saat kembali ke tanah air : ke dokter gigi! Semoga hasil akhir gigiku sesuai yang diharapkan

PS: Pengalaman ini  Simply for sharing! Pastinya, jangan sampai nggak jadi berangkat sekolah ke negeri Koala hanya gara-gara terlanjur pakai kawat gigi. Kalau ragu nggak bisa merawat, ya copot saja! Kalau kekeuh tetap ingin pakai, tentunya setelah konsultasi dan mendapat persetujuan  dari  dokter gigi Nengs, boleh juga mencontoh cara ‘preman’ saya… hahaha  *kabur*