Studi

Lolos mendapat beasiswa memang sangatlah menggembirakan. Setelah berlelah lelah mempersiapkan semua persyaratan. Rasa lelah terbayar dengan rasa gembira mendengar informasi lolos nya beasiswa.  Namun hal tersebut bukan berarti masalah selesai.  Kita masih harus bersusah payah untuk lulus semua mata kuliah yang kita tempuh.  Saya pribadi diterima di ANU ( Australian National University) dikota yang dingin Canberra. Studi dikota yang dingin dan sunyi seperti Canberra punya kenangan tersendiri. Canberra sebagai ACT (Australian Capitol City) adalah kota bentukan pemerintah Australia, bukan tumbuh alami,  namun disitulah indahnya. Tata letak kota baik hunian dan pertokoan terlihat rapi dan terencana.

Canberra juga terkenal sebagai kota diplomat. Tempat kantor semua perwakilan  duta besar semua negara tinggal. Sebagai tempat studi sangatlah cocok.  Kampus ANU dengan dua fasilitas perpustakaan besar sangatlah mendukung untuk studi. Tugas tugas kuliah terbantu dengan keberadaan buku yang sangat variatif. Terutama buku buku yang berkaitan dengan negara negara Asia. Bahkan koleksi buku buku yang ditulis orang Indonesia lengkap sekali. Saya pribadi mengambil konsentrasi ilmu Lingkungan. Konsentrasi ini disebut EMD (Environmental Management Development).

Bagi saya pribadi Ilmu Lingkungan sangatlah menarik untuk didalami dan dikaji. Dengan kerja keras alhamdulillah akhirnya selesailah  studi Master saya.  Setahun setelah itu saya kembali ketanah air. Dan alhamdulillah selama ditanah air saya apply lagi untuk S3 di ANU.  Dan diterima lagi di ANU walau dengan jenis beasiswa yang berbeda. Namun setelah saya fikir ulang dan dengan berbagai pertimbangan keluarga saya memilih studi S3 di dalam negeri. Mengundurkan diri secara baik baik tidak menjadi masalah bagi Universitas negara maju. Dan beruntung dapat mengambil program sandwich di jerman (RWI dan Essen University). Beruntung selama program sandwich saya berkesempatan mengunjungi negara Perancis, Turki, Belanda dan Belgia. Alhamdulillah studi S3 juga telah terlewati.  Pengalaman studi program Master di ANU membawa manfaat positif tentang membangun kinerja pribadi.  Sadar menghargai waktu. Sadar menghargai tenaga. Dan sadar akan keberadaan perbedaan.  Lebih fokus pada hal hal penting yang menjadi prioritas kehidupan. Banyak karakter budaya negara maju yang positif  yang dapat kita teladani.

Singkat kata,mendapatkan beasiswa dari negara maju dapat menambah wawasan tentang keilmuan,  budaya negara lain,  karakter,  dan pergaulan dengan student dari negara lain. Berbagai perbedaan yang kita lihat membuat kita semakin mudah mentoleransi pemahaman orang lain yang tidak sama dengan kita. Membenahi karakter pribadi adalah tugas sepanjang masa dan tidak berkesudahan. Ibarat motto: Tak ada gading yang tak retak itulah kita sebagai manusia.

 

Keluarga

Keluarga adalah harta yang tak ternilai bagi kita. Namun dengan pertimbangan rasional terkadang berpisah untuk sementara waktu menjadi pilihan. Misal, ketika pasangan tak bisa meninggalkan kerjanya misal sebagai PNS aktif. Apalagi atasan tak mengijinkan untuk cuti,  maka membawa anak ketika studi berarti tanpa bantuan siapapun.  Jika serperti ini kondisinya maka membawa anak ketika studi akan beresiko pada anak dan studi. Apalagi jika masih kecil kecil (belum mandiri). Resiko paling bisa ditebak adalah kerepotan dan fokus pikiran yang terbelah. Anak anak tidak terjaga dengan baik dan studi tersita waktunya untuk urusan domestik. Kelelahan dan fokus yang terbelah beresiko terhadap gagalnya studi. Walau itu kadang bergantung pada mahasiswa yang bersangkutan. Ada teman yang menempuh S3 membawa dua anaknya yang masih sekolah dasar tanpa didampingi suami, namun mampu membagi waktu untuk anak dan studi walau dengan tenaga ekstra.

