Saya adalah orang yang berantakan, tas seperti kapal pecah, kadang saya bisa menemukan kartu kredit di dalam kotak sepatu, lipstik diantara bumbu masak dan berantakan ini juga tercermin dalam cara kerja saya. Sekarang saya sedang mengerjakan thesis saya, dan semua draft tersebar di 10 flashdisc yang saya miliki. Saya memiliki 5 draft untuk setiap chapter dan notes saya tersebar di mana-mana. Selama ini saya menggunakan Microsoft Word dan Evernote, dan walaupun keduanya sangat membantu, setiap kali saya menulis sesuatu saya, selalu tidak bisa (malas) menemukannya. Oleh karena itu, hobi saya adalah mencari software yang bisa membantu saya mengatasi chaos di dalam thesis writing saya, karena mencari 1 file di dalam flash disc yang berbeda-beda memakan waktu yang cukup lama. Dan karena pikiran saya selalu kemana-mana saat menulis, switching back and forth between files membuat saya bingung. Saya memerlukan software yang bisa membantu saya memecahkan masalah disorganisation saya.

Sekitar 1.5 tahun ke PhD saya (telat ya emang), saya baru menemukan Scrivener dan saya jatuh cinta. Scrivener sebenarnya mirip dengan beberapa word processing software namun tidak membingungkan. Dengan Scrivener, kita membuat sebuah file project instead of 1 file. Di dalam project tersebut kita bisa membuat folder-folder berbeda (Gambar 1). Di dalam folder kita menyimpan drafts, dan saya bisa menciptakan 10 draft tanpa bingung semuanya disimpan di mana dan switching antara drafts maupun folders hanya dengan 1 klik. Drafts juga dapat compile. Scrivener juga menyediakan cork board dengan”post it” yang dapat diisi dengan summary draft tersebut, sehingga saya bisa melihat jalan pikiran saya. Scrivener juga menyediakan fasilitas labeling, sehingga saya bisa tahu mana draft pertama, kedua atau ketiga.

Scrivener membuat saya bisa menempatkan semua draft saya di dalam 1 tempat, dan juga research saya, yang merupakan kumpulan summary articles dan ramblings pada bagian “research”. Kita juga dapat menambahkan folder ekstra, misalnya saya memiliki 1 folder berjudul papers ideas, yang isinya ide mengenai ide-ide publikasi. Jadi sambil menulis chapters saya, jika ada ide yang tiba-tiba muncul saya dapat menulisnya di dalam folder tersebut, tanpa mengganggu train of thoughts saya.

Downside dari Scrivener adalah bukan merupakan software gratis, tetapi educational lisence yang hanya 35 dollar tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan waktu yang saya hemat. Jika anda menggunakan google chrome, ada aplikasi gratis yang mirip dengan Scrivener, Scriptito namun pada aplikasi ini, pada bagian “research” tidak bisa ditambahkan notes, hanya upload files, juga hanya terbatas untuk 5 project. Sejak menggunakan Scrivener saya berhasil menulis paling tidak 500 kata dalam sehari dan semua research saya terkumpul dalam 1 folder sehingga saya tidak mencari-cari lagi.

 

Scrivener tersedia untuk Mac OS dan Windows (http://www.literatureandlatte.com/scrivener.php).