Saat-saat menjelang akhir semester merupakan saat-saat menegangkan bagi kebanyakan mahasiswa karena banyaknya beban tugas dan juga persiapan ujian. Di saat-saat seperti ini laboratorium komputer dan perpustakaan menjadi tempat favorit. Dan di saat-saat ini pula lah chips, energy bar, energy drink dan kopi laku keras. Seringkali waktu terasa kurang untuk melahap semua bahan bacaan, mencari literatur tambahan, sampai dengan menulis dan me-review tulisan kita sendiri. Padahal di Australia, terdapat korelasi yang tinggi antara usaha yang dikeluarkan dengan nilai yang diperoleh.

Bekal “bertempur”

Memperhitungkan beban tugas

Secara teori, seharusnya beban keseluruhan tugas mata kuliah sudah diperhitungkan di awal semester agar kita tidak kedodoran di pertengahan/akhir semester, ketika deadline pengumpulan esai dan jadwal ujian berdekatan. I learned it the hard way – saya sempat merasakan hanya diganjar nilai pass  untuk esai pertama yang saya buat. Saya ingat sekali komentar dosen Issues in Development Policy saya saat itu: banyak data yang menarik, tetapi esai saya dinilai tidak argumentatif. Argumen yang baik baru dapat dibangun jika kita menguasai permasalahan. Disitulah kelemahan saya, dengan latar belakang S1 yang kurang sesuai dengan program S2 yang saya ambil. Dosen tersebut menyarankan agar saya memperbanyak referensi dalam penulisan esai saya. Karena itu saya menetapkan target pribadi untuk menggunakan satu paper/jurnal bagi tiap 200 kata yang diminta di tugas-tugas berikutnya. Dengan demikian, untuk esai sepanjang 2000 kata saya berusaha mencari 10 jurnal/literatur yang relevan, dan untuk esai sepanjang 5000 kata saya mencari antara 20-25 literatur.

Menyortir literatur

Untuk mendapatkan literatur yang relevan, yang pertama-tama perlu dilakukan adalah memahami topik esai dan jenis esainya. Misalnya, apabila esai yang diminta berupa critical review terhadap suatu paper maka sebaiknya semua referensi yang ada di paper tersebut dibaca. Untuk menyortir literatur inilah kita perlu melatih keterampilan membaca cepat, karena tidak semua referensi akan digunakan. Saya setidaknya membaca abstrak, latar belakang, dan kesimpulan dari suatu paper. Jika paper tersebut saya anggap relevan barulah saya akan membacanya secara lebih dalam.

Baca dan (langsung) tulis

Pada awalnya saya memerlukan 1-2 hari untuk memahami jurnal yang hanya sebanyak 15-20 halaman (bandingkan dengan novel Harry Potter setebal 600 halaman yang bisa saya habiskan dalam 36 jam). Parahnya, setelah membaca jurnal yang lain, saya bisa melupakan sepenuhnya jurnal yang pertama saya baca! Karena itu saya putuskan untuk langsung menulis apapun yang saya pahami atau saya pikirkan sekaligus membuat daftar referensinya. Program Endnote sangat membantu dalam hal ini.

Pada umumnya setelah membaca separuh target literatur kita sudah bisa mulai menulis esai kita. Dalam proses penulisan saya seringkali mendiskusikan poin-poin pemahaman dan ide saya dengan teman sekelas, walaupun kami akan menulis esai dengan topik yang sama. Bagi saya, diskusi dengan teman sangat bermanfaat untuk men-challenge argumentasi yang akan saya ajukan dalam esai.

Take a break

Apabila draft tulisan sudah jadi, ada baiknya kita beristirahat untuk mengambil jarak dari tulisan kita itu. Ini diperlukan agar kemudian kita bisa melakukan review dengan lebih jernih dan obyektif. Refreshing ini juga diperlukan agar kita tetap sehat jasmani dan rohani, apapun bentuknya – olahraga/nonton TV/chatting/masak/tidur. Kalaupun waktu tidak memungkinkan untuk berlama-lama bersantai ria, sebaiknya kita mengerjakan tugas lain yang tidak bersinggungan dengan tugas pertama tadi. Untunglah bagi saya yang punya ‘pelarian’ mata kuliah lain yang mensyaratkan ujian dan bukannya membuat esai :).

Peringatan: bukan posisi terbaik untuk belajar
foto oleh Nurul Azizah

Review and rewrite (if necessary)

Draft yang awalnya tampak sudah sempurna seringkali terlihat kekurangannya setelah beberapa saat kemudian di-review. Kebanyakan kampus di Australia juga menyediakan academic skill advisor yang dapat membantu me-review esai mahasiswa. Namun jangan menunda hingga mendekati submission deadline untuk menemui advisor, karena biasanya saat-saat menjelang deadline pekerjaan si advisor sudah menumpuk dan bisa-bisa permintaan review Anda ditolak. Jangan sakit hati apabila sang advisor merombak sebagian besar esai Anda. Jika Anda men-save dan membandingkan draft esai sebelum dan sesudah perbaikan dari advisor, lama-lama Anda akan memahami apa-apa saja standar yang harus dipenuhi untuk bisa lolos dari screening academic skill advisor. Dengan melakukan hal-hal diatas, syukurlah nilai-nilai esai saya meningkat – walaupun kalau boleh memilih saya tetap akan memilih ujian dibandingkan menulis esai :p.

Peralatan “tempur” di ujian terakhir

Surviving assignments di masa kuliah memang butuh niat dan tenaga. Niat diperlukan untuk tetap fokus dan menghindari procrastination. Tenaga perlu dijaga agar kondisi tubuh tetap fit hingga semester berakhir. Untunglah masa-masa penuh cobaan itu sudah lewat :). Saat ini saya sudah kembali bekerja, dan kebetulan pekerjaan saya sedikit banyak mirip dengan apa yang saya lakukan di saat kuliah. But you know what? Nothing beats the feeling of relief from putting your assignment into the submission box and the celebration that comes afterward!

Badai (tugas) pasti berlalu. Semoga tulisan ini tidak menjadi disinsentif bagi yang ingin sekolah. Bagi pembaca yang masih berjuang, jaga kesehatan ya! Yang terakhir, buat yang sudah menyelesaikan kuliah – is it just me or do you miss your school days as well? 🙂