Mungkin tak akan pernah terbayang sebelumnya kalau  kerinduan akan tumis kangkung akan menjadi begitu hebatnya di Australia.  Dan, sarung bisa meredam rindu itu.

Kenalkan, namaku Devi. Sekitar tahun 2010, aku mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan S2 Keperawatan di University of Wollongong. Sama halnya dengan kebanyakan orang, pertama kali dinyatakan lulus, rasanya tak percaya. Hmm, maklum saja. Ini pertama kalinya mendapatkan beasiswa ADS yang banyak diimpikan orang.

Bayangan paling menakutkan ketika menginjakkan kaki pertama kali di Australia adalah makanan.  Tidak seperti teman-teman lain yang berfikir lebih ilmiah, kepalaku hanya diisi pertanyaan-pertanyaan konyol, seperti: Masih ketemu nasi atau tidak kah disana?  Masih bisa kah menikmati sambal teri tempe?  Atau, Apakah di sana ada restoran yang menjual makanan Indonesia?.  Benar-benar konyol.

Dan anehnya, kekonyolan itu semakin dipertajam oleh ibunda tercinta.  Oh ya, ibuku adalah seorang perempuan sederhana yang punya visi luar biasa. Aku biasa memanggil beliau dengan sebutan Umak.  Artinya ibu juga, tapi versi Sibolga.  Umak adalah perempuan kampung yang tidak tamat SD tapi selalu mendukung anak-anaknya untuk meraih pendidikan setinggi langit.  Umak selalu bilang bahwa tidak ada kata mustahil jika diniatkan untuk belajar.

Maka, sebelum keberangkatan, Umak sudah meminta untuk menyiapkan rantang plastik kecil yang berisi kue  kering, bolu dan kue-kue basah lainnya.  Pertanyaan konyol Umak adalah “Gak ada yang jual lontong kan disana?”  Umak bertanya dengan polosnya dan aku terdiam dengan bingungnya.  Apa daya, perhatian seorang ibu terkadang memang tak bisa dielakkan.  Mau kata anaknya sudah melanglang buana kemana pun dengan argumentasi seilmiah apapun. Entah kenapa para ibu selalu berhasil “mendiamkan” anak-anaknya. Untuk para ibu, kalian semua hebat!

Maka, malam sebelum keberangkatan, aku terpaksa membungkus makanan basah itu ke dalam rantang plastik kecil.  Itu sudah mendingan dibanding kenekatan Umak yang lain.  Umak sempat mencetuskan ide untuk membekaliku dengan rendang, mie lidi, mihun, agar-agar dan segala macam tetek bengek lainnya.  Tak terbayang jika tasku dipenuhi barang-barang “antik” itu.

Tak pelak, begitu sampai Bandara Sydney, tas ransel di mana makanan kecil itu tersimpan mengundang perhatian petugas imigrasi.  Mereka menatap sedikit gemas.  Tatapan matanya tajam.  Untuk urusan makanan, Australia memang terkenal cukup ketat.  Jangan pernah memasukkan makanan yang dianggap berpotensi membahayakan keseimbangan lingkungan serta kesehatan penduduk dalam negeri mereka.  Apalagi, makanan yang ada di rantang kecil itu memang sangat mencurigakan.

“What’s in your bag?”  Si blonde menatapku tajam.  Nafasku tercekat. Wajahnya tiba-tiba kulihat meruncing.  Mengerikan!

Sorry, I did’t mean to hide any food in my bag”  Aku terhenti sejenak.  Wajahku pasrah, membayangkan denda ratusan dollar jika sedang sial.

“My mom insisted me to bring the food from my country for breakfast , because she doesn’t want me to get sick when I arrived here”.  Aku menyambung dengan terbata-bata.  Ajaib!  Si blonde langsung tersenyum.  Wajah mengerikan itu seketika lenyap.  Manis sekali!  Dia pun mempersilahkanku keluar dan memberitahu temannya untuk tidak membongkar koper besarku.  Padahal, di sebelahku tas seorang perempuan India dibongkar habis-habisan dan beberapa barang masuk tong sampah besar untuk dihancurkan.  Aku yakin si blonde manis itu seorang ibu.

Beberapa hari di Wollongong, serasa berada di surga.  Aku bebas menikmati tawa khas burung Kookaburra, menikmati indahnya warna-warni burung Beo, yang entah kenapa menjadi jinak di Wollongong.  Juga, udara segar Wollongong yang memang daerah pinggiran kota dan jauh dari hiruk-pikuk Sydney.  Dibesarkan di kota kecil memang menjadikanku pecinta kesunyian.

Hari kemudian berganti minggu.  Surga itu tiba-tiba ada batasnya.  Aku rindu Umak.  Perempuan yang sudah membesarkanku dengan susah payah.  Aku rindu nasehatnya.  Padahal, jika di tanah air sering kubantah.  Aku juga rindu suara tukang sate yang sering menjadi pembatal dietku, aku rindu suara azan, aku rindu suara klakson tukang roti, aku rindu kepulan asap motorku.  Dan, yang terpenting aku rindu ojek dan becak!  Kakiku sudah berteriak-teriak kecapean jalan kaki ke mana-mana selama kuliah di Australia.

Agar tak menjadi “Bombay” (cengeng), membunuh waktu dengan memasak adalah solusi praktis.  Sekalian mengasah kemampuan meracik bumbu, walau sebenarnya orang-orang sudah angkat tangan untuk kemampuan memasak yang aku miliki, yang bisa dikatakan masih dibawah standar, kalau tak bisa dikatakan amburadul.

Salah satu toko Asia di sudut kota Wollongong kerap menjadi persinggahan jika sedang berusaha memasak makanan Indonesia.  Memang tak seperti pasar di Indonesia, tapi minimal masih bisa melihat beberapa barang-barang khas Indonesia di sana (to be continued).