Namun ada pula yang membawa anak dan istrinya ketika studi ternyata justru timbul masalah ketika anaknya sakit keras. Anak dan istri terpaksa harus dipulangkan. Namun ketika di Indonesia sakit anak semakin keras. Dan memaksa bertemu ayahnya lagi.  Si ayah yang sedang studi terpaksa harus pulang lagi. Bisa dibayangkan biaya yang harus dikeluarkan untuk pesawat bolak balik seperti itu.

Saya sendiri ketika menempuh Master di ANU Canberra memilih tidak membawa anak, disamping anak masih belum bisa mandiri,  ayahnya juga tidak bisa mengambil cuti. Namun ada sisi positif yang saya rasakan.  Anak tumbuh menjadi lebih mandiri dan tidak cengeng. Soal komunikasi kami bisa melakukannya dengan menggunakan yahoo massanger. Setiap hari tetap bisa saling bertatap muka via internet dan diskusi banyak hal. Termasuk membantu anak mengerjakan PR. Hubungan menjadi semakin dekat dan mesra dengan keluarga karena selalu saling merindukan.

Sisi positif lain adalah dapat pulang ke Indonesia ketika liburan kuliah. Tiap 4 bulan sekali dapat pulang selama 1 bulan. Lebih lebih ketika liburan musim summer, kita menikmati senggang selama tiga bulan. Cukup banyak waktu untuk berkumpul bersama keluarga. Liburan panjang dapat diisi berbagai kegiatan. Saya sendiri mengisi nya dengan mengunjungi beberapa negara Asean bersama keluarga. Kenapa Asean?  Karena tidak memerlukan aturan visa,  yang cukup ribet jika itu diberlakukan.

Sejauh pengalamam pribadi saya, ketika kita pulang ke Indonesia ada keuntungan tersendiri. Yaitu uang kost yang utuh, karena kita bisa menitipkan barang di gudang tanpa harus membayar kamar dan biaya gudang. Uang biaya kamar cukup lumayan untuk mendukung biaya jalan jalan ketika liburan bersama keluarga.  Sehingga anak saya saat itu yang masih SD sudah memiliki pengalaman mengetahui negara negara tetangga dekat kita. Ini menuntun jiwa anak untuk berkeinginan maju dengan menempuh studi di luar negeri pula.

Pengalaman berpisah sementara dengan keluarga karena alasan studi menjadikan  kita semakin mengerti arti keluarga yang sesungguhnya yaitu : Harta yang paling berharga di dunia ini adalah keluarga.

 

Karier

Ada kenangan di Canberra yang tak terlupakan ketika saya lulus.  Dua orang teman mengadakan farewell party di dua tempat yang berbeda. Rasa terharu dan gembira melihat perhatian yang diberikan oleh teman teman ketika kita lulus studi. Hal ini sebenarnya adalah dari budaya negara maju bila seseorang akan berpisah untuk pergi jauh dan dalam waktu lama. Hidangan umumnya berasal dari teman teman yang datang. Masing masing membawa menu yang berbeda dan saling mencicipi masakan masing masing.

Saya terkesan juga dengan perhatian tiga orang dosen ketika kami lulus. Dosen yang Kepala departemen mentrakrir kami di restoran yang mahal. Masih teringat wajah dan namanya, Professor Jeff Bennet.Saat itu di jurusan saya ada  kurang lebih 10 orang. Diantaranya ada yang bersal dari China, Myanmar, Nepal, Philipina, Bangladesh, Canada, India dan Papua Nugini. Sedangkan dua orang dosen yang lain mengundang kami kerumahnya dengan diberi jamuan buatan mereka sendiri. Pulang ke tempat kost kami juga diantar oleh mereka. Betapa baik mereka jika kami mengingatnya.

