Tulisan ini merupakan sambungan dari Sarung dan Tumis Kangkung Part 1

Ada juga manfaatnya walau terkadang berburu kangkung ke toko Asia, harus menjelang sore.  Ini disebabkan perjalanan kangkung yang cukup panjang dari Sydney sana sampai ke Wollongong.  Dan sepanjang hidupku, baru di Wollongong inilah aku tegak berdiri, memandang sunyi, sambil memasukkan tangan ke kantong celana akibat kedinginan di sebuah toko Asia tanpa alasan yang masuk akal: menunggu kangkung!

Bayangkan ketika di Indonesia, kangkung bisa tumbuh di mana-mana.  Juga, tak perlu menunggu atau antri.  Cukup menunggu si tukang sayur yang terkadang agak sedikit memaksa menjual kangkung karena kangkungnya tak ada yang membeli.  Tapi di Wollongong, kangkung jadi “most wanted”.  Siapa cepat, dia dapat!

Terkadang, jika sedang memasak, tolong ingat-ingat tetangga.  Bukan karena bagi-membagi makanan seperti yang Rasul ajarkan.  Tapi, urusan aroma menyengat yang bisa menjadi masalah bagi tetangga yang tak terbiasa dengan aroma masakan Asia dengan bumbu-bumbu yang cukup menyengat.  Dan, tumis kangkung beraroma belacan!  Sama ketika aroma masakan itu menembus ventilasi tetangga yang asli Australia.  Cukup kaget juga ketika si tetangga baik itu tiba-tiba menegur dengan intonasi suara yang cukup tegas.  Bau belacan sudah terbukti dahsyat.  Dan, tiba-tiba saja mendapat hobby baru ketika sedang menempuh pendidikan di Australia: memasak!

Cuma saja, sesibuk-sibuknya masak, sampai-sampai membawa laptop ke dapur sangking malasnya menulis resep, tetap saja ada yang kurang.  Ada satu bumbu yang tak akan dapat kutemui di negara manapun kakiku melangkah.  Bumbu yang jika dipadu dengan masakan itu akan terasa komplit.  Yakni, kebersamaan keluarga adalah bumbu rahasia itu.

Selezat apapun makanan itu, sehebat apapun teknik memasaknya di dapur, tetap saja ketika memakannya, air mata berlinang.  Ya, aku rindu dengan kehadiran keluargaku di saat-saat aku ingin makan bersama mereka.  Mendengar tawa dan celotehan sembari menyendok lauk pauk di atas meja makan.  Bahkan, aku rindu dengan celotehan tak penting keponakanku yang tak suka ikan.  Semua itu tak akan ditemui di belahan dunia manapun. Kebersamaan itu yang sering harus kubawa dalam mimpi, dengan linangan air mataku.

Mungkin bagi sebagian orang, Australia adalah surga.  Dan, itu benar adanya.  Aku juga mengalami hal yang sama karena aku menemui hal yang berbalik seratus delapan puluh derajat dari negeriku tercinta, Indonesia.  Australia adalah ketertiban, kenyamanan dan kesejahteraan.  Jarang sekali terlihat peminta-minta dan bahkan di Wollongong aku belum pernah bertemu dengan pengamen atau peminta-minta.

Cuma, bagi orang “ndeso” sepertiku itu tak cukup.  Aku butuh yang lain.  Bahkan, teriakan tak penting dari si tukang jamu di depan rumahku amat kurindukan.  Dan, nasehatnya yang selalu menyuruhku untuk menurunkan berat badan amat ingin kudengar, “Mbak ee, badan dah kayak tong gitu ya mbok minum jamu galian singset”.  Biasanya, ucapan itu terlontar tanpa bermaksud menghina tapi bentuk kepedulian.  Padahal, di Australia pertanyaan seputar berat badan adalah tabu.  Itulah perbedaan budaya.  Namun, selama tinggal di Australia banyak hal negatif dariku bisa berubah sedikit demi sedikit.  Terutama kebiasaan “ngaret“!  Mungkin kebiasaan kebanyakan orang kita kan?

Pernah suatu ketika, ketika rinduku sedang hebat-hebatnya, tanpa sengaja aku menemukan sarung yang biasa dipakai Umak sholat.  Sarung itu terselip di bagian atas koper besarku.  Setelah sekian lama, baru aku menyadari bahwa Umak ternyata menyelipkan sarung itu tanpa kuketahui.  Memang sebelum berangkat menuju Australia, Umak ngotot memasukkan sarung itu ke dalam koperku tapi kutolak mentah-mentah.  Alasan Umak untuk pengobat rindu, dan alasan penolakanku adalah kolokan dan kekanak-kanakan.  Dengan sombongnya, aku berkata bahwa aku sudah menjadi perempuan dewasa dan tak butuh benda benda berbau “anak kecil”.  Aku pasti bisa mengatasi rindu itu.

Tapi, lihatlah.  Hampir tiap malam aku memeluk sarung itu dan mencium aromanya.  Aroma Umak.  Aku menangis tertahan.  Setelah sekian lama lahir dan berumur 30 tahun baru aku menyadari bahwa satu-satunya manusia di muka bumi ini yang sangat mengerti aku adalah ibuku sendiri.  Ya, ibu adalah pribadi yang sangat mengenal anak-anaknya sendiri.

Sarung itu ternyata membawa berkah sendiri.  Entah keajaiban apa yang ada di situ hingga jika aku memeluknya, sepertinya rasa rindu itu hilang.  Sekali lagi, Umak benar adanya.  Ibu adalah obat untuk semua kerinduan anak-anaknya walau melangkah sejauh apapun.  Walau ke ujung dunia sekalipun, Ibulah satu satunya tempat sempurna untuk kembali.  Menyelami kedalaman mata dan ketenangan wajahnya.

Percaya atau tidak, setelah terlempar jauh dari negeriku sendiri, terpisah dari ibuku sendiri dan membuat tumis kangkung dengan antrian di musim dingin serta pelukan di sarung lusuh, baru aku menyadari satu hal.  Ternyata aku kolokan!