Setiap tanggal 21 April, kita memperingati hari Kartini dimana kita diingatkan akan jasa R.A. Kartini yang mendobrak nilai-nilai yang ada pada saat itu untuk kemajuan kaum perempuan di Indonesia, menuntut persamaan hak perempuan dalam hal menuntut ilmu. Sering pula didengungkan bahwa sepatutnya lah kita, perempuan Indonesia berterima kasih atas perjuangan R.A. Kartini. Karena jasa beliau, kini kaum perempuan di Indonesia bebas bersekolah. Namun pertanyaannya, sudahkah kaum perempuan Indonesia benar-benar diberikan haknya untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya? Berapa banyak perempuan Indonesia yang masih menjadi kaum nomor dua di keluarga kalau kita bicara mengenai pendidikan? Mungkin sebagian dari kita berpikir, itu hanya tantangan di desa-desa tertentu yang masih sangat memegang kuat budaya patrilineal. Benarkah begitu?

Pernahkah Anda mengalami “petuah” orang di sekitar Anda yang berkata, “Perempuan untuk apa sekolah tinggi-tinggi? Nanti akhir-akhirnya juga kerja di dapur” Atau pernahkah rekan pria, atau mungkin kekasih Anda berkata, “Jangan sekolah tinggi-tinggi, perempuan yang sekolah tinggi itu, cowok pada gak mau…” Bukan cuma sekali saya mendengar kawan-kawan saya mengatakan kalimat yang kedua…Bukan hanya dari rekan pria tetapi banyak juga kawan-kawan perempuan saya yang melontarkan kalimat itu. Ya… di zaman modern sekarang ini, perempuan Indonesia acapkali tetap harus berada di “bawah” pria. Sebagai contoh, seorang rekan kerja saya di bagian administrasi berkata kalau dulu dia pernah menolak beasiswa ke Inggris. Alasannya? Karena pacarnya tidak mengijinkan. Saya yakin, rekan kerja saya ini bukan satu-satunya perempuan Indonesia yang mengubur mimpinya untuk melanjutkan pendidikannya karena tidak diijinkan oleh kekasihnya.

Saya tidak tahu apa di benak para pria yang berpikir seperti itu. Hasil omong-omong dengan teman-teman perempuan yang mengatakan hal senada, menurut mereka, pria tidak suka kalau pasangannya berpendidikan lebih tinggi, lebih sukses, lebih ini lebih itu daripada dirinya. Itu lah alasannya mengapa teman-teman wanita saya memutuskan untuk “mengerem” jenjang pendidikannya. Apakah ini alasan sebenarnya dibalik tindakan si Pria? Paling tidak seorang kawan pria saya mengamini alasan ini.

Saya tidak menyarankan Anda memutuskan kekasih Anda jika ia tidak mengijinkan Anda melanjutkan pendidikan Anda. Sama sekali tidak. Semua orang punya prioritas masing-masing. Namun buat saya, pria yang merasa minder dengan perempuan yang berpendidikan tinggi adalah pria yang tidak percaya bahwa dirinya mampu “memimpin” isterinya. Dan saya pribadi, tidak bisa mempercayai orang yang tidak mempercayai dirinya sendiri. Salahkah pendapat saya? Mungkin ya mungkin juga tidak…

Saya yakin bahwa perempuan memang diciptakan untuk mendampingi laki-laki. Seperti ada pepatah berkata, di belakang seorang pria yang sukses, ada seorang wanita yang hebat. Namun pertanyaannya, apakah Anda ingin selalu berada di belakang pria Anda ataukah Anda memilih seperti Marie Curie, yang bisa bermitra dengan suaminya melakukan pekerjaan-pekerjaan hebat? Pilihan di tangan Anda..

Selamat Hari Kartini!

“You educate a man; you educate a man. You educate a woman; you educate a generation” (Brigham Young)