Setibanya ditanah air kita kembali ke habitat tempat kita kerja semula. Ada nuasa perasaan yang aneh ketika kembali. Seperti ada yang terasa asing dengan diri kita. Hal ini tidak saja saya alami, teman yang lain bercerita hal yang sama. Rupanya ada gab budaya dan etos kerja yang berbeda. Belajar dinegara maju harus mampu mengikuti ritme etos kerja yang disiplin dan tidak membuang buang waktu. Menejemen waktu yang tertata dan padat mewarnai irama keseharian. Mulai dari bangun tidur, kuliah, perpustakaan, olahraga, belajar, belanja kebutuhan pokok, menelpon keluarga, mengerjakan tugas. Demikian hampir tiap hari kami lakukan.

Ketika tiba di negara sendiri,  kegiatan menjadi tidak tertata seperti semula. Suasana juga agak berbeda misal cuaca selalu panas, gerah, jalanan macet,  banyak sampah beserakan dijalan, aturan aturan yang banyak dilanggar serta umpatan kasar terdengar disela sela kerumunan orang orang dipinggir jalan. Ancaman kriminalitas,  rasa tidak aman, pelecehan dan masih banyak lagi yang membuat kita seperti merasa asing dinegeri sendiri. Lambat laun  sambil berjalannya waktu kita mampu membuat penyesuaian atas semua situasi tersebut. Kita berusaha mengisi waktu dengan kegitan positif. Menghindari waktu terbuang sia sia. Juga mengindari tenaga terbuang percuma. Tidak mengganggu kepentingan orang lain dan tidak usil dengan yang bukan urusan kita. Banyak hal bisa kita kaji dan tiru dari karakter budaya negara maju.

Terbiasa dengan bahasa asing menjadikan cara berfikir kita lebih tertata dan sistematis, kalau tidak boleh dikatakan lebih cerdas. Beberapa teman kulihat memiliki karir yang lebih cemerlang ditempat kerjanya. Sebagian lagi mereka mendapatkan kerja yang lebih baik. Saya pribadi memiliki karir sebagai pengajar diperguruan tinggi.  Setelah mengabdi mengajar selama satu tahun saya melanjutkan studi S3.  Atas pertimbangan tertentu saya memilih studi S3 di dalam negeri.  Untuk manambah pengayaan disertasi, saya mengajukan program sandwich ke German.  Saya beruntung mengenal dua tempat akademik yaitu RWI (seperti LIPI)  dan Essen University. Dana dari direktorat pendidikan tinggi Indonesia sangat membantu terselesaikannya program sandwich ini.

Studi didalam negeri bukan lebih ringan tetapi juga tidak setegang kuliah dalam bahasa asing. Setelah mengabdi dengan mengajar selama tiga tahun, saya mendapat tugas menjadi kepala departemen ilmu ekonomi di fakultas ekonomi tempat saya mengabdi. Mengabdi pada tugas dengan posisi tertentu tidaklah sama dengan ketika kita menjadi dosen biasa. Waktu seperti berkejaran. Skill menejemen waktu diperlukan untuk mampu menyelesaikan tugas tugas institusi dan tugas pribadi sebagai dosen.

Pengalaman studi di luar negeri yang menuntut kerja keras sangat membantu dalam menjalankan tugas institusi. Target target departemen yang harus dipenuhi dengan menggerakkan sumber daya manusia yang ada menjadi tantangan tersendiri. Kesabaran dan pengorbanan sangat dituntut bisa menjalankan semua planing yang dicanangkan. Lagi lagi pengalaman studi di luar negeri banyak membantu, terutama jika ada tamu tamu asing yang datang berkunjung dan harus berbahasa inggris. Tidak jarang kita harus ke luar negeri untuk membangun kolaborasi akademik dengan Universitas negara maju lain nya.

Demikian sekelumit pengalaman suka duka sebagai wanita yang bergelut dengan studi lanjut,  memiliki keluarga dan juga mengembangkan karier. Namun satu hal yang selalu saya ingat yaitu motto : Perjuangan dan tetesan keringat takkan pernah mengingkari impian.  Itu  kata lagu Jkt 48, yang personil nya imut imut!

Selamat berjuang untuk para pengejar beasiswa. Semoga sukses selalu menyertai anda. Amin.